Perang AS dan Israel vs Iran

Masa Gencatan Senjata Berakhir Besok, Trump Sebut Tidak Akan Cabut Blokade Pelabuhan Iran

Rencana negosiasi AS dan Iran tak kunjung menemui kepastian. Padahal, gencatan senjata berakhir Rabu besok

Editor: Juang Naibaho
Kompas.com
Ilustrasi perundingan AS dan Iran di Pakistan. Rencana negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga Selasa (21/6/2026) tak kunjung menemui kepastian. Padahal, gencatan senjata akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) malam waktu Washington. (Chat GPT) 

TRIBUN-MEDAN.com - Rencana negosiasi Amerika Serikat (AS) dan Iran hingga Selasa (21/6/2026) tak kunjung menemui kepastian.

Padahal, gencatan senjata akan berakhir pada Rabu (22/4/2026) malam waktu Washington.

Presiden AS Donald Trump menegaskan kesepakatan gencatan senjata tidak akan diperpanjang jika belum tercapai hasil sebelum tenggat waktu. 

“Sangat tidak mungkin saya akan memperpanjangnya,” ujarnya, dikutip dari CNN, Selasa (21/4/2026). 

Trump juga menegaskan bahwa dirinya tidak berada di bawah tekanan untuk segera mencapai kesepakatan dengan Iran. 

Hal ini disampaikan setelah Teheran menyatakan tidak berencana menghadiri pembicaraan damai di Pakistan bersama tiga negosiator utama AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance. 

Diketahui, gencatan senjata tersebut dimulai sejak 7 April dan berlangsung selama dua pekan. 

Hingga kini, Trump mengaku masih menunggu hasil negosiasi terbaru untuk menentukan langkah selanjutnya. 

“Saya tidak akan terburu-buru membuat kesepakatan yang buruk. Kita punya banyak waktu,” tambahnya, dikutip dari Bloomberg, Selasa.

Dalam wawancara tersebut, Trump menegaskan kembali bahwa Selat Hormuz akan tetap diblokade untuk saat ini, dengan mengatakan Iran sangat ingin selat itu dibuka.

“Saya tidak akan membukanya sampai kesepakatan ditandatangani,” tegasnya. 

Sebelumnya, Iran sempat menyatakan akan membuka jalur pelayaran strategis tersebut untuk distribusi energi global. 

Namun, rencana itu dibatalkan setelah AS menolak mengambil langkah serupa. 

Ketua parlemen Iran mengatakan bahwa Teheran sedang menyiapkan "kartu baru di medan perang" jika pertempuran dengan AS berlanjut.

Namun Teheran menyatakan pihaknya tidak memiliki rencana untuk putaran negosiasi selanjutnya di Islamabad. 

Ini adalah pernyataan yang disampaikan para pejabat Iran mengenai pembicaraan tersebut, sebagaimana diberitakan BBC. 

Baca juga: HATI-HATI Minyakita Palsu Ditemukan Lagi, Produsen Kemas Minyak Curah, Distribusi Sampai Kalimantan

Lebih lanjut, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran pada akhirnya akan bersedia bernegosiasi dengan AS. 

Hal ini disampaikannya dalam wawancara radio bersama John Fredericks. 

“Jika mereka tidak melakukannya, mereka akan menghadapi masalah yang belum pernah mereka alami sebelumnya,” ujar Trump. 

Ia juga kembali menegaskan bahwa konflik dengan Iran sudah mendekati akhir. 

Trump menambahkan, Wakil Presiden JD Vance, utusan senior Steve Witkoff, serta Jared Kushner akan melakukan perjalanan ke Pakistan untuk kemungkinan putaran lanjutan pembicaraan damai. 

Namun hingga kini, belum ada kepastian apakah Iran akan mengirim delegasi ke Islamabad. 

Kementerian Luar Negeri Iran sebelumnya menegaskan bahwa belum ada negosiasi yang berlangsung sampai saat ini. 

Meski demikian, dalam wawancara telepon pada Senin malam, Trump tetap optimistis bahwa Teheran pada akhirnya akan duduk di meja perundingan. 

Di sisi lain, ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat. Pada akhir pekan, pasukan AS dilaporkan menembaki dan menyita sebuah kapal Iran. 

Dalam unggahan lain, Trump menekankan tidak akan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran kecuali tercapai kesepakatan.

"Blokade tidak akan kami cabut, benar-benar menghancurkan Iran. Mereka kehilangan 500 juta dolar per hari," tulis Trump.

Sementara itu, Teheran menolak upaya diplomasi di tengah blokade yang masih berlangsung terhadap pelabuhan dan ekspornya. 

Belum adanya kejelasan menuju penyelesaian diplomatik atas konflik yang telah berlangsung selama tujuh minggu, ditambah dengan gencatan senjata yang segera berakhir, memicu ketidakpastian di pasar global. 

Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak dunia sekaligus menekan pasar saham AS. 

Dampaknya juga terlihat pada aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Pada Senin (20/4/2026), hanya 16 kapal yang melintasi jalur tersebut karena para kapten dan pemilik kapal memilih bersikap hati-hati di tengah situasi yang belum stabil. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved