Berita Viral

Sudah Diolok-olok Muridnya, Bu Atun Maafkan Siswa SMA, Justru Doakan Selamat Dunia Akhirat

Ia meyakini bahwa peran guru tidak berhenti pada pemberian sanksi, tetapi lebih jauh membentuk karakter dan akhlak

Istimewa
GURU DIOLOK SISWA - Syamsiah alias Bu Atun memutuskan tidak membawa kasus ke jalur hukum meski sempat diolok-olok siswa SMA 1 Purwakarta. 

TRIBUN-MEDAN.com - Sikap syamsiah atau yang akrab disapa Bu Atun, seorang guru yang sempat diolok-olok oleh muridnya di Purwakarta hingga viral, justru menunjukkan sikap penuh kesabaran hati

Bu Atun menjadi simbol keteladanan ketika memilih memaafkan sembilan siswanya yang sempat mengolok-olok dirinya hingga rekamannya menyebar luas di media sosial.

Ogah memperpanjang persoalan ke jalur hukum, guru PPKn di SMA Negeri 1 Purwakarta itu justru mengambil jalan yang lebih sunyi namun bermakna: membina, bukan menghukum.

Keputusan Syamsiah untuk memaafkan bukanlah tanpa alasan. Ia meyakini bahwa peran guru tidak berhenti pada pemberian sanksi, tetapi lebih jauh membentuk karakter dan akhlak peserta didik.

Baca juga: PEGAWAI Pajak Sumut Kirim Surat Terbuka, Bursok Minta Prabowo dan Gibran Mundur, Bahas soal Skandal

Baginya, air mata penyesalan para siswa telah menjadi bukti bahwa kesadaran mulai tumbuh.

“Saya sudah sangat memaafkan, bahkan mendoakan. Mereka juga menangis menyadari kesalahannya.

Kewajiban saya sebagai guru adalah memaafkan agar mereka bisa menjadi generasi yang berakhlak,” ujarnya.

Sebagai pendidik yang telah mengabdi sejak 2003, ia memegang teguh prinsip bahwa kenakalan bukanlah identitas permanen, melainkan fase yang bisa diluruskan dengan pendekatan yang tepat.

“Saya tidak akan pernah melapor. Mindset saya adalah ingin mengubah anak didik menjadi orang yang berakhlak tinggi dan selamat dunia akhirat.

Yang salah tidak selamanya salah, yang nakal tidak selamanya nakal. Perubahan itu butuh proses,” tuturnya.

Baca juga: Terdakwa Korupsi DJKA Sebut Beri Uang Rp 3,5 Milliar pada Ketua HIPMI Akbar Buchari

Momen yang Tak Disadari Menjadi Viral

Insiden tersebut terjadi pada Kamis (16/4/2026), di ruang kelas XI IPS, tepat setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

Saat itu, Syamsiah hanya berfokus menjaga ketertiban kelas, tanpa menyadari bahwa tindakan para siswa direkam dan kemudian menyebar luas.

“Saya tidak tahu kalau direkam. Awalnya mereka salaman, bahkan mau foto bersama. Saya hargai mereka, padahal saya harus mengajar di kelas lain,” jelasnya.

Apa yang awalnya tampak seperti interaksi biasa berubah menjadi peristiwa yang mengguncang, namun ia memilih meresponsnya dengan ketenangan.

Meski mengakui bahwa rasa sedih adalah hal yang manusiawi, Syamsiah tidak membiarkan dirinya larut dalam luka. Ia justru menjadikan keimanan sebagai penopang untuk bangkit dan tetap teguh menjalankan perannya sebagai pendidik.

Baca juga: Kantor Gubernur Kaltim Dipasang Kawat Berduri Jelang Demo 21 April, Pengamat: Itu Rumah Rakyat

Ia percaya bahwa luka batin dapat sembuh ketika dibarengi dengan niat tulus untuk menyelamatkan masa depan anak didiknya bahkan ketika mereka melakukan kesalahan.

Pembinaan Jadi Jalan Tengah

Walau secara pribadi telah dimaafkan, proses pembinaan tetap berjalan sebagai bagian dari tanggung jawab institusi pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Jawa Barat, Purwanto, memastikan bahwa sembilan siswa tersebut tidak akan dikeluarkan dari sekolah.

Sebagai gantinya, mereka akan menjalani pembinaan intensif selama tiga bulan sebuah langkah yang menitikberatkan pada perbaikan, bukan hukuman semata.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mendorong agar sanksi bersifat edukatif, seperti kerja sosial membersihkan fasilitas sekolah, dibandingkan skorsing yang justru menjauhkan siswa dari proses belajar.

Meneguhkan Kembali Makna Pendidikan

Dari peristiwa ini, Syamsiah berharap ada refleksi yang lebih luas dalam dunia pendidikan: bahwa adab harus kembali menjadi fondasi utama.

"Adab itu hal utama. Tugas guru adalah terus sabar dan membimbing," ujarnya.

Tak hanya itu, ia juga menegaskan rasa kasihnya kepada para siswa, bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun.

"Saya sayang kepada siswa. Semakin mereka salah, semakin saya ingin membimbingnya. Saya ingin mereka menjadi generasi yang berilmu dan berakhlak," sambungnya.

Kisah ini bukan sekadar tentang pelanggaran dan sanksi, melainkan tentang makna sejati pendidikan tentang bagaimana seorang guru tetap memilih mencintai, bahkan ketika dihina.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di Tribuntrends.com 

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved