Berita Viral

Doktrin Kiai Ashari Rayu Santriwati di Pati, Para Korban Tak Berdaya: Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan

Modus tersebut disebut dilakukan agar korban menuruti keinginan pelaku tanpa berani melawan.

Tayang:
Youtube
KIAI CABUL DI PATI: Salah satu santriwati (kiri) mengurai pengakuan mengejutkan soal modus kiai cabul di Pati bernama Ashari (kanan). Korban mengaku disuruh tidur bareng pelaku. 

TRIBUN-MEDAN.com - Kedok Ashari, pengasuh Pondok Pesantren Ndhoro Kusumo di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, akhirnya mulai terungkap ke publik.

Di balik sosoknya sebagai pemimpin pesantren, Ashari diduga menggunakan doktrin agama dan ancaman spiritual untuk memanipulasi para santriwati.

Modus tersebut disebut dilakukan agar korban menuruti keinginan pelaku tanpa berani melawan.

Salah satu orang tua korban berinisial H mengungkapkan, pelaku menanamkan doktrin ketaatan mutlak kepada para santri sejak tahun 2020 hingga 2024.

Para korban disebut dipaksa percaya bahwa menolak perintah seorang guru atau kiai merupakan tindakan melawan Tuhan.

Menurut H, anak-anak dibuat takut dengan keyakinan bahwa membantah pelaku akan dianggap sebagai dosa besar.

KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan.
KIAI PATI CABUL - Ashari, kiai pondok pesantren di Pati tersangka pencabulan 50 santriwati belum ditahan, diduga kabur dan mangkir demi hindari pemeriksaan. (IST)

Tidak hanya itu, Ashari juga diduga menggunakan narasi mistis untuk membenarkan tindakan tidak pantas yang dilakukannya.

Kepada para santri, pelaku disebut mengklaim bahwa seluruh tindakannya berasal dari “perintah alam gaib” sehingga harus dipatuhi meski mengarah pada hal negatif.

Dugaan manipulasi psikologis dan spiritual tersebut kini menjadi perhatian serius dalam pengusutan kasus pencabulan yang menyeret nama pengasuh pesantren itu.

Polisi pun masih terus mendalami keterangan para korban dan saksi guna mengungkap seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi di lingkungan ponpes tersebut.

Doktrin "Lawan Guru Berarti Lawan Tuhan"

Berdasarkan pengakuan anaknya dan para santri lain, pelaku menanamkan rasa takut yang luar biasa melalui doktrin ketaatan buta.

Korban dipaksa percaya bahwa menolak kemauan pelaku adalah dosa besar.

“Anak-anak didoktrin kalau apa pun yang dilakukan kiai harus dituruti. Kalau murid berani melawan guru, berarti melawan Allah,” ujar H saat memberikan keterangan di Semarang, Jumat (8/5/2026).

Tak hanya itu, Ashari menggunakan narasi mistis untuk melegitimasi tindakannya.

Pelaku menyebut bahwa perlakuan tidak wajar tersebut merupakan instruksi dari alam lain.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved