Berita Viral

PERJUANGAN Lansia Usy Tambunan Selamat Dari Banjir di Tukka, Kaki Tertimpa Tembok: Kupanggil Tuhan

Perjuangan lansia Usy Tambunan (60) selamat dari banjir dan longsor di Kecamatan Tukka Tapanuli Tengah cuku dramatis. 

TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Usy Tambunan saat diwawancarai di Kelurahan  Hutanabolon, Kecamatan Tukka, Tapteng, Selasa (16/12/2025). Usy satu diantara penyintas banjir yang selamat. 

TRIBUN-MEDAN.com - Perjuangan lansia Usy Tambunan (60) selamat dari banjir dan longsor di Kecamatan Tukka Tapanuli Tengah cuku dramatis. 

Usy Tambunan yang sudah tidak muda lagi terus memanggil Tuhan ketika tertimpa tembok. 

Usy Tambunan menceritakan detik-detik bisa selamat dari insiden tersebut. 

Sambil memegang tongkat dan tudung kepala dengan motif kain sarung kotak-kotak berwarna biru mengatakan kakinya sempat tertimpa material tembok.  

Dikatakannya, ada sekitar 1,5 jam bertarung melawan  arus banjir yang sudah setinggi 2 meter  sambil kakinya yang tertimpa rubuhan tembok rumah ibunya.

"Saat itu, banjir sudah seleher saya, ternyata rumah roboh dihantam banjir. Temboknya itu, kena pahaku. Enggak bisa kuperkirakan kekmana. Tapi kupanggillah Tuhan, Tuhan gerakkan kaki ku ini," ucapnya kepada Tribun Medan.

Dikatakannya, ia awalnya sudah berlari dari rumah ibunya mencari tempat aman ke gereja. 

Namun, karena ibunya kedinginan, akhirnya ia kembali ke rumah sang ibu, untuk  ambil baju hangat.

"Setelah ku panggil Tuhan, kek ada yang menggerakkan kaki dan tembok ini. Terus berenang aku, kulihat enggak ada lagi orang. Semuanya kayu di situ. Aku berenang selama satu jam untuk menyebrang ke gereja," jelasnya.

Baca juga: Tak Kenal Lelah, Brimob Polda Sumut Sigap Bantu Warga Pulihkan Aktivitas Pascabencana di Taput

Baca juga: Tas dan Tawa Baru untuk Anak-anak Sibolga, Polri Pulihkan Luka Pascabencana

Seperti mukjizat, kata Usy ia berkali-kali berteriak, agar Tuhannya menyelamatkannya bersama sang ibu.

"Ku panggil tuhan sepanjang berenang selama 1,5 jam ini. Ternyata sampai di gereja, mamakku sudah meninggal. Tapi enggak mau aku tinggalkan mamakku. Ada 2 hari 3 malam aku di gereja tanpa makan dan minum biar sama mamakku," jelasnya.

Pada saat air mulai surut, Usy barulah bergerak dari Gereja untuk menguburkan jasad sang ibu.

"Rumahku hancur, awalnya ada pendeta yang datang ke rumah untuk menolong mamakku yang udah stroke ini. Diangkat  mamakku ke gereja. Rupanya pas aku hanyut, mamakku nanya aku di mana, tapi pendeta bilang, aku baik-baik aja. Enggak lama dari sana meninggal mamak tanpa kulihat kayak mana dia meninggal," ucapnya.

Selama dua hari tiga malam di gereja, ia pun berkali-kali berdoa kepada Tuhannya agar diberi keselamatan dan kekuatan.

"Aku lihat orang-orang sudah jalan menuju ke simpang Sipange. Aku tetap di gereja. Gak menyangka hujan dan banjir separah ini," katanya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved