Perang AS dan Israel vs Iran

Trump Sebut Ekonomi Iran Kolaps, Mata Uang Rial Anjlok & Inflasi Tinggi, Warga Kehilangan Pekerjaan

Nilai tukar mata uang Iran, Rial, kembali mencatatkan titik terendah sepanjang sejarah terhadap dollar AS.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/X
Serangan AS-Israel di Kota Teheran, Iran, beberapa waktu lalu. Presiden AS Donald Trump menyebutkan ekonomi Iran kini dalam keadaan kolaps. 

“Iran baru saja memberitahu kami bahwa mereka berada dalam ‘Keadaan Kolaps’. Mereka ingin kami membuka Selat Hormuz sesegera mungkin,” tulis Trump dalam unggahan melalui platform media sosial miliknya, Truth Social, pada Selasa (28/4/2026) waktu setempat.

Di sisi lain, ketegangan di kawasan Selat Hormuz turut memperburuk situasi. 

Menurut Trump, Iran bahkan meminta agar akses di Selat Hormuz dibuka kembali untuk membantu meredakan tekanan yang mereka hadapi.

Diketahui, AS melakukan blokade di Selat Hormuz setelah Iran lebih dulu menerapkan blokade dan memberlakukan tarif tol terhadap kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Adapun blokade AS menyasar kapal-kapal yang terkait dengan semua pelabuhan Iran. Sejumlah kapal Iran juga telah disita oleh pasukan Marinir AS.

Stok Minyak Berlimpah karena Tak Terjual

Selain itu, Iran tengah menghadapi lonjakan stok minyak yang tak terserap pasar akibat blokade AS yang menghambat ekspor. Blokade yang diberlakukan AS sejak 13 April membuat ekspor minyak Iran merosot tajam, menurut laporan The Wall Street Journal, Senin (27/4/2026). 

Data Kpler menunjukkan, pengapalan minyak mentah dan kondensat Iran turun dari rata-rata 2,1 juta barrel per hari pada 1–13 April menjadi hanya 567.000 barrel per hari antara 14–23 April. 

Sebelum konflik, tepatnya pada Februari, Iran masih mampu mengekspor sekitar 2 juta barrel per hari. Kini, dengan akses terbatas ke kapal tanker, minyak yang tak bisa dikirim keluar negeri terus menumpuk di dalam negeri. 

Untuk menghindari krisis infrastruktur, Iran mulai menghidupkan kembali fasilitas penyimpanan lama yang sudah lama terbengkalai, yang disebut sebagai “junk storage”. 

Selain itu, minyak juga disimpan di kapal tanker yang menganggur di laut serta dalam kontainer improvisasi. Beberapa tangki tua di pusat minyak selatan seperti Ahvaz dan Asaluyeh bahkan kembali digunakan, meski sebelumnya dihindari karena kondisi yang buruk.

Langkah-langkah ini diambil demi menunda kondisi terburuk ketika kapasitas penyimpanan benar-benar habis. 

Selain penyimpanan darurat, Iran juga mencoba menyalurkan minyak melalui jalur kereta menuju China. Infrastruktur rel menghubungkan Teheran dengan kota-kota seperti Yiwu dan Xi’an, namun pengiriman ini memakan waktu berminggu-minggu dan jauh lebih mahal dibanding pengiriman laut. 

Jalur ini juga dinilai kurang menarik bagi kilang independen China yang dikenal sebagai “teapot”, karena margin keuntungan mereka tipis dan sensitif terhadap biaya tambahan. 

Dengan kapasitas penyimpanan yang terus terisi, Iran berisiko mencapai kondisi “tank tops”, yaitu saat seluruh ruang penyimpanan penuh. Banyak analis memperkirakan kondisi ini bisa terjadi dalam waktu kurang dari dua minggu.

Jutaan Warga Kehilangan Pekerjaan

Jutaan warga Iran terancam kehilangan pekerjaan dan terdorong ke dalam kemiskinan akibat perang dengan AS dan Israel. Hampir tidak ada sektor yang terhindar dari dampaknya, dengan banyak perusahaan yang memberhentikan pekerjanya, menurut laporan CNN, Selasa (28/4/2026). 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved