Berita Viral
GELAP Mata Aniaya Mertua Hingga Tewas, Satuan Nangis Curhat tak Dihargai Hingga Duga Istri Selingkuh
Sang istri hanya bersedia mengurus anak apabila kebutuhan rumah tangga terpenuhi seluruhnya, termasuk biaya belanja
TRIBUN-MEDAN.com - Gelap mata aniaya mertua hingga tewas, Satuan nangis curhat tak dihargai.
Selai itu ia juga menduga sang istri selingkuh.
Satuan alias Tuan (42) diamankan Satreskrim Polres Mojokerto usai menganiaya istri dan mertuanya.
Baca juga: Gagal Masak, Warga di Medan Area Kaget Meteran Gas ternyata Dicuri Pecandu Narkoba Untuk Beli Sabu
Sang istri dilarikan ke rumah sakit sementara mertuanya tewas.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai badut penjual balon dan mainan anak-anak itu kini tak kuasa menahan air mata.
Ia menyesal dan pilu mengingat nasib anak-anaknya.
Baca juga: Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki, AKBP Erlichson Pasaribu: 2 WN Singapura dan 1 Warga Ternate
Peristiwa tragis itu terjadi di rumah kontrakan yang baru dihuni sekitar delapan bulan di Dusun Sumbertempur RT 02 RW 01, Desa Sumbergirang, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur (Jatim) pada Rabu (6/5/2026) pagi.
Tersangka mengaku gelap mata akibat persoalan rumah tangga yang disebut sudah lama dipendam.
Cemburu dan Merasa Tak Dihargai
Di hadapan penyidik, tersangka mengaku sakit hati karena menduga istrinya, Sri Wahyuni (35), berselingkuh. Ia juga merasa diperlakukan tidak semestinya oleh keluarga sang istri.
"Istri saya selingkuh Pak Polisi, sebenarnya saya sudah tahu sejak lama cuma saya ikuti alurnya. Tapi semakin dibiarin malah seperti itu," ujar tersangka S sambil menangis di Polres Mojokerto, Jumat (8/5/2026).
Tersangka mengaku, selama ini bekerja keras demi keluarga dengan menjadi badut jalanan di sepanjang jalur Bangsal-Mojosari.
Baca juga: Erupsi Gunung Dukono Tewaskan 3 Pendaki, AKBP Erlichson Pasaribu: 2 WN Singapura dan 1 Warga Ternate
Bahkan, ia kerap berjalan kaki sambil mendorong sepeda pancal sejauh puluhan kilometer sambil membawa anaknya yang masih berusia 3,5 tahun.
"Kok nggak lihat saya kerja, bawa anak kecil hujan-hujanan sampai panas kepanasan. Saya sering jalan dari Mojosari sampai ke rumah, anak juga ikut karena tidak ada yang merawat," ucapnya.
Menurut pengakuannya, sang istri hanya bersedia mengurus anak apabila kebutuhan rumah tangga terpenuhi seluruhnya, termasuk biaya belanja hingga kebutuhan pribadi.
Baca juga: Kejaksaan Negeri Simalungun Lelang Tanah Sitaan dari Kasus Korupsi BSM
"Dia mau momong kalau kebutuhan terpenuhi semuanya, seperti uang belanja sendiri dan uang sekolah, uang dandan. Sedangkan seperti saya ini penghasilan tidak tentu," katanya.
Penghasilan Badut Tak Menentu
Tersangka menyebut penghasilannya sebagai badut penjual balon dan pengamen lampu merah sangat tidak stabil. Dalam sehari, ia terkadang hanya membawa pulang Rp 4 ribu hingga Rp 25 ribu.
Namun pada momen tertentu, terutama saat ramai, penghasilannya bisa mencapai Rp 300 ribu hingga Rp 400 ribu sehari.
"Kalau Minggu berangkat dari rumah pukul 5 pagi pulang jam 10 malam," ungkapnya.
Ia juga mengaku sakit hati karena kerap dibanding-bandingkan soal penghasilan oleh istrinya.
"Sering bilang koyomu karo koyoku gak onok opo-opo e (Penghasilanmu dengan penghasilanku tidak ada apa-apanya)," kata tersangka.
Artikel ini telah tayang di Surya.co.id
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Berawal-dari-Paket-COD-Mertua-Tewas-di-Tangan-Menantunya-Pelaku-Aniaya-Istri-Lalu-Dikunci.jpg)