Berita Medan

Berani Mencoba di Usia Muda, Cara Devina Zulkifli Menemukan Potensi Diri Lewat Beragam Pengalaman

Tantangan kembali datang saat Devina lulus sekolah. Ia harus menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan ekonomi.

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
SOSOK- Devina Zulkifli, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sumatera Utara yang aktif mengeksplorasi diri melalui organisasi media, volunteer, hingga dunia komunikasi, berpose usai kegiatan kampus. Perjalanan dari Tanjungbalai membentuknya menjadi pribadi mandiri dan berani mencoba berbagai pengalaman. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Bagi sebagian anak muda, menemukan jati diri bukanlah proses yang instan. Ada yang harus mencoba berbagai hal, jatuh, bangkit, hingga akhirnya memahami arah hidupnya. 

Hal itulah yang dijalani Devina Zulkifli, mahasiswi asal Tanjungbalai yang kini menapaki proses eksplorasi diri lewat beragam pengalaman.

Tumbuh di kota kecil yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan, Devina menjalani masa kecil yang sederhana. Tidak ada pusat perbelanjaan besar atau gedung-gedung tinggi. Namun dari tempat itulah ia mulai membangun keberanian untuk bermimpi lebih jauh.

“Di Tanjungbalai aku tumbuh. Dari situ juga aku mulai berani untuk keluar dan mencoba hal baru,” ujarnya.

Sejak kecil, kehidupan Devina tidak selalu mudah. Ia kehilangan sosok ayah saat masih duduk di bangku kelas 5 SD. Kepergian sang ayah membuat keluarganya harus beradaptasi dengan kondisi baru. Ibunya yang sebelumnya tidak bekerja, harus menjadi tulang punggung keluarga.

Demi mencukupi kebutuhan empat anaknya, sang ibu bahkan merantau ke Malaysia. Sejak saat itu, Devina dan saudara-saudaranya terbiasa menjalani hidup dengan mandiri.

“Kami tidak terbiasa dengan kata-kata motivasi, tapi dari keadaan kami belajar bahwa hidup tidak selalu ada yang menemani,” katanya.

Nilai kemandirian itu kemudian menjadi fondasi kuat dalam perjalanan hidupnya.

Tantangan kembali datang saat Devina lulus sekolah. Ia harus menunda kuliah selama satu tahun karena keterbatasan ekonomi.

Di saat teman-temannya mulai menjalani kehidupan kampus, Devina justru harus bekerja dan menunggu kesempatan.

Masa gap year itu menjadi salah satu fase terberat baginya. Namun di sisi lain, pengalaman tersebut membentuk mental yang lebih kuat.

“Aku sedih melihat teman-teman sudah kuliah. Tapi dari situ aku belajar bahwa setiap orang punya waktunya masing-masing,” ujarnya.

Dari Pilihan Terakhir Menjadi Jalan Terbaik

Awalnya, Devina bercita-cita melanjutkan pendidikan di Universitas Sumatera Utara atau Universitas Brawijaya dengan jurusan Hubungan Internasional.

Namun keterbatasan membawanya ke Universitas Islam Negeri Sumatera Utara dengan jurusan Ilmu Komunikasi pilihan yang awalnya dianggap sebagai alternatif terakhir.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved