Berita Viral

DUDUNG Abdurachman Tanggapi Tudingan Amien Rais ke Seskab Teddy: Adik Saya Sopan Banget Dia

Tudingan politisi Amien Rais dinilai sebuah penyebaran berita bohong dan penecemaran nama baik.

Tayang:
Kompas.com
DUDUNG DILANTIK - Eks KSAD Jenderal (Purn) Dudung Abdurachman saat ditemui di Istana, Jakarta, Senin (27/4/2026). Dudung dilantik jadi Kepala Staf Presiden (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA) 

TRIBUN-MEDAN.com - Tudingan politisi Amien Rais dinilai sebuah penyebaran berita bohong dan penecemaran nama baik. 

Amien Rais menuding Seskab Teddy Indra Jaya sebagai penyuka sesama jenis. 

Dalam videonya yang disiarkan di YouTubenya, Amien Rais meminta Presiden Prabowo menjauhi Teddy. 

Ia juga meminta agar Prabowo menghentikan Teddy dari jabatan Sekretaris Kabinet (Seskab).

Tudingan ini turut mendapatkan sorotan dari Kepala Dudung AbdurachmanKantor Staf Presiden (KSP) Dudung Abdurachman

Dudung memastikan bahwa apa yang dituding oleh Amien Rais tidak benar. 

Ia menyebut bahwa Teddy adalah anak yang sopan. 

Ucapan Amien Rais disebut sebagai fitnah dan provokasi tak berdasar.

Dudung mengaku mengenal dekat sosok Teddy dan menjamin integritas yang bersangkutan.

"Mari kita sama-sama, tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi saling curiga, saling memfitnah, ya. Seperti yang kemarin Pak Amien Rais juga, aduh, sudahlah. Saya tahu persis bagaimana Teddy, adik saya itu, sopan banget dia," ujar Dudung saat ditemui di Kantor KSP, Senin (5/52026).

Dudung menyayangkan sikap Amien Rais yang menurutnya tidak mencerminkan nilai-nilai agama dalam melontarkan pernyataan.

Ia menilai tuduhan tersebut sangat jauh dari fakta di lapangan.

"Kemudian kalau ada tuduhan-tuduhan itu kan fitnah. Katanya dia bisa dikatakan sangat dekat dengan agama, tapi pernyataan-pernyataannya menurut saya itu tidak benar dan bahkan memprovokasi," lanjutnya.

Baca juga: BPS Rilis Data Statistik, Pertumbuhan Ekonomi Meningkat dan Angka Pengangguran Menurun

Baca juga: BPS Rilis Data Statistik, Pertumbuhan Ekonomi Meningkat dan Angka Pengangguran Menurun

Mengenai adanya dorongan agar pihak kepolisian mengusut pernyataan Amien Rais tersebut, Dudung menyerahkan sepenuhnya pada prosedur hukum yang berlaku.

Ia mengaku tidak menaruh simpati pada gaya politik yang bersifat menakut-nakuti.

"Ya, coba saja suruh minta dia, ya. Coba saja dia suruh minta. Sesuaikan saja prosedur. Coba saja kalau misalnya memang itu, jangan hanya nakut-nakutin saja, ya. Jangan hanya memprovokasi. Ya, terus terang saja saya enggak simpati dengan pernyataan dia," tegas Dudung.

Ia mengimbau agar para tokoh bangsa lebih fokus pada upaya menjaga stabilitas nasional daripada menyebarkan narasi yang memicu perpecahan.

Terlebih, saat ini Indonesia tengah menghadapi tantangan global di bidang ekonomi dan hukum.

Sebelumnya, Amien Rais dalam video yang beredar luas melontarkan kritik terhadap kedekatan Presiden Prabowo Subianto dengan Teddy Indra Wijaya.

Dalam pernyataannya, ia mengaitkan isu tersebut dengan aspek moralitas dan menilai hubungan tersebut telah melampaui batas profesionalitas.

Sosok Amien Rais

Pria bernama lengkap Muhammad Amien Rais ini lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 26 April 1944.

Ia dikenal sebagai tokoh Muhammadiyah serta pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Ummat.

Amien Rais bukanlah orang sembarangan. Ibunya, Sudalmijah Suhud Rais, aktif di Muhammadiyah cabang Surakarta sebagai Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Surakarta pada 1942-1952.

Ayah lima anak itu mengenyam pendidikan S1 di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ia sempat berkelana ke sejumlah negara dan baru pulang pada tahun 1984, membawa gelar magister (1974) dari Universitas Notre Dame, Indiana, AS, serta gelar doktor ilmu politik dari Universitas Chicago, Illinois, AS.

Setelah itu, Amien Rais menjadi dosen di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Nama Amien Rais mulai dikenal saat ia memasuki dunia politik.

Ia menyoroti berbagai kebijakan pemerintah menjelang runtuhnya rezim Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto.

Amien kemudian mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN) pada 1998.

Meski perolehan PAN pada Pemilu 1999 kurang memuaskan, Amien Rais tetap berhasil meraih kursi di MPR RI.

Usai menjabat sebagai Ketua MPR RI, Amien Rais mencalonkan diri sebagai Presiden RI bersama Siswono Yudo Husodo pada Pilpres 2004, namun ia gagal lantaran hanya memperoleh kurang dari 15 persen suara.

Pada 2021, mantan Besan Zulkifli Hasan itu membentuk Partai Ummat bersama beberapa tokoh politik dan para pendukungnya.

Amien Rais menjabat sebagai Ketua Majelis Syuro di partai tersebut.

Ia menyatakan keluar dari PAN lantaran partai yang ia dirikan itu sudah tidak sesuai dengan asas dan gagasannya seperti dulu.

Selama berkiprah di dunia politik, Amien Rais kerap melontarkan sejumlah pernyataan dan sikap yang kontroversial.

Kontroversi Amien Rais

Amien Rais dikenal kerap menyampaikan kritik pedas dengan ungkapan-ungkapan tajam dalam dinamika politik Indonesia.

Pada 2018, Amien Rais pernah mengelompokkan partai ke dalam dua kubu, yakni Hizbullah (Partai Allah) yang membela agama Allah, di mana ia mengasosiasikan PAN, PKS, Gerindra, dan Hizbusy Syaithan (Partai Setan) untuk kelompok yang anti-Tuhan.

Pernyataan tersebut lantas menuai kritik tajam dari berbagai elemen.

Amien Rais kemudian mengklarifikasi bahwa itu adalah cara berpikir dan bukan bagian dari aktivitas politik praktis.

Meski begitu, penjelasan itu tetap menuai kritik luas dan Amien Rais dianggap melakukan ujaran kebencian.

Amien Rais juga pernah menyebut Indonesia sebagai bangsa yang "pekok" atau bodoh.

Ia menilai negara ini tidak mampu mengelola sumber daya alamnya sendiri dan tunduk pada undang-undang (UU) yang dianggap pro-asing.

Pada Pemilu 2019, Amien Rais meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar tidak menggelar rekapitulasi suara di Hotel Borobudur, Jakarta.

Hal ini dikarenakan, pada Pilpres 2014 lalu, KPU juga melaksanakan rekapitulasi di hotel tersebut.

"Selain DPT harus segera dibenahi, besok perhitungan hasil pemilu jangan pernah di Hotel Borobudur," kata Amien Rais seusai diskusi masalah Daftar Pemilih Tetap, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (26/3/2019).

Alasannya, menurut mantan anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno itu, di Hotel Borobudur banyak jin dan genderuwonya.

Selain itu, kata Mantan Ketua MPR itu, di hotel yang terletak di Jakarta Pusat tersebut, banyak peretas alias hacker.

"Mereka banyak jin, banyak genderuwo di sana. Sekali-kali jangan di Hotel Borobudur, banyak sekali hacker," tuturnya.

Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Amien Rais sering memberikan pernyataan yang kontroversial.

Bahkan ia menyebutnya sebagai "rezim Jokowi-Luhut" yang dinilai ugal-ugalan.

Tak sampai di situ, Amien Rais juga pernah menyebut Jokowi sebagai dalang di balik insiden kecelakaan yang dialami oleh putra sulungnya, Ahmad Hanafi Rais, yang terjadi pada 18 Oktober 2020 lalu.

Pernyataan itu disampaikan Amien Rais kanal YouTube miliknya. 

“Keluarga saya termasuk yang dizalimi oleh Jokowi. Anak sulung saya, Ahmad Hanafi Rais, oleh rezim Jokowi, pernah mau dibunuh dengan ploting yang cukup rapi,” ujar Amien.

Amien Rais pun menyebut kala itu Hanafi tengah melakukan perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta.

Namun, disebut-sebut terdapat kejanggalan karena mobil Hanafi diikuti oleh pengendara mobil tak dikenal.

“Bila mobil Hanafi berjalan cepat, dua sedan misterius itu juga berjalan cepat. Bila mobil Hanafi pelan, dua sedan itu juga ikut pelan. Rupanya, di Tol Cipali, km 112 sudah menunggu dua truk besar yang siap menyergap mobil Hanafi. Tentu dua sedan yang dinaiki oleh manusia Iblis itu, sudah berkomunikasi dengan manusia iblis yang lain yang mengendarai dua truk besar dan siap membunuh anak sulung saya,” ujar Amien. 

Namun, tidak terdapat bukti yang meyakinkan bahwa Jokowi merupakan dalang di balik kecelakaan tersebut.

Amien Rais juga pernah menuding Jokowi sebagai perencana penembakan yang menyasar pada dirinya.

Ia menyebut bahwa upaya teror penembakan itu dialaminya pada 2014 silam.

Saat itu Amien mengatakan bahwa mobil miliknya sempat ditembak oleh orang tak dikenal (OTK).

Ia menuduh Jokowi menjadi otak adanya teror penembakan tersebut.

Amien menyampaikan, penembakan tersebut dilakukan dalam rangka untuk mempermalukan dirinya.

Sosok yang dituding akan mempermalukannya adalah Jokowi.

"Kalau membunuh saya (Jokowi) mungkin masih pikir-pikir, jadi saya mau dipermalukan. Caranya dia kirim seorang anak muda di malam hari untuk menembak tangki mobil saya supaya ledakan dan kebakaran hebat agar orang sekampung geger," katanya, dikutip dari kanal YouTube miliknya, Selasa (1/7/2025).

Di sisi lain, penembakan terhadap mobil Amien terjadi pada 6 November 2014 di kediamannya di Condong Catur, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta.

Mantan Wakil Ketua Umum PAN, Drajad Wibowo menjelaskan, menurut keterangan dari satpam rumah, pelaku langsung kabur setelah melakukan penembakan dengan mengendarai sepeda motor.

Selain itu, nama Amien Rais juga sempat disebut oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK dalam persidangan tindak pidana korupsi alat kesehatan (alkes) terhadap mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Siti Fadilah Supari pada 2017.

Disebutkan bahwa rekening Amien Rais menerima transfer uang sebesar Rp 600 juta secara bertahap pada tahun 2007.

Dana tersebut diduga berasal dari PT Mitra Medidua (suplier Alkes) yang disalurkan melalui rekening Yayasan Sutrisno Bachir Foundation (SBF).

Namun, tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa Amien Rais menerima uang tersebut dan ia tidak ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Harta kekayaan
Amien Rais saat ini bukan merupakan penyelenggara negara, sehingga ia tidak wajib mengunggah LHKPN terbaru.

Artinya, tidak ada laporan kekayaan resmi atas namanya di situs KPK untuk saat ini.

Satu-satunya catatan kekayaan Amien Rais berasal dari laporan tahun 2001, saat masih menjabat sebagai Ketua MPR RI.

Saat itu ia memiliki Harta Kekayaan mencapai Rp1,01 miliar.

Berikut rinciannya:

A. Tanah/bangunan: Rp 186,2 juta

Amien Rais punya dua properti di Sleman dan Yogyakarta

B. Alat Transportasi: Rp 243 juta

(*/tribun-medan.com)

Artikel sudah tayang di tribun-jatim

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved