Kasus Ijazah Jokowi
Dapat SP3, Rismon Sianipar Kini Kuliti Roy Suryo: Itu Pembohongan Publik yang Terus Diulang
Padahal, menurut Rismon, Roy Suryo tidak pernah mempelajari mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian forensik digital
TRIBUN-MEDAN.com - Polda Metro Jaya menghentikan penyidikan tersangka Rismon Sianipar dalam kasus tudigan ijazah palsu Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Polisi sudah menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) usai Rismon Sianipar berdamai dengan Jokowi.
"Penyidik telah menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan terhadap Rismon Sianipar pada 14 April 2026," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Pol Iman Imanudin dalam konferensi pers, Jumat (17/4/2026).
Iman mengatakan penghentikan penyidikan terhadap Rismon Sianipar tidak menggugurkan status tersangka lainnya di persidangan.
Baca juga: Resmi! 18 April 2026 BBM Naik Gila-gilaan, Pertamax Turbo Tembus Rp 19.400
Menurut dia, Rismon sudah menemui Jokowi di kediamannya, Solo pada 1 April 2026. Dalam pertemuan tersebut, Jokowi telah memaafkan Rismon yang sudah menuduh ijazahnya palsu.
Kemudian Rismon juga bertemu pelapor lainnya di Polda Metro Jaya. Mereka telah menerima permintaan maaf Rismon Sianipar.
"Saat ini telah terjadi kesepakatan perdamaian tersangka dan pelapor melalui restorative justice," kata dia.
Rismon Kuliti Roy Suryo
Rismon Sianipar mulai membongkar bobrok Roy Suryo termasuk menanggapi klaim bahwa ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) 99,9 persen palsu.
Rismon lantas menyinggung latar belakang Roy Suryo yang selama ini mengaku sebagai seorang peneliti.
Padahal, menurut Rismon, Roy Suryo tidak pernah mempelajari mata kuliah yang berkaitan dengan penelitian forensik digital untuk digunakan meneliti keaslian ijazah Jokowi.
Baca juga: Polda Sumut Enggan Ungkap Identitas Oknum Polisi Pamer Senjata Pukuli Warga di Medan Timur
"Artinya gini, kalian mau enggak ada orang yang mengaku, mengklaim, mengetahui, menjadi pakar di bidang sesuatu, tapi sebenarnya dia satu mata kuliah pun tentang itu dia tidak pernah menempuh."
"Nanti ada lagi orang semacam dia buat keributan-keributan lain. Media mungkin senang, tapi apakah ini senang untuk negara kita?"
"Ya, jadi bukan melawan, tetapi saya akan membantu pihak kejaksaan untuk menelanjangi siapa sebenarnya Roy Suryo itu. Ya, jadi sebenarnya tanpa saya pun gampang, tanpa saya," kata Rismon dalam keterangannya di Jakarta, dilansir Kompas TV, Jumat (17/4/2026).
Roy Suryo memiliki latar belakang pendidikan dari Universitas Gadjah Mada, tepatnya Prodi Ilmu Komunikasi. Di UGM, Prodi Ilmu Komunikasi masuk dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL).
Sementara itu, Rismon Sianipar memiliki latar belakang sarjana teknik dan magister teknik dari Universitas Gadjah Mada.
Baca juga: Kasus Jaksa Todong Pistol ke Petugas Satpam, Jaksa Enda Mashuri Nasution Mangkir Dua Kali
Singgung Tulisan Roy Suryo dalam Buku Jokowi's White Paper
Rismon lantas menyinggung tulisan Roy Suryo dalam buku Jokowi's White Paper yang hanya setebal 49 halaman, berbeda dengan tulisan Rismon yang setebal 486 halaman.
Menurut Rismon, tulisan yang diakui Roy Suryo sebagai hasil penelitiannya tentang ijazah Jokowi itu tidak ilmiah.
Termasuk juga soal klaim Roy Suryo yang menyebut bahwa 99,9 persen ijazah Jokowi palsu.
Rismon menilai klaim Roy Suryo bahwa ijazah Jokowi 99,9 persen palsu itu hanyalah kebohongan belaka yang terus diulang-ulang.
"Kenapa saya bilang yang 49 halaman ini ya, kalian lihatlah ya enggak ada satupun yang ilmiah klaim bohong 99,9 persen palsu."
"Itu kan kebohongan yang terus diulang-ulang sehingga publik itu percaya oh Roy Suryo itu researcher, peneliti,"ungkap Rismon.
Bahkan, Rismon kini mempertanyakan klaim Roy Suryo yang selama ini mengaku sebagai peneliti.
Rismon juga meminta publik untuk mengecek kembali jejak digital Roy Suryo selama ini.
Keraguan ini diungkap Rismon karena ia tak ingin publik mempercayai pendapat pakar yang masih belum jelas latar belakangnya.
"Sejak kapan sih dia mengklaim dirinya peneliti sebelum kasus ini? Coba lihat jejak digitalnya. Ya, jangan sampai publik percaya 99,9 persen itu palsu dan dipercaya itu keluar dari pendapat pakar."
"Sementara si pakar (Roy Suryo) yang mengaku pakar ini, ngambil mata kuliah dasar, tingkat mata kuliah aja ya, tentang integral, diferensial, dan lainnya yang dasar saja itu enggak tahu, enggak pernah. Padahal itu terimplementasi dalam ilmu digital image processing," tegas Rismon.
Roy Suryo Selalu Menghindar jika Ditanya
Rismon merasa selama ini Roy Suryo selalu menghindar ketika ditanya tentang hasil penelitiannya yang tertuang dalam Jokowi's White Paper.
"Makanya ketika kalian tanya tentang 49 halaman dia pasti menghindar. Tapi kan bukan begitu caranya nanti di pengadilan dibandingkan berapa halaman?"
"Jadi bukan begitu nanti di pengadilan memang dia bisa menghindar dengan segala macam tuduhannya. Dia akan dicecar gitu loh," imbuh Rismon.
Rismon kembali menegaskan bahwa klaim Roy Suryo soal ijazah Jokowi 99,9 persen palsu itu hanyalah pembohongan publik yang terus diulang.
"Oleh karena itu pembohongan publik yang terus diulang-ulang seolah-olah dia dewa yang tidak pernah salah. Ya, sekali lagi saya ungkapkan dia dewa yang tidak pernah salah. Pakar yang paling pakar se-Indonesia ya. Dan itu dipercaya publik."
"Menurut kalian benar enggak seperti itu? Kita bukan masalah benci atau tidak benci, tetapi tempatkan hasil penelitian itu di ruang penelitian. Siap enggak?" tutur Rismon.
Roy Suryo Tegaskan Dirinya Jadi Ahli di Berbagai Kasus
Roy Suryo menanggapi Rismon yang menyebut dirinya tidak layak disebut sebagai seorang peneliti.
Ketidaklayakan ini diungkap Rismon berdasarkan tidak adanya hasil penelitian Roy Suryo yang terindeks oleh Google Scholar.
Google Scholar adalah mesin pencari atau search engine yang digunakan untuk menemukan literatur akademis seperti jurnal, makalah, tesis, hingga laporan teknis.
Roy menegaskan ketika seseorang dianggap sebagai seorang ahli, indikator satu-satunya bukanlah saat tulisannya terindeks oleh Google Scholar.
Menurutnya, statusnya yang sudah beberapa kali menjadi saksi ahli dalam persidangan hingga pembicara cukup menjadi faktor utama.
"Kalau ada orang mempertanyakan kredibilitas saya, ya saya senyum saja. Sudah puluhan tahun saya menjadi ahli di berbagai kasus dan persidangan, berbagai tulisan, berbagai seminar, kan nggak mesti semuanya dijawab di Google Scholar. Itu standar apa?" ujar Roy dikutip dari program Zoomcast di YouTube Kompas TV, Jumat (17/4/2026).
Roy menekankan faktor utama yang membuat seseorang layak disebut peneliti yakni memiliki integritas.
Dia menganggap Rismon tidak memiliki faktor tersebut.
"Yang paling penting itu apa? Integritas. Orang nggak punya integritas, orang yang berani berbohong pada dirinya sendiri, orang lain, dan bahkan berbohong kepada Tuhan atau Allah SWT. Anggap saja dia (Rismon) sudah end game," katanya.
(Tribun-Medan.com)
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Rismon Sianipar Rampung Urus SP3 Kasus Ijazah Jokowi, Pengacara Enggan Beberkan Statusnya |
|
|---|
| Jokowi Bersedia Tunjukkan Ijazahnya, Berharap Segera P21: yang Menuduh yang Membuktikan |
|
|---|
| Ribut Terkait Buku Jokowi's White Paper, Rismon Sianipar Somasi Dokter Tifa Usai Terbit SP3 |
|
|---|
| Roy Suryo Bantah Ada Hubungan dengan JK, Tegaskan Tak Pernah Terima Uang Sepeserpun |
|
|---|
| JK Sarankan Jokowi Tunjukkan Ijazah, Dokter Tifa Curiga Ada Sinyal yang Disembunyikan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rismon-sianipar-jokowi-buku-roy-suryo-tribunmedan.jpg)