Breaking News

Berita Internasional

Sosok Min Aung Hlaing, Eks Pemimpin Junta Militer Jadi Presiden Myanmar

Strategi ini dimulai dengan pengunduran dirinya dari jabatan Panglima Tertinggi awal pekan ini.

irrawaddy.com
Jenderal Min Aung Hlaing 

TRIBUN-MEDAN.com - Babak baru politik Myanmar resmi dimulai. Mantan pemimpin junta militer, Jenderal Min Aung Hlaing, terpilih sebagai Presiden Myanmar melalui pemungutan suara di parlemen pada Jumat 3 April 2026. 

Langkah ini menandai transisi formal kekuasaan militer menuju pemerintahan presidensial.

Kemenangan ini menyusul rangkaian pemilu pada Desember dan Januari lalu.

Meski begitu, proses demokrasi tersebut menuai kritik tajam dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pemerintah Barat, yang melabelinya sebagai "pemilu palsu" demi melegitimasi kekuasaan militer yang berkelanjutan.

Jalan Mulus Menuju Kursi Kepresidenan

Bagaimana sebenarnya kiat Min Aung Hlaing mengamankan kursi tertinggi di Myanmar?

Strategi ini dimulai dengan pengunduran dirinya dari jabatan Panglima Tertinggi awal pekan ini.

Langkah tersebut diambil agar ia bisa maju dalam pemungutan suara parlemen sebagai warga sipil.

Hasilnya sudah bisa ditebak. Partai Persatuan, Solidaritas, dan Pembangunan (USDP) yang berafiliasi erat dengan militer berhasil menguasai lebih dari 80 persen kursi parlemen.

Dominasi mutlak ini memberikan karpet merah bagi pria berusia 69 tahun tersebut untuk meraih mayoritas suara yang diperlukan.

Sejatinya, Min Aung Hlaing telah menjadi pemimpin de facto Myanmar sejak kudeta berdarah tahun 2021.

Kala itu, militer menggulingkan pemerintahan sah pimpinan Aung San Suu Kyi, yang kini tengah menjalani hukuman 27 tahun penjara sebuah proses hukum yang dikecam luas oleh aktivis hak asasi manusia.

Sebagai bagian dari transisi ini, Min Aung Hlaing telah menyerahkan komando angkatan bersenjata kepada sekutu terdekatnya, Ye Win Oo, yang selama ini dikenal sebagai "mata dan telinga" sang jenderal.

Siapa Sebenarnya Min Aung Hlaing?

Sosok yang mendominasi panggung politik Myanmar dalam beberapa tahun terakhir ini berasal dari kelompok etnis Dawei.

Karier militernya tidak didapat dengan instan; ia sempat belajar hukum sebelum akhirnya berhasil menembus sekolah pelatihan perwira pada percobaan ketiganya.

Namanya mulai mencuat saat memimpin operasi melawan pemberontak etnis.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved