Berita Internasional

Mengejutkan Pengakuan Donald Trump, Presiden AS Dilaporkan Ingin Angkat Kaki dari Perang Iran

Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya perang Iran yang justru dipicu oleh operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.

Tayang:
TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengejutkan publik internasional.

Kali ini bukan lewat ancaman serangan baru atau pernyataan keras terhadap Iran, melainkan pengakuan bahwa dirinya mulai “bosan” dengan konflik yang sedang berlangsung di Teluk Persia.

Pernyataan itu muncul di tengah memanasnya perang Iran yang justru dipicu oleh operasi gabungan AS-Israel sejak 28 Februari lalu.

Dalam laporan The Atlantic yang dikutip Yahoo News, seorang penasihat Trump menyebut sang presiden mulai frustrasi karena perang tidak berjalan sesuai rencana awal.

"Trump tidak pernah menyangka akan menjadi seperti ini," tulis laporan tersebut.

DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE)
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pidato kenegaraan State of the Union, Selasa (24/2/2026). (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) (Istimewa)

Kalimat itu menjadi titik balik penting.

Hanya dalam hitungan hari, operasi militer yang sebelumnya digambarkan sebagai “Operasi Pembersihan” berubah menjadi tekanan politik dan ekonomi bagi Washington sendiri

Di balik narasi “bosan”, banyak analis melihat adanya sinyal bahwa Gedung Putih mulai menyiapkan jalan keluar darurat dari konflik Hormuz.

Terutama setelah eskalasi di Selat Hormuz memicu lonjakan harga energi global dan tekanan domestik terhadap Partai Republik.

Sebuah Blunder Strategis?

Pernyataan Trump dinilai sebagai pengakuan langka mengenai salah hitung dalam membaca Iran.

Berdasarkan laporan tersebut, Trump sebelumnya percaya bahwa Iran dapat ditekan secepat operasi AS di Venezuela.

Pada Januari lalu, ia mengizinkan operasi militer untuk menculik Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores.

Operasi itu dianggap berhasil karena tidak ada korban dari pihak tentara AS.

Keberhasilan tersebut membentuk keyakinan Trump bahwa pendekatan tekanan militer cepat bisa kembali diulang terhadap Iran.

Bahkan, Trump sempat sesumbar kepada orang-orang terdekatnya bahwa Iran akan menjadi "Venezuela yang lain".

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved