Utang Kereta Cepat Whoosh

Utang Whoosh Rp 120 Triliun Dibayar Pakai APBN, Purbaya Tunggu Petunjuk Presiden Prabowo

Polemik utang Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh sampai saat ini belum tuntas.

Editor: Juang Naibaho
Biro Pers Setpres
KERETA CEPAT- Presiden RI ke 7, Joko Widodo saat berpose di depan lokomotif Kereta Cepat Jakarta-Bandung, Rabu (13/9/2023) silam di Stasiun Halim, Jakarta Timur. Proyek ini kemudian jadi masalah karena membebani keuangan negara. 

TRIBUN-MEDAN.com - Polemik utang Kereta Cepat Indonesia-China atau Whoosh sampai saat ini belum tuntas.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa masih menunggu petunjuk dari Presiden Prabowo Subianto mengenai skema pembayaran utang Whoosh 100 persen memakai APBN.

"Saya masih tunggu petunjuk. Saya masih tunggu petunjuk," kata Purbaya, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (18/2/2026). 

Oleh karena itu, Purbaya menegaskan dirinya belum tahu bagaimana utang Whoosh dibayar. 

Selama ini, kata dia, solusi baru datang dari CEO Danantara Rosan Roeslani, yang mana itupun belum jelas. 

"Belum tahu. Belum ada petunjuk khusus dari Presiden. Adanya dari Rosan, dari itu kan belum jelas," ucap dia. 

Purbaya menyebut dirinya baru akan melaksanakan sesuatu jika sudah mendapat petunjuk Prabowo. 

"Saya kalau ada petunjuk Presiden saya kerjain, sekarang belum. Paling tidak, ada tapi belum firm," imbuh Purbaya. 

Total Utang Rp 120 Triliun

Proyek Kereta Cepat Whoosh menimbulkan beban utang yang cukup besar. 

Total utang Kereta Cepat Jakarta-Bandung mencapai sekitar 7,27 miliar dollar AS atau sekitar Rp 120,38 triliun (kurs Rp 16.500 per dollar AS). 

Dari total itu, 75 persen dibiayai melalui pinjaman China Development Bank (CDB) dengan bunga dua persen per tahun dan tenor 40 tahun. 

Seiring berjalannya waktu, biaya proyek membengkak akibat cost overrun hingga 1,2 miliar dollar AS. 

Tambahan utang tersebut dikenakan bunga di atas tiga persen per tahun. 

Pinjaman tambahan sebesar 542,7 juta dollar AS digunakan untuk menutup pembengkakan biaya yang menjadi tanggungan konsorsium Indonesia sebesar 75 persen. 

Sisanya dipenuhi melalui penyertaan modal negara (PMN) dari APBN.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved