Berita Viral

REAKSI Suami Dewi Astutik Istrinya Ditangkap di Kamboja Jadi Gembong Narkoba, Tahunya Kerja TKW

Tidak ada tanda-tanda kemewahan, hanya kesahajaan yang mencerminkan kehidupan sehari-hari.  

Tayang:
Tribunnews.com
REAKSI SUAMI DEWI - Suami dari Dewi Astutik yakni Sarno (kiri) kaget betul istrinya menjadi gembong narkoba yang di tangkap di Kamboja oleh Badan Narkotika Nasional (BNN). 

TRIBUN-MEDAN.com - Suami dari Dewi Astutik yakni Sarno kaget betul istrinya menjadi gembong narkoba yang di tangkap di Kamboja oleh Badan Narkotika Nasional (BNN).

Sarno sama sekali tak tahu apa-apa terkait Dewi Astutik sebagai gembong narkoba, padahal ia hanya tahu bekerja sebagai tenaga kerja wanita (TKW).

Dewi Astutik merupakan gembong narkoba internasional asal Indonesia yang beroperasi di wilayah Golden Triangle.

Ia ditangkap di Sihanoukville, Kamboja, melalui operasi senyap lintas negara yang dipimpin oleh Direktur Penindakan dan Pengejaran BNN, Roy Hardi Siahaan pada Senin (1/12/2025).

Sarno suami Dewi Astutik mengaku syok, ia hanya pasrah melihat istrinya ditangkap.

Baca juga: Usai Cerai, Andre Taulany Ngaku Masih Mau Nikah Lagi hingga Santai Dijodoh-jodohkan

"Saya syok, tapi saya pasrah. Lihat di foto benar itu istri saya (Dewi Astutik alias Pariyatin),” ungkap Sarno dilansir Tribun Jatim Network, Senin (1/12/2025).

Di balik reputasi besar yang kini disandang istrinya, rumah Dewi Astutik di Lingkungan Jepun, Balong, tampak sederhana.

Tidak ada tanda-tanda kemewahan, hanya kesahajaan yang mencerminkan kehidupan sehari-hari.  

Sarno menjelaskan, Dewi sempat bekerja di Taiwan selama 10 tahun.

Ia pulang ke Indonesia pada 2023, lalu kembali berangkat ke luar negeri pada 2024.  

"Sebelum puasa, tahun 2024. Pamitnya ke rumah bosnya yang dulu di Taiwan,” kata Sarno.

Baca juga: Zulkifli Hasan Panggul Beras di Lokasi Banjir, Inul Daratista: Bapak Sendirian Manggul, Lucu Deh

Namun, Dewi justru ditangkap di Kamboja oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, KBRI Phnom Penh, Atase Pertahanan RI di Kamboja, serta Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI.  

“Ya pamitnya kayak gitu (berangkat ke Taiwan). Aku nggak tahu sama sekali. Katanya ke rumah majikan yang dulu."

"Sudah itu nggak tahu kemana-mana,” tambah Sarno.  

Sarno mengaku syok ketika melihat foto penangkapan Dewi di media.

Ia menegaskan tidak mengetahui sepak terjang istrinya sebagai gembong narkoba. 

“Di media ada fotonya, saya syok dan kaget. Tapi saya pasrah. Di rumah saja susah didiknya. Tapi ya gimana,” paparnya.  

“Soal gembong narkoba? Saya tidak tahu, soal sepak terjangnya nggak tahu saya. Tahunya kerja sebagai TKW, pembantu rumah tangga,” pungkasnya.

Baca juga: Akses Komunikasi dan Bantuan Logistik untuk Korban Banjir Langkat Mulai Pulih

Dewi Astutik sebelumnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus penyelundupan 2 ton sabu sejak 2024.

Dewi Astutik merupakan pengendali utama jaringan narkotika internasional Golden Triangle  yang digagalkan pada Mei 2025, serta sejumlah kasus besar pada 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.

Dewi Astutik Tiba di Jakarta

Dikutip Kompas.com dari BNN, Dewi tiba di Jakarta menggunakan pesawat kecil di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa malam.

Dalam video tersebut, Dewi keluar menggunakan masker dan terikat dengan kabel tis dikawal sejumlah petugas dari BNN. Tampak juga pria berseragam TNI AD keluar dari pesawat.   

Sementara, dari sejumlah foto, tampak Dewi yang berambut pendek, mengenakan kaus berwarna terang, duduk di dalam sebuah ruangan dengan tangan terikat kabel ties.

Di sampingnya tampak petugas berseragam BNN dan petugas lain berpakaian taktis dengan wajah tertutup.

Ruangan terlihat seperti kantor pemeriksaan, dengan meja, televisi besar, dekorasi bertema anti-narkoba, serta perlengkapan lainnya.

Foto lainnya memperlihatkan Dewi dibawa keluar ruangan atau kendaraan oleh seorang perempuan lain yang tampak sebagai petugas pendamping.

Petugas di belakang mereka mengenakan seragam taktis lengkap, sementara Dewi berjalan dengan kepala menunduk dan tangan terikat. 

Seorang petugas perempuan mendampinginya, memegang bahunya Dewi mengawal proses pemindahan.

Cara BNN Tangkap Dewi Astutuik

Awal mula BNN mengetahui keberadaan Dewi Astutik setelah menerima informasi intelijen pada 17 November 2025.

Informasi itu langsung ditindaklanjuti oleh Kedeputian Berantas serta Kedeputian Hukum dan Kerja Sama. 

Suyudi menyebut bahwa kerja cepat tim sangat menentukan arah operasi. 

"Begitu informasi intelijen masuk, kami langsung bergerak karena setiap jam menentukan posisi target,” kata Kepala BNN RI, Komjen Pol Suyudi Ario Seto, dikutip Kompas.com

BNN kemudian mengeluarkan surat perintah pemberangkatan tim ke Kamboja pada 25 November 2025.

Tim BNN tiba di Phnom Penh pada 30 November 2025 dan langsung melakukan koordinasi bersama Kepolisian Kamboja, BAIS perwakilan Kamboja, Interpol Polri, KBRI, serta otoritas terkait lainnya. Suyudi menegaskan bahwa dukungan otoritas Kamboja menjadi bagian penting dari keseluruhan operasi. 

“Ini bukan operasi satu lembaga. Semua instansi, baik Indonesia maupun Kamboja, terlibat sejak awal sampai proses eksekusi,” kata Komjen Pol Suyudi Ario Seto. 

Penindakan ini merujuk pada Red Notice Interpol nomor A-3536/3-2025 serta surat DPO BNN RI Nomor 31/INTER/D/X/2024.

Puncak operasi berlangsung pada Senin, 1 Desember 2025, sekitar pukul 13.39 waktu setempat.

Target terdeteksi berada di lobi sebuah hotel di Sihanoukville, menaiki mobil Toyota Prius putih.

Tim gabungan langsung melakukan penindakan dan mencegat kendaraan tersebut.

Dewi Astutik ditangkap saat sedang bersama seorang laki-laki.

Petugas kemudian melakukan verifikasi identitas untuk memastikan bahwa individu tersebut sesuai dengan DPO yang dicari. 

Suyudi menggambarkan situasi penangkapan berlangsung cepat namun terukur. 

"Begitu visual identitas cocok, tim langsung mengamankan target tanpa memberi ruang untuk melarikan diri,” kata Kepala BNN RI.

Dewi Astutik sebelumnya masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus penyelundupan 2 ton sabu sejak 2024.

Dewi Astutik merupakan pengendali utama jaringan narkotika internasional Golden Triangle  yang digagalkan pada Mei 2025, serta sejumlah kasus besar pada 2024 yang terkait jaringan Golden Crescent.

Peran Sentral dalam Jaringan Golden Triangle 

Dalam penyelidikan BNN, terungkap bahwa Dewi Astutik memiliki peranan penting jaringan Golden Triangle. Ia diduga menjadi pemimpin lapangan sekaligus perekrut kurir, dengan sebagian besar kurir berasal dari Indonesia. 

Peran Dewi Astutik tersebut terkuak setelah aparat mengamankan dua ton sabu dari kapal MT Sea Dragon Tarawa di perairan Kepulauan Riau pada 22 Mei 2025. 

Empat awak kapal berstatus WNI diketahui memiliki keterkaitan langsung dengannya. 

Berdasarkan temuan BNN, tiket perjalanan para kurir dipesan oleh pihak yang berhubungan dengan Dewi Astutik. Fakta itu menguatkan posisinya sebagai pengendali jaringan.

Diduga Kendalikan Ratusan Kurir WNI 

BNN mengungkapkan, Dewi Astutik diduga telah mengendalikan ratusan kurir narkoba, mayoritas warga negara Indonesia. 

Sudah lebih dari 110 WNI yang ditangkap di berbagai negara mengaku berada dalam jaringan yang dikendalikan Dewi Astutik.

Penangkapan para kurir tersebut terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Asia hingga Amerika Latin dan Afrika, mengindikasikan luasnya jangkauan operasi jaringan yang dipimpinnya.

Terhubung dengan Sindikat Afrika 
Selain berperan di Golden Triangle, Dewi Astutik juga disebut terhubung dengan sindikat narkoba Afrika yang beroperasi di Thailand dan kawasan Semenanjung Malaya.

Meski diyakini BNN bukan sebagai pimpinan tertinggi, Dewi Astutik dinilai memiliki posisi strategis dalam struktur organisasi jaringan tersebut.

Koneksi lintas benua itu membuat Dewi Astutik masuk radar otoritas internasional, termasuk sempat menjadi buronan Korea Selatan.

Sosok Sebenarnya Dewi Astutik

Nama Dewi Astutik menjadi sorotan setelah Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Marthinus Hukom saat mengungkap penyelundupan 2 ton sabu senilai Rp 5 triliun dari KM Sea Dragon Tarawa di perairan Karimun, Kepulauan Riau, pada 20 Mei 2025.

Nama Dewi Astutik itu ternyata nama samaran. 

Nama sebenarnya adalah PA (inisial) asal Dukuh Sumber Agung, Desa/Kecamatan Balong, Kabupaten Ponorogo, Jatim. 

Hal ini diungkapkan Kepala Dusun Sumber Agung, Gunawan, Selasa (27/5/2025).

“Nama Dewi Astutik tidak ada. Tetapi alamat itu memang warga sini. Fotonya juga kenal,” katanya, dikutip Tribunjateng.com

Menurutnya, jika sesuai KTP maupun paspor warga mengenal namanya berinisial PA. 

Diakui Gunawan, PA memang bekerja di luar negeri.

“Memang kerja di luar negeri dan sudah lama berangkatnya. Pernah bekerja di Hongkong dan Taiwan, dan terakhir ini katanya bekerja di Kamboja,” urainya.

Salah satu warga, Sri Wahyuni mengatakan hal yang sama.

Kata dia tidak ada nama Dewi Astutik di lingkungannya.

“Lihat di media sosial memang seperti warga sini. Tetapi namanya bukan Dewi Astutik melainkan PA,” pungkasnya.

Sejak lama, Dewi Astutik diketahui bekerja sebagai pekerja migran Indonesia (PMI). Ia pernah bekerja di Hongkong, Taiwan, dan terakhir kali Kamboja.

Dewi Astutik diduga menggunakan identitas palsu milik anggota keluarganya. Warga sekitar mengenalnya dengan nama asli PA, bukan Dewi Astutik.

(Tribun-Medan.com)

Artikel ini telah tayang di TribunSumsel.com

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved