Breaking News

Nilai Tukar Rupiah

Rupiah Makin Anjlok Hari Ini 19 Mei 2026, Sentuh Rp 17.706, Anggota DPR Dorong Gubernur BI Mundur

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi, rupiah berada di level Rp 17.706 per dolar AS. Angka ini pun menjadi sejarah baru

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
Tribunnews.com
RAKER DPR - Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo (tengah) bersama Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti (kedua kiri), Deputi Gubernur Ricky P Gozali (kiri) Deputi Gubernur Aida S. Budiman (kedua kanan) dan Deputi Gubernur Thomas AM Djiwandono (kanan) mengikuti rapat kerja dengan Komisi XI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (18/5/2026). (TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN) 

TRIBUN-MEDAN.com - Tren melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terjadi.

Pada perdagangan Selasa (19/5/2026) pagi, rupiah berada di level Rp 17.706 per dolar AS, ambruk 36 poin atau 0,20 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Angka ini pun menjadi sejarah baru nilai tukar rupiah yang makin lemah.

Sementara mata uang Asia bergerak bervariasi. Yuan China naik 0,07 persen, peso Filipina menguat 0,04 persen, serta ringgit Malaysia terapresiasi 0,03 persen.

DPR Minta Gubernur BI Mundur

Pelemahan rupiah yang terus terjadi telah mendapat atensi dari DPR RI. 

Dalam rapat kerja DPR RI dengan Bank Indonesia (BI), Senin (18/5/2026), dorongan agar Gubernur BI Perry Warjiyo mengajukan pengunduran diri mulai disuarakan di Senayan.

Adalah anggota Komisi XI DPR Primus Yustisio yang secara lugas meminta Perry untuk mundur dari jabatannya, setelah nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang makin loyo.

Mulanya, Primus menyoroti anomali kondisi ekonomi Indonesia yang disebut mengalami pertumbuhan 5,61 persen akan tetapi nilai tukar rupiah terus anjlok.

"Yang berhubungan dengan tugas dan fungsi Bank Indonesia, itu anomali. Pertumbuhan ekonomi kita 5,61 persen, tetapi nilai tukar rupiah kita jeblok, bahkan sekarang ada di level rekor terendahnya terhadap dolar," kata Primus dalam ruang rapat, Senin.

Baca juga: Pernyataan Resmi TNI Ledakan di Gereja Katolik Stasi Santo Paulus, Diserang Bom Granat dari Drone

Tak hanya terhadap nilai tukar rupiah, Primus juga menyoroti makin merosotnya nilai IHSG di Indonesia.

Dia mengatakan, di saat seluruh negara sudah kembali rebound imbas perang Amerika Serikat-Israel terhadap Iran, Indonesia justru mengalami minus.

"Indeks kita juga habis Pak, merosot turun, di mana indeks seluruh dunia sejak perang tembak rudal itu tanggal 28 Februari, apa yang terjadi terhadap indeks dunia itu terjadi pada seluruhnya. Dan mereka sudah rebound, bahkan sudah plus, dan Indonesia saat ini masih minus lebih dari 20 persen," ucap dia.

Atas kondisi ini, politikus PAN tersebut menyatakan kalau sejatinya dunia internasional telah menyoroti kinerja dari BI yang merupakan bank sentral di Indonesia.

"Ini kan global mempertanyakan kualitas Bank Indonesia, bank sentral kita ini," ucapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved