Berita Viral

Rupiah di Persimpangan: Terancam Sentuh Rp20.000 Per Dolar AS

Di tengah tekanan global yang belum mereda, sejumlah analis menilai rupiah menyimpan kerentanan besar dan berpotensi melemah

Editor: AbdiTumanggor
Tribunnews/Jeprima
Nilai mata uang rupiah semakin tertekan akibat perang Iran. 

TRIBUN-MEDAN.COM - Nilai tukar mata uang rupiah kembali mendapat tekanan.

Di tengah tekanan global yang belum mereda, sejumlah analis menilai rupiah menyimpan kerentanan besar dan berpotensi melemah hingga mendekati Rp 20.000 per dolar AS dalam waktu relatif singkat.

Namun, pemerintah menegaskan pelemahan rupiah masih terkendali dan tidak mencerminkan kondisi krisis.

Pandangan Analis: Rupiah Rapuh di Tengah Gejolak Global

Anthony Budiawan, Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), menilai narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat tidak sepenuhnya sesuai dengan fakta.

Menurutnya, fundamental ekonomi baik fiskal, moneter, maupun nilai tukar sebenarnya lemah.

Ia menyoroti cadangan devisa yang selama ini dianggap sebagai bantalan utama.

Meski besar secara angka—lebih dari 150 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.400 triliun—cadangan tersebut sebagian besar terbentuk dari utang luar negeri.

“Utang luar negeri tidak digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi,” ujarnya.

Dalam praktiknya, stabilitas rupiah sangat bergantung pada arus modal asing.

Ketika aliran dana masuk melambat atau bahkan berbalik keluar, tekanan terhadap nilai tukar meningkat signifikan.

Pola ini berulang dalam satu dekade terakhir:

  • 2014–2015: cadangan devisa turun $9,44 miliar, rupiah melemah 20 persen.
  • 2018: cadangan devisa terkuras $17,13 miliar, rupiah melemah 13,5 persen.
  • 2020 (Covid-19): cadangan devisa turun $10,7 miliar hanya dalam sebulan, rupiah anjlok 20 persen.

Memasuki April 2026, tekanan kembali muncul. Dalam dua bulan pertama, cadangan devisa turun $4,6 miliar meski pemerintah menarik utang luar negeri $7,1 miliar.

Anthony memperkirakan pelemahan rupiah sebesar 15–20 persen bukanlah skenario ekstrem. Dengan posisi saat ini di sekitar Rp 17.000 per dolar AS, depresiasi 20 persen dapat mendorong rupiah ke kisaran Rp 20.400.

Dalam skenario geopolitik yang lebih buruk, pelemahan bahkan bisa terjadi lebih cepat, dalam 3–6 bulan.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved