Ketua MUI Medan Hasan Matsum Apresiasi Kerukunan Umat di Tiongkok

Ia juga menelaah metode pendidikan Islam yang dilakukan kepada para pemuda Islam Tiongkok di Xinjiang Islamic Institute.

Tayang:
Penulis: iin sholihin | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/iin sholihin
DOKUMENTASI - Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum mendokumentasikan dalam bentuk video saat satu di antara mahasiswa Xianjiang Islamic Institute membaca surah Al-Fatihah saat meninjau proses belajar di kampus, Rabu (13/05/2026). Delegasi asal Sumatera berisi ulama, akademisi dan tokoh masyarakat tengah berada di Tiongkok saat ini. 

Delegasi asal Sumut, Sumbar dan Aceh tengah berkunjung ke Tiongkok saat ini. Ulama Islam, akademisi dan tokoh masyarakat yang ikut di antaranya Ketua Umum Perhimpunan INTI dr Indra Wahidin, Ketua MUI Sumatera Utara Maratua Simanjuntak, Wakil Ketua Umum MUI Sumut HM Jamil, Ketua FKUB Sumut M Hatta Siregar, Ketua MUI Kota Medan Hasan Matsum, Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) Nurhayati, Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara Agussani, Ketua Yayasan Panca Budi Siti Khadijah, Perwakilan Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Panca Budi Ahmad Baqi Arifin, Ketua Muhammadiyah Aceh Abdul Malik Musa, serta Ketua Lembaga Kerapatan Adat Alam Minangkabau Sumatera Barat Fauzi Bahar.  

Xianjiang Islamic Institute berdiri megah di Kota Urumqi, Provinsi Xianjiang, Tiongkok. Fasilitasnya begitu lengkap. Ada kantin sekolah yang setiap harinya menyiapkan menu makanan sehat bagi mahasiswa. Tak perlu risau, mahasiswa ini mendapatkan jatah makan gratis dari negara. 

Mereka mendapatkan sekitar 900 Yuang setiap bulannya atau jika dirupiahkan, mereka mendapat uang bantuan sekitar Rp 2,2 juta dari negara setiap bulannya selama menuntut ilmu.

Demikian dengan tempat tinggal. Ada asrama dengan fasilitas memadai untuk mereka. Tempat tidur, meja belajar hingga pemanas ruangan disiapkan untuk mereka.

Perpustakaan mengoleksi ragam buku. Ada sekitar 75 ribu buku fisik serta lebih dari 32 ribu sumber buku elektronik. Koleksi tersebut mencakup bahasa Arab, Mandarin, Uyghur, Kazakh hingga Uzbek dengan materi terkait agama, sejarah, budaya dan hukum untuk mendukung kegiatan pendidikan dan penelitian.

Selain belajar tentang Islam, mahasiswa juga belajar mengenai hukum dan regulasi China, sejarah budaya China, psikologi serta pendidikan patriotisme.

President of Xianjiang Islamic Institute Muhatiremu Xirifu menyebut, lulusan nantinya akan mendapat pengakuan dari asosiasi Islam di berbagai daerah dan sebagian direkomendasikan menjadi imam maupun petugas masjid.

"Xinjiang merupakan wilayah multireligius dan pemerintah menjamin kebebasan beragama warga sesuai hukum, mendukung peningkatan fasilitas tempat ibadah serta terus mendorong pengembangan pendidikan agama dan pertukaran internasional," kata Muhatiremu Xirifu.

Muhatiremu Xirifu menjelaskan, di Xinjiang berkembang berbagai agama yakni Islam, Buddha, Taoisme, Katolik, Kristen dan Ortodoks.

(iin/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved