Berita Internasional

IRGC Tantang Balik AS Usai Donald Trump akan Buka 'Neraka' di Iran dalam 48 Jam

Ancaman tersebut menegaskan AS dan Israel akan melakukan serangan yang lebih dahsyat ke Iran.

TRIBUN MEDAN/KOLASE ISTIMEWA
Nama Mohammad Bagher Ghalibaf mencuat di tengah eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Sosoknya muncul dalam komunikasi tidak langsung dengan Washington. Mohammad Bagher Ghalibaf diduga diincar Presiden Trump untuk dijadikan sebagai pemimpin Iran. 

TRIBUN-MEDAN.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam Iran dengan "pintu neraka" yang akan dibuka di negara itu jika Iran tidak membuka blokade di Selat Hormuz.

“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk MEMBUAT KESEPAKATAN atau MEMBUKA SELAT HORMUZ. Waktu hampir habis - 48 jam sebelum neraka menimpa mereka. Segala kemuliaan bagi TUHAN!” tulis Trump di platform Truth Social, Sabtu (4/4/2026).

Ancaman tersebut menegaskan AS dan Israel akan melakukan serangan yang lebih dahsyat ke Iran.

Komandan Komando Militer Gabungan Iran, yang dikenal sebagai Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Mayor Jenderal Ali Abdollahi Aliabadi mengatakan ancaman Trump adalah pernyataan yang gugup.

Ia menegaskan Iran akan menargetkan tanpa batasan dengan serangan dahsyat dan terus-menerus terhadap semua infrastruktur yang digunakan oleh militer AS dan Israel.

"Sejak awal perang yang dipaksakan ini, kami telah melakukan semua yang kami katakan, dan makna sederhana dari pesan ini adalah bahwa pintu neraka akan terbuka bagi kalian," ujarnya, dikutip dari Al Arabiya.

Sebelumnya, Trump berulang kali mengancam Iran dan memberikan tenggat waktu untuk membuka Selat Hormuz.

Trump telah memberi Teheran waktu hingga 6 April untuk membuka Selat Hormuz, yang secara efektif telah ditutup sejak dimulainya serangan AS-Israel pada 28 Februari, atau fasilitas energinya akan dibom.

Wall Street Journal melaporkan pemerintahan Trump percaya menghancurkan jembatan dan pembangkit listrik akan melumpuhkan program rudal dan nuklir Iran.

Israel Siap Serang Fasilitas Energi Iran, Tunggu Lampu Hijau dari AS

Seorang pejabat senior pertahanan Israel mengatakan pada Sabtu malam lembaga keamanan sedang bersiap untuk melancarkan gelombang serangan baru yang menargetkan fasilitas energi jauh di dalam Iran.

Pejabat Israel itu mengatakan militernya menunggu "lampu hijau" akhir dari pemerintahan AS.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan pertemuan keamanan kecil untuk menyetujui rencana ofensif tambahan, sekaligus mengkonfirmasi angkatan udaranya baru-baru ini telah menargetkan fasilitas petrokimia Iran, lapor Aawsat.

Netanyahu mengatakan operasi tersebut difokuskan pada penghancuran "mesin uang" Iran, dan mencatat 70 persen dari kapasitas produksi baja dan petrokimia yang diandalkan Teheran untuk membiayai kegiatan militernya telah terkena serangan.

Persiapan ini bertepatan dengan ancaman Trump yang memberi Iran tenggat waktu 48 jam untuk membuka Selat Hormuz sebelum AS dan Israel "membuka gerbang neraka" seperti yang dia gambarkan.

Trump mengancam akan memperluas target hingga mencakup jembatan-jembatan penting dan pembangkit listrik jika blokade Iran berlanjut.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved