Berita Internasional

Alotnya Proses Gencatan Senjata AS dan Iran, Trump Sebut Proposal dari Teheran Tak Masuk Akal

Trump bahkan menyebut tuntutan yang diajukan Teheran sebagai sesuatu yang “sangat tidak bisa diterima”.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Alot. Begitulah kondisi yang menggambarkan situasi terkini proses gencatan senjata antara Amerika Serikat dengan Iran.

Upaya diplomasi untuk meredakan konflik di kawasan Teluk Persia kembali menghadapi hambatan setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menolak proposal balasan Iran terkait gencatan senjata

Trump bahkan menyebut tuntutan yang diajukan Teheran sebagai sesuatu yang “sangat tidak bisa diterima”.

Penolakan tersebut memperpanjang ketidakpastian di Selat Hormuz yang selama beberapa pekan terakhir menjadi pusat ketegangan global.

Konflik yang terus berlanjut disebut telah mengganggu jalur pelayaran internasional dan memicu kenaikan harga energi dunia.

Penolakan ini menjadi pukulan telak bagi upaya resolusi konflik di Selat Hormuz yang telah melumpuhkan jalur pengiriman global serta memicu lonjakan harga energi dunia.

PRESIDEN AS- Gambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
PRESIDEN AS- Gambar Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (Pinterest)

Apa isi tuntutan Iran?

Berdasarkan laporan televisi pemerintah Iran, Teheran menganggap proposal AS sebagai bentuk penyerahan diri.

Sebagai gantinya, melalui mediator Pakistan, Iran mengajukan sejumlah syarat mutlak untuk mengakhiri perang secara permanen.

Dilansir dari AP News, syarat-syarat tersebut meliputi:

  • Pembayaran ganti rugi perang oleh pihak Amerika Serikat.
  • Kedaulatan penuh Iran atas wilayah strategis Selat Hormuz.
  • Pengakhiran seluruh sanksi ekonomi.
  • Pelepasan aset-aset Iran yang disita oleh AS.

Padahal, proposal terbaru dari Washington bertujuan untuk mengakhiri konfrontasi militer, membuka kembali jalur pelayaran internasional, serta membatasi program nuklir Iran.

Menanggapi sikap Teheran, Trump menuduh Iran tidak serius dalam bernegosiasi.

“Mereka tidak akan tertawa lagi!” tulis Trump, seraya menambahkan bahwa Teheran telah “bermain-main” dengan AS selama hampir 50 tahun.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan bahwa pemerintah tetap mengedepankan jalur diplomasi sebelum kembali ke opsi militer penuh.

“Trump memberikan diplomasi setiap kesempatan yang mungkin kami bisa sebelum kembali ke permusuhan,” ujar Waltz kepada ABC.

Perintah baru dari Mojtaba Khamenei

Di sisi lain, Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, dilaporkan telah muncul untuk pertama kalinya sejak perang pecah pada 28 Februari lalu.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved