Berita Viral

ALASAN Guru SMK Laporkan Kepsek dan Rekan Seprofesi ke Polda Usai Dikeroyok Siswa di Jambi

Agus tak hanya melaporkan siswanya, tetapi juga kepala sekolah dan rekannya sesama guru di sekolah tersebut.

Editor: AbdiTumanggor
TRIBUN MEDAN/TRIBUN JAMBI
Seorang guru bernama Agus Saputra mengalami pengeroyokan dari sejumlah siswa SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim). 

Ringkasan Berita:
  • Guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra dikeroyok oleh siswanya. 
  • Pengeroyokan terjadi setelah Agus menampar siswa yang meneriakinya dengan kata tak pantas.
  • Kasus yang sempat viral di media sosial ini berbuntut panjang setelah Agus melaporkan siswa yang mengeroyoknya ke Polda Jambi.
  • Ternyata, Agus tak hanya melaporkan siswanya, tetapi juga kepala sekolah dan rekannya sesama guru di sekolah tersebut.

 

TRIBUN-MEDAN.COM - Kasus guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra yang dikeroyok oleh sejumlah siswanya di Jambi merembes ke guru lain dan kepala sekolah.

Pengeroyokan terjadi setelah Agus menampar siswa yang meneriakinya dengan kata tak pantas.

Kasus yang sempat viral di media sosial ini berbuntut panjang setelah Agus melaporkan siswa yang mengeroyoknya ke Polda Jambi.

Ternyata, Agus tak hanya melaporkan siswanya, tetapi juga kepala sekolah dan rekannya sesama guru di sekolah tersebut.

Langkah hukum itu ditempuh Agus setelah proses mediasi di tingkat sekolah menemui jalan buntu.

"Semua anak-anak yang terlibat, kepala sekolah, wakil kurikulum, guru-guru yang tertentu saya laporkan semua," kata Agus, dikutip Tribunnews dari tayangan YouTube Official iNews, Selasa (20/1/2026).

Agus menjelaskan keputusannya melaporkan kepala sekolah dan rekannya sesama guru lantaran dianggap bersikap pasif selama konflik berlangsung.

Ia menyebut pihak sekolah melakukan pembiaran sehingga kasus ini berlarut-larut.

"Karena saya menuntut keadilan di sini, sudah dibicirakan secara musyawarah, namun mereka membiarkan hal ini berlanjut," ungkapnya.

Menurutnya, pihak sekolah sudah mengetahui soal perundungan yang dialaminya oleh siswa selama ini.

Sebelumnya, Agus mengaku mendapat perundungan dari para siswa di sekolah tersebut selama bertahun-tahun.

Agus menduga sikap bungkam kepala sekolah dan rekannya itu karena alasan keamanan.

"(Pihak sekolah sudah tahu perundungan berlangsung lama) tapi mereka memang membungkam karena topologi atau geografis penduduk, mereka tinggal di sana," jelasnya.

Ia merasa menjadi satu-satunya guru yang bersikap kritis dan vokal dalam membentuk karakter siswa.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved