Berita Medan

Festival Musikalisasi Puisi, Rico Waas: Seni dan Budaya Jadi Jiwa Pembangunan Kota

Ratusan seniman, akademisi, hingga pelajar tampak memadati lokasi, larut dalam pertunjukan yang hidup dan penuh energi.

Tayang:
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Dedy Kurniawan
Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas hadiri Festival Musikalisasi Puisi Kopi dan Kepo. Festival yang digagas Medan Theater ini mengangkat karya puisi dari buku Kopi dan Kepo tulisan Hasan Al Bana. Ratusan seniman, akademisi, hingga pelajar tampak memadati lokasi, larut dalam pertunjukan yang hidup dan penuh energi. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Suasana syarat seni dan budaya hadir di Taman Budaya Medan. Alunan musik berpadu dengan bait-bait puisi, menghadirkan harmoni yang menyentuh rasa. 

Wali Kota Medan Rico Waas hadir, memberi penegasan bahwa pembangunan kota tak melulu soal fisik, tetapi juga tentang ruang rasa dan kebudayaan. Kehadiran orang nomor satu di Pemerintah Kota Medan itu dalam Festival Musikalisasi Puisi Kopi dan Kepo datang membawa pesan. 

"Kota yang maju adalah kota yang merawat seni, sastra, dan kreativitas warganya," katanya, Minggu (3/5/2026). 

Festival yang digagas Medan Theater ini mengangkat karya puisi dari buku Kopi dan Kepo tulisan Hasan Al Bana.

Ratusan seniman, akademisi, hingga pelajar tampak memadati lokasi, larut dalam pertunjukan yang hidup dan penuh energi.

Dalam sambutannya, Rico Waas mengaku kehadirannya dilandasi rasa “kopi” dan “kepo” yang ia maknai secara filosofis.

Menurutnya, kopi adalah simbol jeda, ketenangan, dan ruang merenung dari hiruk-pikuk kehidupan. 

Sementara kepo adalah dorongan rasa ingin tahu yang membuat manusia terus menggali makna kehidupan.

“Bangsa ini akan kuat jika kebudayaan, intelektual, dan rasa kita terus dijaga. Rasa mencintai, rasa memiliki, dan rasa menelaah kehidupan harus terus hidup,” kata Rico Waas, didampingi Plt Kadis Pendidikan dan Kebudayaan Laksamana Putra Siregar serta Kabid Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata, Amsar.

Ia juga menyoroti pola penulisan puisi yang dinilainya memiliki kemiripan dengan sastra Melayu, sebagai cerminan kekayaan budaya lokal yang bisa terus dikembangkan generasi muda.

“Membangun kota tidak hanya tentang gedung tinggi, rumah sakit, atau infrastruktur fisik. Seni dan budaya adalah elemen penting dalam kehidupan kota,” tegasnya.

Di akhir sambutan, Rico Waas secara resmi membuka festival, sembari memberikan apresiasi kepada para penulis, komunitas teater, dan pegiat seni yang terus menjaga denyut kebudayaan di Kota Medan.

Sebelumnya, Founder Medan Theater, Ahmad Munawar Lubis, menyampaikan bahwa festival ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan perayaan atas “rasa” yang kerap terabaikan.

Ia menjelaskan, karya-karya yang ditampilkan merupakan kristalisasi emosi manusia—mulai dari keresahan, tawa yang tertahan, hingga air mata yang jatuh dalam diam.

“Medan Theater tidak dibangun di atas kemegahan gedung, tetapi di atas kepercayaan dan kesetiaan untuk mengubah rasa sakit menjadi keindahan,” ujarnya.

Festival Musikalisasi Puisi Kopi dan Kepo pun berlangsung dalam suasana hangat dan sarat makna.

Pertunjukan yang juga menghadirkan musik dari grup 7 Keliling ini menjadi ruang pertemuan antara sastra, musik, dan semangat kebudayaan.

"Lebih dari sekadar panggung hiburan, festival ini membawa harapan baru bagi tumbuhnya ruang-ruang kreatif dan kebangkitan ekosistem seni di Kota Medan," katanya. 

(Dyk/Tribun-Medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved