Berita Viral

Dampak Selat Hormuz: Selain Filipina Darurat Nasional, Kini Vietnam, Thailand, Kamboja, dan Myanmar

Setelah Filipina darurat nasional karena krisis energri, kini Vietnam juga mulai mengalami krisis, akibat blokade Selat Hormuz oleh Iran. 

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN
Dampak penutupan Selat Hormuz terhadap pasokan energi di Asia Tenggara. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Setelah Filipina yang telah darurat nasional karena krisis energri, kini Vietnam juga mulai mengalami krisis, akibat blokade Selat Hormuz oleh Iran. Negara ini menghadapi tekanan ekonomi akibat kelangkaan energi, yang kini merembet ke sektor transportasi dan pariwisata.

Keterbatasan pasokan bahan bakar yang sebagian masih bergantung pada impor telah memaksa Vietnam Airlines membatalkan puluhan penerbangan domestik sejak April. Gangguan jalur penerbangan internasional, terutama yang transit di Timur Tengah, turut memicu pembatalan massal wisatawan Eropa.

Dampaknya meluas ke sektor perhotelan dan jasa, dengan tingkat hunian hotel menurun tajam, khususnya di kawasan wisata seperti Hanoi.

Meski demikian, Vietnam masih memiliki tingkat ketahanan relatif berkat pasokan listrik domestik dari tenaga air dan gas alam, serta jaringan mitra energi seperti Rusia, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan.

Namun, jika krisis berkepanjangan, stabilitas ekonomi negara ini tetap berada dalam risiko, menurut laporan Economic Time Vietnam.

Menghadapi tekanan kenaikan harga minyak global, pemerintah Vietnam secara fleksibel menggunakan berbagai instrumen seperti Dana Stabilisasi Harga Bahan Bakar, penyesuaian pajak dan biaya, serta pengendalian siklus penyesuaian harga untuk membatasi "guncangan" terhadap pasar domestik.

Bersamaan dengan itu, pasokan dipastikan melalui koordinasi antara impor dan produksi kilang domestik. Dari sisi permintaan, Vietnam mempromosikan solusi hemat energi dan meningkatkan efisiensi di sektor industri dan perumahan. 

"Program-program yang mendorong penggunaan transportasi umum, pengembangan kendaraan listrik, dan promosi pengaturan kerja fleksibel secara bertahap diimplementasikan, terutama di kota-kota besar," menurut laporan media Vietnam, Daidoanket, dikutip Sabtu (28/3/2026).

Di sektor manufaktur, banyak bisnis telah secara proaktif mengoptimalkan proses dan mengurangi konsumsi bahan bakar untuk menurunkan biaya input. 

Dalam jangka panjang, periode volatilitas ini juga akan mendorong Vietnam untuk mempercepat transisi energinya, dengan fokus pada pengembangan sumber energi terbarukan seperti tenaga angin dan tenaga surya, sekaligus meningkatkan perencanaan tenaga listrik dan infrastruktur transmisi.

Hal ini tidak hanya akan membantu mengurangi ketergantungan pada energi impor tetapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi terhadap guncangan eksternal.

Ancaman Krisis Ekonomi di Asia Tenggara

Selain Vietnam, kondisi di negara Asia Tenggara lainnya tak kalah mengkhawatirkan dalam menghadapi ancaman krisis energi. Di Filipina, yang mengimpor sekitar 90 persen minyaknya, Presiden Ferdinand Marcos Jr. telah menetapkan darurat energi.

Pemerintah Filipina mempertimbangkan berbagai langkah darurat, mulai dari subsidi hingga pengurangan hari kerja, di tengah cadangan bahan bakar yang hanya cukup sekitar dua bulan. Sementara itu, Thailand menghadapi tekanan kenaikan harga energi yang berdampak pada biaya listrik dan sektor pariwisata.

Antrean panjang BBM mulai terlihat, dan kelompok berpenghasilan rendah menjadi yang paling terdampak. Negara lain seperti Singapura, Kamboja, Laos, dan Myanmar juga mengalami tekanan akibat terbatasnya cadangan energi dan ketergantungan impor.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved