Berita Viral

Lomba Cerdas Cermat MPR Diulang, SMAN 1 Pontianak tak Mau Ikut, Dampak Psikologis Kesalahan Juri

SMAN 1 Pontianak memilih tak ikut pengulangan final Lomba Cerdas Cermat tersebut.

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Salomo Tarigan
IST
VIRAL CERDAS CERMAT: Final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar untuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) viral karena kesalahan juri. Lomba akan diulang, tapi pesertta dari SMAN 1 Pontianak tidak mau lagi mengikuti pengulangan lomba 

TRIBUN-MEDAN.COM – Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) mengulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar untuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Pengulangan LCC sedang didiskusikan kapan jadwal ulang pelaksanaanya.

Namun, SMAN 1 Pontianak memilih tak ikut pengulangan final Lomba Cerdas Cermat tersebut.

 

Baca juga: Terungkap Peran Calon Istri Bandar Narkoba Ternyata Penghubung ke Perwira AKP Deky

Pernyataan sikap ini disampaikan SMAN 1 Pontianak sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen pada nilai-nilai integritas di dunia pendidikan.

MC DAN JURI - 3Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram
MC DAN JURI - 3Sosok Kontroversial Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar, MC Sindy, juri dari kepegawaian MPR Indri dan Dyastasita Buat Publik Geram (Tribun Medan Kolase)

SMAN 1 Pontianak juga menegaskan langkah yang mereka ambil sejauh ini adalah bentuk ikhtiar demi memperoleh klarifikasi, agar pelaksanaan lomba bisa lebih transparan, objektif, dan akuntabel.

Tidak ada juga maksud dari SMAN 1 Pontianak untuk menyerang pihak manapun.

"SMAN 1 Pontianak menyampaikan pernyataan sikap sebagai bentuk tanggung jawab moral dan komitmen terhadap nilai-nilai integritas dalam dunia pendidikan."

Baca juga: Bentuk Jaminan Sosial, BPJS Ketenagakerjaan Beri Santunan ke Ahli Waris Honorer Dishub Binjai

.

 

"Langkah yang diambil merupakan bagian dari ikhtiar untuk memperoleh klarifikasi demi terwujudnya pelaksanaan lomba yang transparan, objektif, dan akuntabel, tanpa adanya maksud untuk menyerang pihak mana pun," tulis SMAN Pontianak dalam pernyataan sikap yang diunggah melalui akun Instagram resminya, Kamis (14/5/2026).

Baca juga: Lomba Cerdas Cermat MPR Diulang, SMAN 1 Pontianak tak Mau Ikut, Dampak Psikologis Kesalahan Juri

Lebih lanjut SMAN 1 Pontianak memberikan apresiasi atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh berbagai pihak.

Dalam polemik pelaksanaan LCC Empat Pilar MPR tingkat Provinsi Kalbar ini, SMAN 1 Pontianak memilih untuk menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan sebelumnya.

SMAN 1 Pontianak juga mendukung sekolah yang menjadi perwakilan Kalimantan Barat untuk ikut

dalam LCC Empat Pilar MPR di tingkat nasional.

"Kami menyampaikan apresiasi atas perhatian dan dukungan berbagai pihak, serta menegaskan penghormatan terhadap hasil yang telah ditetapkan.

Dukungan penuh juga kami berikan kepada perwakilan Kalimantan Barat di tingkat nasional."

"Ke depan, kami berharap seluruh pihak dapat terus menjaga semangat kebersamaan, menjunjung tinggi nilai persatuan, serta bersama-sama menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan berintegritas," tambahnya.

 Jadwal Ulang

Sebelumnya MPR memutuskan untuk mengulang babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar untuk Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar).

Menurut Ketua MPR Ahmad Muzani, pihaknya masih mendiskusikan terkait jadwal tanding ulang tersebut.

"Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat yang final akan kita lakukan ulang dalam waktu yang segera akan diputuskan," katanya dalam konferensi pers di gedung parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (13/5/2026).

Muzani menegaskan juri sebelumnya tidak akan dilibatkan kembali.

Dia menyebut juri yang akan melakukan penilaian akan berasal dari pihak independen alih-alih dari pihak MPR.

Selain itu pimpinan MPR juga akan mengawasi langsung jalannya kompetisi LCC Empat Pilar Provinsi Kalbar.

"Pimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat akan mengawasi jalannya pertandingan tersebut dari awal sampai akhir," tuturnya.

Baca juga: Nasib Bripka Abu Bakar dan 2 Polisi Ditangkap Saat Pesta Narkoba di Rumah Warga

Lebih lanjut, Muzani berterimakasih kepada peserta dari SMAN 1 Pontianak yang telah

menggunakan haknya untuk mengajukan protes ketika ada keputusan juri yang dianggap merugikan.

Menurut Muzani sikap peserta ini menjadi contoh penerapan demokrasi yang baik.

"Kami akan terus melakukan evaluasi yang diadakan oleh MPR yang hari ini terus kami terima pandangan dari masyarakat.

Respons Federasi Guru 

Federasi Seluruh Guru Indonesia (FSGI) merespons rencana MPR RI untuk mengulang final Lomba
Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar di Kalimantan Barat.
MPR menyebut langkah tersebut sebagai upaya perbaikan dan menjaga kepercayaan publik.
Ketua Umum FSGI, Fahriza Marta Tanjung, menambahkan, pihak menolak gelaran LCC 4 pilar itu karena kesalahan juri seharusnya menjadi tanggung jawab penyelenggara.
Dikatakan, bukan dibebankan kepada peserta dengan cara mengulang kompetisi.
 
"Kesalahan juri tidak boleh dibebankan kepada peserta. Anak-anak sudah berjuang secara sportif dan hasil lomba seharusnya tetap dihormati," ujar Fahriza di Jakarta, Kamis (14/5).
 
Ditambahkan Ketua Dewan Pakar FSGI Retno Listyarti, pengulangan lomba bukan langkah tepat karena berpotensi psikologis pada peserta didik.
 
“Keputusan ini sekilas terlihat adil, tetapi justru dapat menjadikan anak-anak sebagai korban kebijakan,” ujar Retno.
 
FSGI menegaskan sejumlah alasan penolakan pengulangan, di antaranya: kemenangan peserta merupakan hasil kerja keras.

Kesalahan Juri Berdampak pada Psikologis

Walau SMAN 1 Sambas mungkin diuntungkan dengan ketidakcermatan dewan juri, namun itu bukan kesalahan peserta didik dari SMAN 1 Sambas ini, itu kesalahan Dewan Juri yang tidak profesional. 
"Jangan karena kesalahan dewan juri, anak-anak ini menjadi korban," ujar Fahriza.
Jika kecurangan dari peserta, maka langkahnya bukan diulang tapi peserta yang curang itu di diskualifikasi.
Di sisi lain, jika LCC 4 Pilar di Kalimantan Barat akan diulang, maka dapat dipastikan seluruh
peserta didik, semua sekolah harus mempersiapkan ulang dan bisa jadi yang menang
bukan SMAN 1 Sambas dan mungkin juga bukan SMAN 1 Pontianak. 
"Ada potensi dampak psikologis, beban biaya tambahan bagi negara dan sekolah, serta kemungkinan munculnya sengketa hukum," jelas dia.
FSGI meminta MPR untuk fokus pada evaluasi sistem dan perbaikan mekanisme penjurian agar kejadian serupa tidak terulang, bukan dengan mengulang lomba yang sudah selesai.
“Yang paling penting adalah memastikan kejadian ini tidak terulang kembali,” tegas Komisioner KPAI Periode 2017-2022 itu.

Tuai Kritik, Juri Belum Minta Maaf

Hingga saat ini, kedua dewan juri tersebut belum menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik.

Sikap diam kedua juri ini menuai kritik dari Pengamat Pendidikan, Indra Charismiadji.

Ia menilai sikap tersebut sebagai bentuk arogansi karena hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Indri Wahyuni maupun Dyastasita Widya Budi.

“Saya belum melihat dari para juri yang melakukan misalnya membuat pernyataan maaf secara resmi kan begitu.

Jadi sepertinya masih sangat arogan dengan keputusan mereka,” ucap Indra sebagaimana dikutip dari YouTube Kompas TV.

*/tribun-medan.com

Sumber: Kompastv/ Tribunnews

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

 

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved