Berita Viral
Eks Karyawan Bongkar Kejamnya Daycare di Jogja, Kamar 3x3 Diisi 20 Anak hingga Kaki Terikat
Fakta yang mencuat bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam seorang mantan karyawan yang tak lagi sanggup menahan
TRIBUN-MEDAN.com - Kasus dugaan penganiayaan anak di sebuah daycare di kawasan Sorosutan, Umbulharjo, perlahan mulai menemukan titik terang.
Fakta yang mencuat bukan berasal dari luar, melainkan dari dalam seorang mantan karyawan yang tak lagi sanggup menahan kegelisahan hati melihat perlakuan terhadap anak-anak.
Penggerebekan daycare bernama Little Aresha ini pun menjadi bukti bahwa laporan tersebut tidak dianggap sepele oleh aparat.
Karyawan Mundur, Tak Sanggup Melihat Dugaan Kekerasan
Kapolresta Yogyakarta, Eva Guna Pandia, mengungkap bahwa kasus ini bermula dari kecurigaan seorang karyawan terhadap perlakuan pengasuh di daycare tersebut.
“Awalnya dari karyawannya itu melihat bahwa perlakuan terhadap bayi atau anak yang dititip itu kurang manusiawi,” kata dia.
Perasaan tidak nyaman itu akhirnya mendorong sang karyawan mengambil keputusan besar mengundurkan diri dari pekerjaannya.
“Tidak sesuai dengan hati nuraninya karena mungkin ada yang dianiaya juga mungkin kan. Ditelantarkan, akhirnya dia merasa tidak sesuai hati nurani minta resign,” ujar Pandia.
Namun, langkah tersebut justru berujung pada masalah baru.
Ijazah Ditahan, Laporan Pun Dilayangkan
Setelah resign, karyawan tersebut mengaku ijazahnya ditahan oleh pihak daycare. Kondisi ini membuatnya tak punya pilihan selain melapor ke pihak berwajib.
“Ijazahnya ditahan sama pemilik sehingga dia melaporlah ke kita. Sehingga kami dapat informasi seperti itu. Langsung ditindaklanjuti,” bebernya.
Laporan inilah yang kemudian membuka pintu penyelidikan hingga akhirnya polisi melakukan penggerebekan.
Orangtua Mulai Menyadari Kejanggalan
Seiring mencuatnya kasus, satu per satu orangtua mulai menyadari tanda-tanda yang sebelumnya dianggap sepele.
Salah satunya Aldewa, yang mengaku sempat menemukan luka lebam pada tubuh anaknya.
“Kalau bekas luka, terakhir kemarin dijemput mbahnya itu ada luka lebam di kaki. Nah mbahnya enggak bilang apa-apa. Terus istri saya bilang kayaknya jatuh deh. Ya udah saya juga enggak tanya pihak sekolah,” ujarnya.
Tak hanya itu, anaknya juga menunjukkan perubahan perilaku.
“Kalau pagi. Biasanya kalau mau sekolah mesti nangis. Tapi kalau udah sampai 'cep' diem,” kata Aldewa.
Dugaan Kekerasan hingga Anak Diikat
Informasi yang beredar di media sosial semakin memperkuat kecurigaan. Aldewa bahkan mengaku mengetahui adanya dugaan perlakuan ekstrem terhadap anak.
“Itu saya baca jam 5 ada ibu jemput katanya lihat di video sudah posisi diiket (anak) dan segala macam,” katanya.
Pernyataan ini mempertegas bahwa dugaan kekerasan tidak hanya bersifat verbal, tetapi juga fisik.
Kamar 3x3 meter diisi 20 anak
Selain tindakan kekerasan, penyidik menemukan fakta miris mengenai kondisi bangunan yang digunakan untuk menampung ratusan anak.
Kasatreskrim Polresta Yogyakarta, Kompol Rizki Adrian, menyebutkan bahwa anak-anak tersebut ditempatkan di ruangan yang sangat sempit dan tidak manusiawi.
“Kondisi tempat penitipan anak di daycare tersebut cukup memprihatinkan. Ada tiga kamar ukuran sekitar 3x3 meter persegi, tetapi diisi 20 anak untuk satu kamar,” ungkap Rizki Adrian, diberitakan Kompas.com, Sabtu.
Dalam ruangan yang sesak tersebut, anak-anak diduga mengalami penelantaran yang ekstrem.
Polisi menemukan adanya anak yang dibiarkan meski dalam kondisi sakit.
“Jadi dibiarkan begitu saja, ada yang diikat kakinya, tangannya. Bahkan ada yang muntah itu dibiarkan,” tandas Adrian.
Anak Sakit Tanpa Pemberitahuan
Kesaksian lain datang dari Khairunisa, orangtua anak berusia 1,5 tahun yang juga dititipkan di daycare tersebut. Ia mengungkap kondisi anaknya yang sering sakit tanpa penjelasan dari pihak pengelola.
“Dia pilek sampai sekarang belum sembuh. Terus batuk biasanya nggak pernah batuk. Batuknya sampai muntah-muntah,” ujarnya.
Lebih mengejutkan lagi, anaknya sempat mengalami demam tinggi tanpa pemberitahuan.
"Yang saya kaget dia demam sampai 38,7 derajat atau 39 itu tidak bilang ke kami. Bilangnya pas kami sudah ngomong. Buk ini demam ya. Oh iya demam kemarin,” lanjutnya.
Khairunisa juga mengaku melihat langsung kondisi anaknya yang diduga mengalami perlakuan tidak wajar.
“Melapor sekaligus melihat kejadian kemarin dan memang anak saya terlihat kondisi tangannya diikat di sini,” katanya.
Daycare Ditutup, Polisi Dalami Kasus
Saat ini, daycare Little Aresha telah ditutup dan dipasangi garis polisi. Penyelidikan masih terus dilakukan oleh Polresta Yogyakarta untuk mengungkap fakta sebenarnya.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi para orangtua dan pengelola layanan penitipan anak.
Di balik tempat yang seharusnya menjadi ruang aman dan penuh kasih, tersimpan potensi bahaya yang tak kasatmata yang baru terungkap ketika keberanian seseorang melawan ketidakadilan akhirnya muncul ke permukaan.
Artikel sudah tayang di Kompas
(*/ Tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Fakta Mengejutkan 103 Anak di Daycare Yogyakarta, 53 Jadi Korban Kekerasan, Ortu Ada Lihat Lebam |
|
|---|
| Alasan Capek Menyetir Seharian, Gubernur Kaltim Rudy Masud Butuh Kursi Pijat Rp 125 Juta |
|
|---|
| Polisi Tetapkan 13 Tersangka Kekerasan Anak di Daycare Little Aresha Jogja, Motifnya Masih Misteri |
|
|---|
| TAMPANG Enjang Saat Ditangkap, TNI Gadungan Tipu Pedagang Telur Hingga Rugi Rp7 Juta, Ngaku Kapten |
|
|---|
| Fakta-fakta Viralnya Kasus Daycare di Yogyakarta, Polisi Tetapkan 13 Pelaku Kekerasan Terhadap Anak |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Penganiayaansdffggg.jpg)