Berita Viral

Kenapa Iran Masih Mampu Bertahan di Tengah Gempuran AS-Israel? Terungkap China dan Rusia di Belakang

Di tengah sanksi maksimum dan perang yang diluncurkan Amerika Serikat untuk melumpuhkan ekonomi Iran

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/KEMENTERIAN LUAR NEGERI IRAN VIA KOMPAS.COM
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) saat tiba untuk negosiasi nuklir dengan Amerika Serikat di Muscat, Oman, 6 Februari 2026 

TRIBUN-MEDAN.COM - Di tengah sanksi maksimum dan perang yang diluncurkan Amerika Serikat untuk melumpuhkan ekonomi Iran, Teheran justru berhasil mempertahankan napas finansialnya.

Kunci ketahanan tersebut berada di tangan satu negara, yakni China. Dikutip dari Wall Street Journal, Negeri Panda ini secara dramatis meningkatkan pembelian minyak Iran hingga mencakup hampir seluruh total produksi Teheran.

Berdasarkan data Kpler, China diperkirakan membeli sekitar 1,4 juta barel minyak per hari dari Iran pada tahun 2025, melonjak dua kali lipat dibandingkan periode 2017.

Namun, di balik layar, Beijing dinilai waspada terhadap kemungkinan terlihat secara terbuka melanggar sanksi, yang dapat memicu kemarahan Washington dan merusak hubungannya dengan negara-negara Teluk lainnya.

Beberapa tahun lalu, ketika sanksi terhadap Teheran tidak terlalu ketat, perusahaan minyak milik negara China secara terbuka membeli minyak mentah Iran, seperti halnya banyak pembeli lain di seluruh dunia.

Namun, pemerintahan Obama memperketat aturan, sehingga jauh lebih sulit untuk berbisnis dengan Iran.

Sanksi kemudian dilonggarkan setelah mencapai kesepakatan nuklir dengan Teheran pada 2015.

Banyak negara, termasuk India, Italia, dan Yunani, meningkatkan pembelian minyak Iran.

Segalanya berubah ketika Trump pertama kali menjabat. Dia membatalkan kesepakatan nuklir Obama dan meluncurkan kampanye tekanan maksimum dengan sanksi terberat hingga saat ini.

AS mengancam akan menghukum siapa pun yang membeli atau membiayai pembelian minyak Iran.

Menurut Kpler, penjualan minyak Iran anjlok dari hampir 2,8 juta barel per hari pada Mei 2018 menjadi sekitar 200.000 barel per hari pada Agustus 2019, karena para pembeli menarik diri dari pasar.

Namun, Iran dengan cepat merespons dengan bantuan China. Untuk memuluskan transaksi ini, Beijing dan Teheran membangun jaringan penghindaran sanksi yang sangat masif.

Perdagangan dilakukan melalui faktur palsu yang mengeklaim minyak tersebut berasal dari negara lain, seperti Oman atau Malaysia.

"China adalah mitra utama Iran dalam menghindari sanksi," kata Max Meizlish dari Foundation for Defense of Democracies, sebuah lembaga think tank yang berbasis di Washington.

"Iran tidak akan mampu melawan perang ini tanpa dukungan bertahun-tahun yang telah diterimanya dari China," sambungnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved