Berita Viral

Pesan Terakhir Kapten Miswar Sebelum Dinyatakan Hilang di Selat Hormuz, Terkena Ranjau Laut

Capten Miswar, pelaut asal Sulawesi Selatan yang menakhodai kapal tugboat Mussafah 2, dilaporkan hilang kontak

TRIBUN MEDAN/Tribun-timur.com/Muh. Sauki Maulana
CAPTEN MISWAR HILANG- Sumarlin Ahmad (41), adik ipar dari Capten Miswar, saat ditemui Tribun-Timur.com, Sabtu (7/3/2026) sekitar pukul 17.21 Wita sore di kediaman Capten Miswar di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Sulawesi Selatan. 

TRIBUN-MEDAN.com - Di rumah sederhana di Kelurahan Pattedong, Kecamatan Ponrang, Kabupaten Luwu, suasana tak lagi seperti biasanya. Telepon genggam terus diperiksa, seolah menunggu kabar yang tak kunjung datang.

Kapten Miswar, pelaut asal Sulawesi Selatan yang menakhodai kapal tugboat Mussafah 2, dilaporkan hilang kontak di perairan Selat Hormuz, Iran, satu di antara jalur pelayaran paling sibuk di dunia.

Selat Hormuz dengan lebar sekitar 33 kilometer, menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman dan Laut Arab. Perairan tersebut dikenal sebagai jalur pelayaran internasional yang dilewati oleh kapal pengangkut minyak. Sekitar 20 persen konsumsi minyak global melalui selat ini setiap hari.

Kabar itu sampai ke keluarga pada Jumat (6/3/2026). Sejak saat itu, kecemasan menyelimuti rumahnya.

“Informasi awal kami dapat dari rekan kerjanya, Capten Ismail. Katanya kapal yang dinakhodai beliau terkena ranjau laut,” ujar kerabat keluarga, Sumarlin Ahmad (41), saat ditemui Tribun-Timur.com, Sabtu (7/3/2026) di kediaman Capten Miswar, Kelurahan Pattedong, sekitar 25 kilometer dari Ibukota Luwu, Kota Belopa.

Beberapa hari sebelumnya, Miswar masih sempat menghubungi istrinya.

Percakapan terakhir itu terjadi pada Rabu (4/3/2026). Dalam panggilan tersebut, ia mengatakan sedang menjalankan misi membantu kapal lain yang disebut-sebut lebih dulu terkena ranjau di perairan Selat Hormuz.

Namun, dalam percakapan itu juga terselip kegelisahan.

Miswar sempat mengeluhkan gangguan pada sistem navigasi kapal.

“Beliau bilang GPS kapal error. Katanya seperti melihat sesuatu di sekitar kapal dan sempat meminta panduan,” kata Sumarlin.

Setelah itu, komunikasi mulai terputus-putus.

Anaknya masih sempat mencoba mengirim pesan singkat pada Kamis (5/3/2026) siang. Namun pesan itu tidak pernah mendapat balasan.

Sejak saat itu, kabar dari sang kapten tak lagi terdengar.

Di rumahnya di Pattedong, kerabat dan kolega mulai berdatangan. Mobil silih berganti berhenti di depan rumah yang berada di pinggir jalan poros Makassar–Palopo.

Semua datang dengan pertanyaan yang sama: apakah sudah ada kabar?

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved