Berita Viral

PILU Orang Tua Bocah SD yang Akhiri Hidup Gegara Tak Dibeli Buku dan Pena Tergolong Miskin Ekstrem

Keluarga bocah SD di Ngada NTT yang akhiri hidup gegara tak mampu membeli pena dan buku tergolong miskin ekstrem. 

Istimewa
Olah TKP dalam penyelidikan siswa SD yang diduga melakukan bunuh diri di Ngada, NTT(Tribun Flores) 

TRIBUN-MEDAN.com - Keluarga bocah SD di Ngada NTT yang akhiri hidup gegara tak mampu membeli pena dan buku tergolong miskin ekstrem. 

Kasus bocah SD akhiri hidup gegara tak dibelikan pena dan buku mengguncang pemerintah. 

Pemerintah dianggap tidak memberikan jaminan pendidikan dasar. 

Anak SD berinisial YBR (10) itu mengakhiri hidup diduga karena tekanan ekonomi, tak mampu membeli buku dan pena.

Namun, dugaan motif tak mampu membeli buku dan pena itu telah dibantah oleh Bupati Ngada, Raymundus Bena.

YBR ditemukan meninggal dunia di pohon cengkeh, Kamis (29/1/2026).

Raymundus mengatakan, keluarga YBR masuk dalam kategori miskin ekstrem desil 1.

Desil adalah sistem pengelompokan masyarakat ke dalam 10 kelompok berdasarkan tingkat kesejahteraan.

Di mana desil 1 adalah kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah dan desil 10 adalah yang tertinggi.

Sistem ini sering digunakan dalam program bantuan sosial pemerintah.

Baca juga: KADES di Magelang Hilang 2 Bulan Setelah Warga Protes, Keluarga Ngaku Tak Tahu, Kedua Kalinya Kabur

Baca juga: GERAK-GERIK Syauqi Sebelum Bunuh Ibu, Kakak, dan Adiknya Pakai Racun Tikus, Sempat Pesta Miras

Desil ini digunakan dalam program-program penanggulangan kemiskinan dan bantuan sosial untuk memastikan bantuan yang diberikan tepat sasaran.

Pembagian desil:

Desil 1: Sangat Miskin
Desil 2: Miskin
Desil 3: Hampir Miskin
Desil 4: Menengah Bawah
Desil 5: Menengah Bawah yang Stabil
Desil 6-10: Menengah sampai Sangat Kaya
Kondisi keluarga YBR yang termasuk dalam desil 1 berdampak langsung pada pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, termasuk kebutuhan pendidikannya.

“Dari hasil pemantauan lapangan, faktor dominan yang mempengaruhi kondisi psikologis korban adalah kemiskinan ekstrem."

"Minimnya pendampingan orang tua, beban ekonomi keluarga, serta tekanan sosial yang dialami,” kata Raymundus saat konferensi pers di Aula Rumah Jabatan Bupati Ngada, Kamis (5/2/2026), dilansir TribunFlores.com.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved