Perang AS dan Israel vs Iran

Respons Iran Usai Trump Umumkan Gencatan Senjata Tanpa Batas Waktu, Tapi Tetap Blokade Pelabuhan

Presiden Donald Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran untuk memberi ruang kelanjutan perundingan.

Editor: Juang Naibaho
TRIBUN MEDAN/X
Citra satelit dari Airbus Defence and Space memperlihatkan kondisi bangunan utama di kompleks kediaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Beit-e Rahbari, saat terjadi serangan udara masif yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel, Sabtu (28/2/2026). 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump tiba-tiba mengumumkan perpanjangan gencatan senjata dengan Iran untuk memberi ruang kelanjutan perundingan damai.

Pengumuman itu disampaikan Trump jelang berakhirnya tenggat waktu jeda pertempuran dua minggu, pada Selasa (21/4/2026) malam waktu AS.

Presiden ke-47 AS itu menyebutkan, perpanjangan ini dilakukan atas permintaan mediator Pakistan, sekaligus memberi waktu bagi Iran yang disebutnya masih “terpecah” dalam menyusun proposal.

Meski tak ada batas waktu sampai kapan masa gencatan senjata, Trump menegaskan blokade AS ke pelabuhan Iran tetap diberlakukan sebagai bagian dari tekanan terhadap Teheran. 

“Militer kita melanjutkan blokade. Oleh karena itu, gencatan senjata akan diperpanjang sampai proposal mereka (Iran) diajukan,” tulis Trump di media sosial, dikutip dari AFP. 

Baca juga: Klaim Refly Harun ke Rismon: Saya Sudah Ngikutin Kasus Ijazah Jokowi Ini sebelum Anda Lahir

Langkah Trump perpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu langsung menuai penolakan dari Teheran.

Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mengakui perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan secara sepihak oleh Trump, serta memperingatkan kemungkinan adanya respons militer. 

Stasiun penyiaran negara Iran, IRIB melaporkan, Teheran tetap akan bertindak berdasarkan kepentingan nasionalnya, terlepas dari pengumuman tersebut. 

“Perpanjangan gencatan senjata oleh Trump tidak ada artinya," kata penasihat Ketua Parlemen Iran, Mahdi Mohammadi, melalui platform X, dikutip dari Chosun Daily, Rabu (22/4/2026). 

"Pihak yang kalah tidak dapat menetapkan syarat. Melanjutkan blokade maritim tidak berbeda dengan pengeboman, dan respons militer diperlukan,” tambahnya.

Ia juga menambahkan bahwa langkah Trump tersebut dinilai sebagai taktik untuk menunda dan membuka peluang serangan mendadak.

"Perpanjangan gencatan senjata Trump jelas merupakan taktik untuk mengulur waktu demi serangan mendadak. Saatnya bagi Iran untuk mengambil inisiatif telah tiba," katanya. 

Di tengah meningkatnya ketegangan, tim negosiasi Iran juga menyampaikan sikap final dengan menolak keikutsertaan dalam perundingan perdamaian kedua yang dijadwalkan pada 22 April 2026 di Islamabad, Pakistan. 

Penolakan itu disampaikan melalui jalur mediator kepada AS, sebagaimana dilaporkan Kantor Berita Tasnim pada 21 April 2026 waktu setempat. 

Tasnim melaporkan, Iran menilai perundingan dalam situasi saat ini hanya akan menjadi “pemborosan waktu” dan tidak memberikan prospek kesepakatan yang berarti. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved