Berita Internasional

Iran Umumkan Tarif Lewat Selat Hormuz Harus Bayar Pakai Bitcoin, 800 Kapal Tanker Masih Tertahan

Ia menjelaskan bahwa biaya akan dibayarkan dalam Bitcoin, yang memungkinkan penyembunyian transaksi dan menghindari risiko sanksi

TRIBUN MEDAN/Istimewa/X
DUA kapal tanker minyak Pertamina masih tertahan di Selat Hormuz, hingga saat ini diplomasi terus berjalan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Iran menetapkan kebijakan baru dengan dibukanya kembali Selat Hormuz.

Iran mengenakan biaya sebesar satu dolar AS untuk setiap barel minyak yang melewati Selat Hormuz, termasuk selama masa gencatan senjata dua minggu.

Selat Hormuz adalah jalur laut strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, dan menjadi rute vital bagi perdagangan energi dunia.

Menurut laporan Financial Times pada Rabu (8/4/2026), pembayaran biaya tersebut harus dilakukan menggunakan mata uang kripto, khususnya Bitcoin.

SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan berdampak hingga ke Indonesia.
SELAT HORMUZ - Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi titik vital distribusi sekitar sepertiga ekspor minyak dunia. Ketegangan di kawasan ini berpotensi memicu gejolak harga energi global dan berdampak hingga ke Indonesia. (TRIBUN MEDAN/DOK GOOGLE MAPS)

Mata uang kripto adalah sistem pembayaran digital yang tidak bergantung pada bank sentral, sehingga transaksi lebih sulit dilacak dan dapat menghindari sanksi internasional.

Surat kabar Inggris itu juga mengklarifikasi bahwa kapal tanker minyak kosong diizinkan untuk lewat tanpa biaya.

Hal ini berdasarkan kutipan pernyataan Hamid Hosseini, perwakilan dari Serikat Eksportir Minyak, Gas, dan Produk Petrokimia Iran, yang dimuat di surat kabar tersebut.

Ia menjelaskan bahwa biaya akan dibayarkan dalam Bitcoin, yang memungkinkan penyembunyian transaksi dan menghindari risiko sanksi terhadap pemilik kapal.

Menurut Hosseini, "Iran perlu memantau apa yang masuk dan keluar dari selat tersebut untuk memastikan bahwa dua minggu ini tidak dimanfaatkan untuk transfer senjata."

Hari ini, tanda-tanda awal aktivitas kapal mulai muncul di Selat Hormuz, menyusul pengumuman gencatan senjata yang mencakup pembukaan kembali sementara jalur air strategis ini.

Menurut data dari platform MarineTraffic, dua kapal pertama melintasi Selat Hormuz hari ini setelah gencatan senjata diumumkan, dan ratusan kapal masih berada di wilayah tersebut, termasuk 426 kapal tanker minyak, 34 kapal tanker LPG, dan 19 kapal tanker LNG.

Berapa yang Bisa Diraup Iran?

Hassan Abedini, kepala departemen informasi politik di stasiun penyiaran negara Iran, IRIB, mengumumkan kalau  Iran dapat memperoleh pendapatan tahunan sebesar 64 miliar dolar AS atau setara Rp 1.088 Triliun dari biaya yang dikenakan pada kapal tanker minyak yang melewati Selat Hormuz.

Abedini menyatakan, "Selat Hormuz telah menjadi jalur air yang akan dikelola secara cerdas oleh Iran; seluruh dunia telah menyetujui hal ini."

Dia menambahkan: “Jika kita ambil contoh, bahwa 32.000 kapal melewati selat tahun lalu, dan jika $2 juta dikumpulkan dari setiap kapal, totalnya akan sekitar $64 miliar, yang merupakan jumlah yang akan diterima Iran.”

Hal ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pagi ini kalau Iran telah setuju untuk sepenuhnya dan segera membuka kembali Selat Hormuz.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved