Berita Viral

Berkali-kali Lontarkan Ancaman, Iran Sebut Trump Gugup dan Bodoh

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran melalui platform Truth Social

Editor: AbdiTumanggor
Istimewa
DONALD TRUMP - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut Iran sebagai pemimpin bodoh. (WIKIMEDIA COMMONS/THE WHITE HOUSE) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali melontarkan ancaman keras terhadap Iran melalui platform Truth Social.

Dalam unggahan pada Minggu (5/4/2026), ia menegaskan ultimatum 48 jam agar Iran segera menyepakati penghentian perang.

Ancaman tersebut disampaikan dengan bahasa kasar, termasuk makian, yang memperlihatkan intensitas retorika yang semakin meningkat.

Trump menyebut bahwa hari Selasa akan menjadi “Hari penghancuran pembangkit listrik, jembatan, semuanya dalam satu hari, di Iran.”

Sehari sebelumnya, Trump juga menulis ancaman serupa dengan menyebut “pintu neraka akan terbuka” bagi Iran jika tidak memenuhi tuntutannya.

Fokus ancaman ini berkaitan dengan Selat Hormuz, jalur vital perdagangan energi dunia, yang menurut Trump harus segera dibuka oleh Iran.

Respons Iran: Menyebut Trump Gugup dan Bodoh

Komando militer pusat Iran, melalui Komandan Ali Abdullahi Abadi, menilai ancaman Trump sebagai tanda kelemahan psikologis.

Ia menyebut ancaman tersebut sebagai tindakan “tidak berdaya, gugup, tidak seimbang, dan bodoh.”

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran tidak gentar menghadapi retorika Trump, melainkan justru menekankan ketidakstabilan yang mereka lihat pada kepemimpinan AS.

Baca juga: Pertarungan Narasi AS-Iran: Antara Klaim Kemenangan dan Kegagalan

Baca juga: UEA-Bahrain-Kuwait Kena Imbas, Iran Serang Sektor Air dan Energi Teluk

Baca juga: Balas Ancaman Trump, Iran: Pintu Neraka yang Terbuka Untukmu

Gejolak Internal Militer AS

Di tengah eskalasi eksternal, Amerika Serikat juga menghadapi krisis internal.

Jenderal Randy George, Kepala Staf Angkatan Darat, dipaksa mengundurkan diri setelah Menteri Pertahanan Pete Hegseth meminta pensiunnya segera.

Dalam email yang bocor dan dikonfirmasi keasliannya oleh CBS News, George menulis pesan menohok bahwa prajurit Amerika layak dipimpin oleh “pemimpin yang berani dengan karakter yang kuat.”

Email tersebut dianggap sebagai kritik terselubung terhadap kepemimpinan Trump dan jajaran sipil di Pentagon.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved