Berita Internasional

Mengejutkan Pengakuan Donald Trump, Presiden AS Dilaporkan Ingin Angkat Kaki dari Perang Iran

Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya perang Iran yang justru dipicu oleh operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

Namun kenyataan di lapangan berbeda jauh. Iran tidak runtuh hanya karena ancaman blokade dan pengerahan kapal induk.

Intelijen AS justru memperkirakan Teheran mampu bertahan setidaknya tiga hingga empat bulan ke depan.

Ekspektasi Washington yang mengira Iran akan tunduk hanya lewat tekanan diplomatik dan dokumen kesepakatan singkat ternyata tidak terbukti.

Baku tembak dan ketegangan di Selat Hormuz memperlihatkan bahwa Iran tidak bisa digertak hanya dengan draf satu halaman.

Dalam perspektif psikologi politik, perubahan sikap Trump memperlihatkan pola klasik seorang pemimpin populis: agresif saat membuka konflik, tetapi mulai mengambil jarak ketika biaya politik meningkat dan kemenangan cepat tak kunjung datang.

Ketika Harga BBM Mengalahkan Retorika Perang

Tekanan terbesar justru datang dari dalam negeri AS sendiri.

Setelah Iran membatasi lalu lintas di Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia, harga bensin nasional AS melonjak hingga 4,55 dolar AS per galon per Jumat (8/5/2026).

Kenaikan itu langsung memicu keluhan publik kepada Partai Republik. Para petinggi partai yang sebelumnya hanya khawatir kehilangan kursi DPR kini mulai takut dominasi mereka di Senat ikut runtuh.

Kesabaran disebut bukan merupakan kekuatan utama Trump.

Penasihat yang rutin berkomunikasi dengannya menyebut Trump kini "bosan" dengan perang tersebut, sementara pihak lain melihatnya frustrasi atas keteguhan sikap Iran.

Di saat bersamaan, biaya pengerahan armada militer juga terus membesar.

Jet tempur AS dan Israel yang sebelumnya disiagakan untuk menekan Iran kini justru menjadi simbol mahalnya konflik berkepanjangan tanpa hasil nyata.

Situasi itu membuat retorika kemenangan cepat semakin sulit dipertahankan.

Menanti 'Kado' untuk Xi Jinping

Perubahan nada bicara Trump juga dinilai berkaitan dengan agenda geopolitik yang lebih besar, terutama rencana pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden China Xi Jinping dalam waktu dekat.

Trump diperkirakan ingin datang ke meja perundingan bukan sebagai pemimpin yang gagal mengendalikan perang, melainkan sebagai tokoh yang memilih “fokus pada prioritas lain”, terutama perdagangan dan stabilitas ekonomi global.

Sumber: Tribunnews
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved