Sketsa
Bingung Tingkat Dewa
Seorang perempuan dijambret, dan sang suami, mengejar pelaku penjambretan tersebut. Kejadian 25 April 2025, tapi melejit jadi viral baru-baru ini.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Randy P.F Hutagaol
Sketsa
Bingung Tingkat Dewa
“Ah, kalok kek gini, memang bingung tingkat dewa, lah, awak jadinya,” kata Idam Marley sambil matanya tak lepas dari layar ponselnya.
Duduk di sebelahnya Riki Rikardo dan Ucok Morning, menghadap papan catur. Formasi yang dibentuk dari pembukaan Sicilia sedang berantakan karena Ucok dua kali meminta pengulangan langkah. Skor sementara 2 ½ - 1 ½ untuk Riki Rikardo. Partai kelima, laga penentuan, tapi tak urung kalimat Idam membuat keduanya menoleh juga.
“Apa yang Mamak bingungkan?” tanya Riki.
“Iya, sampek tingkat dewa pulak. Macam betul aja kau,” sahut Ucok.
Idam menunjukkan layar ponsel ke Riki Rikardo dan Ucok Morning. Menunjukkan satu berita perihal penjambretan yang berujung aksi di jalan raya. Seorang perempuan dijambret, dan sang suami, mengejar pelaku penjambretan tersebut. Kejadian 25 April 2025, tapi melejit jadi viral baru-baru ini.
“Ada jambret ni ceritanya, dua orang, boncengan naik kereta. Udah dipetik orang tu tas korban, ibuk-ibuk, langsung ngegas, lah, terus dikejar sama suami korban itu naek mobil. Main geber saling selip sana selip sini macam adegan di film-film eksyen India.”
“Dapat?” tanya Ucok tanpa menggeser mata dari papan. “Skak! Hati-hati kau, Ki. Bentar lagi tumbang kau ini.”
“Apanya yang dapat, Om?” Idam Marley malah balik bertanya.
“Jambretnya, lah! Masak bijik catur Si Riki.”
“O... Dapat, Om. Mati pun.”
“Lha, kok, bisa? Dimassakan?”
“Nggak. Jambret yang bawa kereta oleng pas mo belok karena disenggol mobil suami itu ibuk-ibuk. Goyang, lah, setangnya. Gak bisa dikendalikan, naek ke trotoar terus nabrak tembok. Berserak orang tu, tebuntang ke aspal. Keknya pecah kepalanya, nggak bisa diselamatkan.”
“Alah, udah pas, lah, itu. Udah bagus. Setidaknya agak cepat orang tu ketemu malaikat. Nggak pala sampek tersiksa bonyok-bonyok dipukuli orang. Nggak sampek patah-patah tangan kaki. Gak sampek dibakar.”
“Iya, kok, Mamak pulak yang jadi bingung. Instan karma namanya itu, Mak. Langsung Tuhan yang kasih hukuman. Cash!” sebut Riki Rikardo.
“Justru itu yang aku bingungkan, Ki. Pelaku, kan, mati, ni, ceritanya. Harusnya kasusnya berhenti, kan, ya?”
“Ya, iya, lah. Siapa lagi yang mo diadili? Mo ke mana dicari keterangan? Ke kuburan? Kereta yang dipakek orang tu untuk jambret bisa jadi bukti. Tas ibuk-ibuk itu jugak. Cumak, kan, nggak mungkin juga kereta itu ditanyak-tanyak.”
“Nah, ini agak laen pulak. Tahu kelen, untuk dua jambret yang udah monding, udah mendiang, memang nggak diteruskan lagi kasusnya, tapi justru plisi tangkap suami korban jambret yang ngejar jambret-jambret itu. Dia yang tersangka jadinya.”
Riki Rikardo meletakkan lagi kuda yang baru diangkatnya, lalu menatap Ucok Morning, yang ternyata juga sedang memandangnya. Lalu, hampir berbarengan, keduanya menoleh ke arah Idam Marley dengan sorot mata penasaran menjurus menyangsikan.
“Bah! Nggak salah baca kau, Dam?” tanya Ucok.
“Iya, nanti jambretnya yang tersangka.”
“Mana pulak salah. Ni, kelen bacalah sendiri,” ujar Idam seraya menyodorkan ponselnya. Riki mengambil ponsel Idam, membaca beritanya, dan seketika berubah air mukanya. Berkerut pula keningnya.
“Eh, iya, betul. Kok, bisa, ya?”
“Itulah! Makanya bingung aku. Cak, lah, kelen pikir secara logika. Harusnya yang kena jambret itu, kan, yang jadi korban. Dia ngejar jambret, kan, untuk selamatkan hartanya. Itu hak dia, kan? Hasil keringatnya sendiri, kan? Biniknya udah nangis-nangis, nggak mungkin, lah, dia cumak bilang ‘sabar, lah, kau, dek. Mungkin memang sudah rezekinya jambret-jambret jahanam itu’. Pasti, lah, dia kejar. Plisi-plisi itu pun kalok kejadian sama mereka, binik-binik orang tu yang kenak jambret, kenak begal, kujamin seribu persen gak akan diam-diam kek orang longor. Malah mungkin bisa lebih ngerih lagi.”
“Plisi bilang pasalnya karena lalai, Mak.”
“Makin bingung, kan, kau, Ki? Lalai karena nggak ngingatkan, gitu? Mo cemananya jadinya? Pas ngejar, si suami korban itu tereak-tereak ke jambretnya, ‘woi, hati-hati kelen, belok, di depan ada tembok’. Kek gitu?”
Pertandingan catur resmi bubar. Ucok Morning telah pula buka-buka Google, mencari tahu perkembangan-perkembangan anyar kasus ini, dan dengan segera tawanya meledak, terbahak-bahak.
“Ini lebih lucu lagi kurasa, Dam,” ucapnya di sela tawa. “Si suami korban jambret sempat di kakinya dipasangkan gelang gitu. Gelang GePeEs. Keknya supaya terdeteksi posisinya di mana. Mungkin supaya gak bisa lari ke mana-mana.”
“Alamak! Kek penjahat-penjahat kelas kakap di film-film barat, ya, Om,” sahut Riki Rikardo menimpali.
“Ini masih belum terlalu lucu, Ki.”
“Ada lagi yang lebih lucu?”
“Ada pengamat, dari UGeEm, bilang kalok apa yang dibikin polisi udah betul. Dia bilang, polisi memang gak bisa putuskan orang bersalah ato gak salah. Dia bilang, suami si korban bukan membela diri. Dia bilang, batas membela diri itu kalok gak ada yang mati.”
“Oalah, iya, ingat aku, Mak. Dulu ada korban begal, terus ngelawan begalnya, ditikamnya begal itu sampai mati dan dia yang dibui.”
“Tapi ada ni yang lebih lucu lagi?”
“Ada?”
“Plisi bikin mediasi. Apa tu istilahnya, restorative justice. Orang jaksa juga bikin. Dipertemukan, lah, orang tu semua. Korban dan keluarga jambret. Ada jugak pengacara-pengacara. Cumak belum ada hasilnya. Kemungkinan berujung dame. Pastinya korban sudah minta maaf ke keluarga jambret, dan kabarnya di situ jugak ada pulak percakapan tentang tali asih.”
“Anjay! Hahahaha..., Betulan tali asih? Apa maksudnya semacam uang dame gitu?
“Bahasanya tali asih. Ecek-eceknya kek korban bencana, gitu, lah.”
“O Mai Gat!
“Ato dianggap pahlawan mungkin, ya?”
“Makjang! Bagi keluarga mereka mungkin berjasa, Mak.”
“Iya, sebangsa orang-orang yang mulia dan berjasa.”
“Aduh!”
“Cumak kurasa lebih mirip uang dame-dame, ini. Delapan enam, Bro!”
“Parah... Parah... ”
Idam Marley, yang sudah kembali ke balik steling untuk meracik kopi pancung pesanan pengunjung kedai yang belum lama datang, juga ikut tertawa.
“Macam mo kena jambret dua kali orang tu, ya,” bilangnya.
Tawa Riki Rikardo belum benar-benar reda. Terengah-engah dia mengatur napas. “Yang kayak-kayak gini, lah, yang bikin orang makin hopeless sama plisi. Yang udah jelas dibikin tak jelas, yang sebenarnya tak jelas, malah dibikin-bikin supaya kesannya jadi jelas.”
“Sama kek peribahasa, ya. Cemana tu peribahasanya? ‘Kalok hilang ayam jangan lapor plisi, bisa jadi ikut hilang sapi’.
“Ah, mana pulak ada peribahasa kek gitu, Mak Dam. Ngarang-ngarang Mamak,” kata Riki Rikardo menimpali.
“Terserah, lah, namanya apa. Yang jelas udah sering kejadian. Gak percaya kau tanya Om Ucok, lah. Pernah ada pengalaman dia.”
“Iya, Om? Hilang sapi, Om?”
“Bukan sapi lagi. Hilang kereta awak dicuri maleng, malah lewong sebijik lagi untuk tetek bengek administrasi. Yang hilang tetap gak dapat, sial kali. Hahahaha...”
Ocik Nensi, yang sedari tadi duduk sendirian, menonton potongan-potongan pendek video tentang misteri kematian Lula Lahfah, pacar selebritas media sosial Reza Arap, di TikTok, melempar celetukan.
“Sebenarnya masih agak untung jugak kau itu, Cok.”
“Eh, untung cemana, Cik?”
“Untung kau nggak dijadikan tersangka maleng keretamu sendiri.” (t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Bingung-Tingkat-Dewa_iSketsa_Ilustrasi-by-AI.jpg)