Medan Terkini
Kisah Nuruliyah, Jemaah Calon Haji Asal Medan yang Kumpulkan Recehan Kedai Kecil selama 13 Tahun
Bertahun-tahun lamanya, Nuruliyah (68) menyimpan uang receh dari hasil jualan di kedai kecil miliknya.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bertahun-tahun lamanya, Nuruliyah (68) menyimpan uang receh dari hasil jualan di kedai kecil miliknya. Kadang jumlahnya tak seberapa, kadang hanya sisa dari kebutuhan harian.
Namun uang yang dikumpulkan sedikit demi sedikit itu kini berubah menjadi tiket perjalanan menuju Tanah Suci.
Di Asrama Haji Medan, Nuruliyah tampak tenang menanti keberangkatan bersama sang suami.
Calon jemaah haji asal Medan itu akhirnya mewujudkan impian berhaji setelah perjuangan panjang yang dimulai dari usaha sederhana di rumah.
Bukan pengusaha besar, bukan pula pegawai bergaji tetap. Sehari-hari, Nuruliyah membuka kedai kecil-kecilan dan menerima jahit kodian. Dari penghasilan itulah ia mulai menabung.
“Ya, kira-kira 10 tahun nabung dulu baru bisa mendaftar. Baru nabung lagi 13 tahun baru bisa berangkat tahun ini,” ujarnya.
Ia tak pernah menunggu punya uang banyak untuk mulai menyimpan. Jika ada hasil jualan, sebagian disisihkan. Jika ada upah menjahit, masuk tabungan. Sedikit demi sedikit, tanpa terasa, jumlahnya terus bertambah.
“Kadang ada sedikit, disimpan sedikit. Lama-lama terkumpul. Gak tahu saya, tiba-tiba udah ada,” katanya sambil tersenyum.
Tak sedikit tetangga yang ikut merasa haru dan heran dengan kegigihan ibu 5 anak tersebut.
Dari mulai menyekolahkan anak-anak. Hingga berhasil menghantarkannya menunaikan rukun islam kelima tersebut.
Suaminya pun ikut berjuang dengan pekerjaan serabutan. Kadang menarik becak, kadang mengambil pekerjaan lain yang tersedia. Kehidupan mereka jauh dari kemewahan, tetapi tak pernah kekurangan harapan.
“Bapak juga angkut kardus dan bahan rongsokan dari satu toko ke toko lain,” jelasnya dengan nada sedikit bergetar.
Nuruliyah menjawab sederhana dengan pertanyaan tetangga, bagaimana dirinya bisa mewujudkan itu semua.
“Semua atas izin Allah juga,” ucapnya singkat.
Bagi Nuruliyah, rezeki bukan soal besar kecilnya penghasilan, tetapi soal keberkahan dan kesungguhan menyisihkan apa yang ada.
Setelah mendaftar pada 2013, penantian panjang itu akhirnya tiba pada tahun ini. Ia dan suami dipanggil menjadi tamu Allah.
Kisah Nuruliyah menjadi bukti, perjalanan ke Tanah Suci tak selalu dimulai dari tabungan besar.
Kadang, ia berawal dari recehan di laci kedai kecil, dari suara mesin jahit di rumah, dan dari keyakinan yang dijaga bertahun-tahun.
“Kalau Allah mengasih, bisa aja rupanya,” katanya.
Bersama dengan 360 jemaah lainnya yang tergabung dalam kloter 7, Nuruliyah berangkat ke tanah suci, Rabu (29/4/2026), pukul 07.05 WIB.
Adapun Kloter 07 terdiri dari jemaah asal Kabupaten Asahan sebanyak 236 orang, Kota Medan 116 orang, Kabupaten Deli Serdang 2 orang, dan Kabupaten Labuhan Batu 1 orang, dengan total 148 laki-laki dan 212 perempuan.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Gerombolan Geng Motor Konvoi Sambil Bawa Senjata Tajam, Dua Orang Diamankan |
|
|---|
| Sembunyikan 22 Kg Sabu di Tangki Mobil Modifikasi, Kurir Asal Aceh Diringkus di Parkiran Mal Medan |
|
|---|
| Respons Kampus USU terkait Penangkapan Mahasiswa Teknik yang Diduga Edarkan Ekstasi |
|
|---|
| Rekayasa Lalin di Medan Jelang Mayday, Kadishub Irsan Nasution Ungkap Titik-titik Pengalihan Arus |
|
|---|
| Mantan Sopir yang Bakar Rumah Hakim Khamozaro Waruwu Jalani Sidang Besok di PN Medan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Nuruliyah-calon-jemaah-haji-Kloter-07-Embarkasi-Medan-saat-berada-di-Asrama-Haji-Medan.jpg)