Berita Viral

RENCANA Tujuan Malaysia dan Indonesia, Sebanyak 250 Pengungsi Rohingya Tenggelam di Laut Andaman

Sebanyak 250 pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh hilang setelah kapal yang mengangkut mereka terbalik di Laut Andaman

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA/ILUSTRASI
Sebanyak 250 orang pengungsi Rohingya dan warga Bangladesh dilaporkan hilang setelah kapal yang mengangkut mereka terbalik di Laut Andaman pada Selasa (14/4/2026). Menurut informasi badan pengungsi dan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), 250 orang penumpang kapal itu terdiri dari pria, wanita, dan anak-anak. (FOTO TRIBUN MEDAN/ISTIMEWA/ILUSTRASI) 

Ratusan ribu orang Rohingya kemudian melarikan diri ke Banglades dalam gelombang kekerasan berturut-turut pada 1978 dan 1991-1992.

Oleh karena menggunakan dialek yang mirip dengan Chittagong di Banglades tenggara, Rohingya dibenci banyak orang di Myanmar yang melihat mereka sebagai imigran ilegal dan menyebutnya "Bengali".

Setelah junta dibubarkan pada 2011, di Myanmar terjadi peningkatan ekstremisme Buddhis yang semakin mengucilkan Rohingya dan menandai dimulainya era ketegangan terbaru. 

3. Rohingya jadi korban pemerkosaan, pembunuhan, pembakaran

Kekerasan sektarian antara Muslim Rohingya Sunni dan komunitas Buddha lokal pecah pada 2012, menyebabkan lebih dari 100 orang tewas dan negara terbagi menurut agama. 

Puluhan ribu orang Rohingya lalu melarikan diri selama lima tahun berikutnya ke Banglades dan Asia Tenggara, dengan perjalanan laut yang berbahaya dan dikendalikan oleh geng perdagangan brutal. 

Terlepas dari penganiayaan selama beberapa dekade, sebagian besar orang Rohingya tidak melawan balik dengan kekerasan. 

Baru pada 2016 sebuah kelompok militan kecil dan sebelumnya tidak dikenal yaitu Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) melancarkan serangkaian serangan yang terkoordinasi dengan baik dan mematikan terhadap pasukan keamanan.

Militer Myanmar pun menanggapinya dengan tindakan keras besar-besaran dengan alasan keamanan. 

Diperkirakan 391.000 orang Rohingya melarikan diri ke Bangladesh pada 2017, menurut PBB. 

Mereka membawa serta kisah-kisah mengerikan tentang pembunuhan, pemerkosaan, dan pembakaran.

Junta Myanmar saat ini mengeklaim pengadilan PBB tidak memiliki yurisdiksi dan meminta kasus tersebut dihentikan.

Statistik terbaru menunjukkan, sebanyak 850.000 orang Rohingya sekarang merana di kamp-kamp Bangladesh, dengan sekitar 600.000 lainnya di negara bagian Rakhine.

(*/Tribun-medan.com)

Artikel telah tayang di Kompas.com

Baca juga: DPD RI Kunker ke Sumut, Bobby Nasution Sampaikan Permasalahan Kemiskinan dan Pengungsi Rohingya

Baca juga: SEGINI Uang Bulanan Pengungsi Rohingya Hingga Bisa Beli Kendaraan, Tapi Tetap Ada yang Maling

Sumber: Tribun Medan
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved