Berita Viral
Hindari Selat Hormuz, Arab Saudi dan Mesir Diam-diam Bangun Koridor Baru untuk Logistik Energi
70 persen pengiriman maritim di Selat Hormuz telah menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia meningkat pada 28 Februari 2026.
TRIBUN-MEDAN.COM - Negara Kerajaan Arab Saudi dan Mesir dilaporkan diam-diam membangun sebuah koridor baru untuk mengamankan pasokan energi di kawasan Teluk dan pasar internasional.
Koridor baru ini dibangun di tengah masalah keamanan di Selat Hormuz akibat perang AS-Israel dengan Iran. Hal itu dilaporkan The New Arab, Kamis (16/4/2026).
Sebagaimana diberitakan, sebanyak 70 persen pengiriman maritim melalui Selat Hormuz menurun sejak ketegangan di kawasan Teluk Persia pada 28 Februari 2026.
Koridor baru yang dibangun Arab Saudi dan Mesir ini memanfaatkan pelabuhan-pelabuhan di kawasan Mediterania dan Laut Merah.
"Terlepas dari harga dan waktu ketibaan kargo, koridor baru menyediakan alternatif rute maritim baru yang saat ini terganggu oleh perang Iran," ujar ahli transportasi maritim dari Mesir, Ahmed al-Shami kepada The New Arab, Kamis (16/4/2026).
Al-Shami memperkirakan negara-negara Teluk akan bergantung pada koridor baru ini untuk perdagangan dengan eropa dan kawasan lain, khususnya jika ancaman dari atas Iran atas kebebasan navigasi di Selat Hormuz terus terjadi hingga waktu yang belum bisa diprediksi.
"Koridor ini akan menjadi masa depan maritim, namun, penting bagi pelabuhan-pelabuhan di Mediterania dan Laut Merah untuk lebih mempersiapkan diri menangani jumlah besar kapal-kapal kontainer,"ujar Al-Shami menambahkan.
Koridor baru ini menjadi penting menyusul terus berlanjutnya aksi penutupan Selat Hormuz dan keinginan Iran untuk menerapkan tarif tol bagi kapal-kapal yang melintas di selat itu.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga mengambil kebijakan blokade maritim.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menerapkan blokade akses semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran mulai Senin lalu pukul 14.00 GMT atau pukul 21.00 WIB.
"Pasukan Komando Pusat AS (CENTCOM) akan mulai menerapkan blokade semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran pada 13 April, pukul 10.00 pagi ET (14.00 GMT), sesuai dengan proklamasi Presiden (Donald Trump)," demikian pernyataan Komando Pusat AS tersebut.
Sementara, laporan Wall Street Journal pada Selasa (14/4/2026), Arab Saudi mendesak AS untuk menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali berunding dengan Iran.
Menurut laporan tersebut, Arab Saudi merasa khawatir dapat meningkatkan eskalasi dan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya.
Arab Saudi khawatir, Iran membalas blokade dengan menutup Bab al-Mandeb - jalur sempit strategis di Laut Merah yang sangat penting bagi sisa ekspor minyak Saudi.
Sebagaimana ancaman militer Iran pada Rabu (15/4/2026), bahwa mereka akan menutup jalur perdagangan di Laut Merah bersama dengan Teluk Persia dan Laut Oman, jika Angkatan Laut AS terus melanjutkan blokade.
| Bripda As Suruh 3 Junior Aniaya Bripda Natanael Simanungkalit, Korban Sampai Terpelanting ke Tembok |
|
|---|
| KISAH PILU Sri Apriliani Gadis Yatim-Piatu Sendirian di Gubuk Reot, Putus Sekolah Tak Kuat Dibully |
|
|---|
| TINGKAH ASN Bobol SD, Kantor KUA, dan 6 Rumah Kosong, Beraksi Sendirian Saat Malam Hari |
|
|---|
| SOSOK Aris Mukiyono Kadis ESDM Jadi Tersangka Pungli Izin Tambang, Kejaksaan Temukan Bukti Dokumen |
|
|---|
| DETIK-DETIK Anggota Polisi D dan Wanita ASN Digerebek Keluarga, Terciduk Selingkuh |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/China-mengklaim-menjadi-satu-satunya-negara-yang-kapal-kapalnya-diizinkan-Iran.jpg)