Berita Viral

PRABOWO Belanja Jet Tempur Tanpa Awak Buatan Turki Disorot Malaysia: Beralih ke Teknologi Siluman

Indonesia membeli pesawat jet tempur  Bayraktar KIZILELMA buatan Turki. Malaysia sebagai negara paling dekat turut menyorot Indonesia. 

Tayang:
Turkish Aerospace Industries via armyrecognition
JET TEMPUR- Indonesia membeli pesawat jet tempur  Bayraktar KIZILELMA buatan Turki.  

TRIBUN-MEDAN.com - Pemerintah Indonesia yang membeli sejumlah pengadaan pesawat tempur tanpa awak (UCAV) mendapatkan sorotan dunia. 

Indonesia membeli pesawat jet tempur  Bayraktar KIZILELMA buatan Turki. 

Malaysia sebagai negara paling dekat turut menyorot Indonesia. 

Menurut Malaysia, Indonesia mulai perlahan memperkuat pertahanan dengan teknologi siluman (stealth).  

Kontrak ekspor jet tempur ini ditandatangani oleh raksasa dirgantara Turkiye, Baykar, dengan perusahaan pertahanan dalam negeri, PT Republik Aero Dirgantara. 

Penandatanganan dilakukan di sela-sela pameran kedirgantaraan internasional SAHA 2026 di Istanbul, yang memposisikan Jakarta sebagai pelanggan ekspor pertama di dunia untuk platform KIZILELMA.

Dalam kesepakatan awal ini, Indonesia akan mengakuisisi satu skadron pertama yang terdiri dari 12 unit pesawat dengan jadwal pengiriman mulai tahun 2028. 

Namun, kerja sama ini memiliki visi jangka panjang yang jauh lebih besar, yakni opsi penambahan hingga total 60 unit yang akan disebar ke lima wing operasional di seluruh wilayah tanah air.

CEO Baykar, Haluk Bayraktar, menegaskan bahwa kerja sama ini bukan sekadar jual-beli alutsista biasa, melainkan kemitraan strategis yang mendalam. 

"Kami telah menandatangani perjanjian ekspor pertama untuk Bayraktar KIZILELMA dengan Indonesia, yang tidak hanya berfokus pada pasokan sistem tetapi juga pendirian pusat produksi dan pemeliharaan lokal," ujar Haluk dalam upacara penandatanganan tersebut.

Baca juga: Lirik Lagu Karo Rende Janah Ergitar Dipopulerkan oleh Harto Tarigan

Baca juga: Lirik Lagu Karo Medan Jakarta Bandung Dipopulerkan oleh Harto Tarigan

Senada dengan Haluk, Chairman Republikorp Group, Norman Joesoef, menekankan urgensi strategis dari kemitraan bernilai miliaran dolar ini bagi kedaulatan Indonesia.

"Kesepakatan ini mengamankan peran Indonesia sebagai pusat kedirgantaraan utama di kawasan Indo-Pasifik," ungkap Norman, menyoroti posisi tawar Indonesia yang semakin kuat.

Langkah berani ini dipandang sebagai lompatan besar dalam memenuhi kekuatan pokok minimum (MEF) TNI Angkatan Udara. 

Dengan mengintegrasikan drone siluman berkecepatan Mach 0,9, Indonesia berhasil melompati para pesaing regional dalam penguasaan ekosistem tempur tanpa awak yang canggih dan berlapis.

Spesifikasi

Secara teknis, hadirnya KIZILELMA merupakan perubahan radikal bagi doktrin udara Indonesia yang selama ini mengandalkan drone bermesin baling-baling seperti Bayraktar TB2. 

Sebagai perbandingan, KIZILELMA memiliki bobot lepas landas maksimal 8.500 kg dengan kapasitas angkut senjata mencapai 1.500 kg, setara dengan pesawat tempur ringan berawak.

Desain badan pesawat yang rendah pantulan radar (low RCS) dan ruang senjata internal memungkinkan drone ini menembus sistem pertahanan udara lawan yang sangat ketat. 

Hal ini menjadikan KIZILELMA sebagai aset utama pada hari-hari pertama konflik untuk melumpuhkan ancaman tanpa harus mempertaruhkan nyawa pilot.

Kemampuan operasional drone ini juga sangat mumpuni untuk menjaga wilayah kepulauan Indonesia yang luas. 

Dengan ketinggian terbang hingga 45.000 kaki dan radius tempur 500 mil laut, TNI AU memiliki jangkauan yang cukup untuk memantau perbatasan terluar hingga zona ekonomi eksklusif yang sering dipersengketakan.

Teknologi radar AESA yang disematkan memastikan operator drone dapat mendeteksi dan melacak banyak target di udara maupun di laut secara bersamaan. 

Keunggulan informasi ini sangat krusial untuk menghadapi penyusupan kapal asing atau ancaman udara di wilayah Natuna Utara dan sekitarnya.

Salah satu fitur paling revolusioner dari KIZILELMA adalah kemampuannya menjalankan doktrin "Loyal Wingman" atau pengawal setia. 

Dalam konsep ini, drone siluman tersebut akan terbang mendampingi pesawat tempur berawak masa depan Indonesia, seperti jet tempur siluman KAAN yang juga dikembangkan bersama Turkiye.

Melalui sistem kerja sama antara pesawat berawak dan tanpa awak (MUM-T), seorang pilot manusia dapat mengendalikan beberapa drone KIZILELMA sekaligus. 

Drone-drone ini bisa berfungsi sebagai sensor depan atau pembawa rudal tambahan, sehingga pesawat berawak yang lebih mahal tetap berada dalam jarak aman dari serangan musuh.

Dukungan kecerdasan buatan

Kecanggihan drone ini juga terlihat pada sistem lepas landas dan mendarat yang sepenuhnya otomatis dengan dukungan kecerdasan buatan (AI).

Hal ini memungkinkan frekuensi penerbangan yang lebih tinggi selama situasi krisis tanpa membebani logistik dan personil pendukung secara berlebihan di lapangan.

Pembangunan fasilitas pemeliharaan, perbaikan, dan pemeriksaan (MRO) di Indonesia juga menjamin kedaulatan teknologi nasional. 

Dengan memiliki bengkel sendiri, Indonesia tidak akan bergantung pada rantai pasok luar negeri atau intervensi asing jika sewaktu-waktu terjadi embargo atau konflik aktif.

Dampak ekonomi dari lini produksi lokal ini diperkirakan akan menciptakan lapangan kerja berteknologi tinggi di sektor kedirgantaraan nasional. 

Selain itu, fasilitas di Indonesia ini diproyeksikan menjadi pusat dukungan regional bagi pengguna drone Bayraktar lainnya di Asia Tenggara, seperti TB3 dan AKINCI.

Daya Gentar

Kehadiran armada drone siluman dalam jumlah besar ini diyakini akan memaksa negara-negara tetangga untuk menghitung ulang strategi pertahanan udara mereka. 

Indonesia kini memiliki alat pencegahan (deterrence) yang sangat kredibel untuk menghadapi dinamika keamanan di Laut China Selatan yang kian memanas.

Jika seluruh opsi 60 unit pesawat terpenuhi, Indonesia akan memiliki armada pesawat tempur tanpa awak siluman terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2030. 

Ini bukan sekadar modernisasi militer, melainkan transformasi total menuju pertahanan pintar yang efisien.

Melalui integrasi "Apel Merah" (arti dari KIZILELMA) ke dalam jajaran alutsistanya, Indonesia secara tegas menunjukkan posisinya di panggung global. Indonesia tidak lagi sekadar menjadi pembeli, melainkan kekuatan kedirgantaraan baru yang sedang bangkit di belahan bumi selatan.

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribunnews.com

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved