Berita Medan
Tak Tahu Surat Rumahnya Sudah Berpindah Tangan, Guru Madrasah di Medan Menangis Rumahnya Dirusak
Namun, permasalahan bermula pada akhir Desember tahun 2025 lalu dimana ada pihak yang melakukan pengerusakan.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Syelvia Aprilla, warga Jalan Camar 4, Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan tak kuasa membendung air mata.
Wanita yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di salah satu Madrasah tak jauh dari rumahnya itu mengaku, rumah yang ditinggalinya bersama keluarganya telah dirusak orang.
Saat ditemui di rumahnya, Syelvia mengaku sudah tinggal di rumah tersebut sejak tahun 1995 silam bersama dengan orangtua dan keluarganya.
Namun, permasalahan bermula pada akhir Desember tahun 2025 lalu dimana ada pihak yang melakukan pengerusakan.
"Kami udah dari tahun 95 di sini sama mamak kami. Untuk pengerusakan ini sudah dua kali, pertama tanggal 26 Desember tahun lalu ada orang bawa massa terus merusak rumah kami," ujar Syelvia, Minggu (18/1/2026).
Tak hanya pengerusakan, oknum yang membawa massa tersebut dikatakan Syelvia juga memintanya untuk angkat kaki dari rumah peninggalan orangtuanya itu.
Katanya, saat bertemu dengan Syelvia dan keluarga oknum tersebut mengaku jika ia telah memiliki hak atas rumah Syelvia.
"Dia memaksa saya keluar dari rumah. Dia bilang kalau rumah ini sudah punya dia, padahal kami punya bukti kalau kami punya hak rumah ini," ucapnya.
Tak berhenti sampai di situ, dirinya mengaku oknum yang sama datang kembali ke rumahnya pada Rabu (14/1/2026) kemarin dengan kembali membawa massa. Saat itu, sekitar belasan orang dikerahkan untuk membongkar rumah yang akhirnya membuat rumah berwarna cokelat itu porak poranda.
Amatan www.tribun-medan.com, rumah Syelvia mengalami kerusakan di sejumlah titik. Seperti beberapa kaca jendela tampak sudah pecah, terparah sebagian atap rumahnya yang juga turut dibongkar oleh orang suruhan oknum tersebut.
"Bawa alat mereka seperti linggis, martil, untuk menghancurkan rumah kami. Pertama manjat pagar mereka terus menghancurkan kaca, sama seng kami dibongkar juga," ungkapnya.
Ketika ditanya kondisi saat massa merangsek ke rumahnya melakukan pengerusakan, istri dari Darwin ini bercerita seluruh keluarganya yang saat itu ada di rumah sontak ketakutan.
Bahkan, anaknya yang saat itu juga sedang berada di dalam kamar langsung menjerit ketakutan.
"Ya sudah ketakutan kami orang dia begitu sampai langsung bilang bongkar. Anak saya pun sudah ketakutan, langsung minta tolong kami," katanya.
Saat itu, Syelvia langsung menanyakan aksi yang dilakukan oleh oknum yang diketahui berprofesi sebagai pengacara itu.
Karena mendengar ucapan jika Syelvia tak lagi punya hak atas rumah tersebut, ia langsung terkaget karena sepengetahuannya surat rumah tersebut berada di bank penyedia KPR perumahan tersebut.
Namun, oknum tersebut mengaku jika surat rumah tersebut mengaku sudah membelinya dan meminta agar penghuni angkat kaki dari rumah.
Setelah perdebatan panjang, dirinya mengaku oknum tersebut meminta sejumlah uang jika Syelvia mau mempertahankan rumahnya itu.
"Katanya saya tebus surat itu Rp 100 juta, kalau saya enggak mau saya dikasih kompensasi untuk pindah Rp 10 juta. Ya saya enggak mau, karena ini masih hak kami tinggal di sini.
Ditanya perihal surat rumah tersebut, Syelvia mengungkapkan jika sebelum permasalahan ini muncul surat tanah rumah tersebut masih berada di bank karena belum lunas dan ibunya masih memiliki hutang.
Ia mengaku, pada tahun 2019 lalu pihak bank sempat memberikan informasi kepada Syelvia jika rumah tersebut akan dilelang karena masuk dalam aset menunggak.
Ia mengaku, memang orangtuanya masih memiliki hutang di bank tersebut sebesar empat juta Rupiah.
Dimana, jika diakumulasikan dengan seluruh bunga maka ia diminta membayar sebesar Rp 25 juta.
Tak ingin kehilangan rumahnya, dirinya mengaku saat itu langsung ke bank tersebut untuk mempertanyakan langkah yang bisa diambil.
Setelah berkoordinasi dengan pihak bank, Syelvia diarahkan untuk ikut menjadi peserta lelang dengan mengikuti serangkaian proses yang ditentukan oleh bank.
"Karena saya punya niat bayar, ya saya ikuti. Saya diminta jadi peserta lelang dengan persyaratan awal jadi nasabah, saya diminta nabung pertama Rp 10 juta.
Bahkan saya saat itu dijanjikan sama orang lelang jadi pemenang, karena alasan saya itu penghuni rumah," jelas wanita yang mengenakan hijab berwarna merah ini.
Namun, berjalannya waktu hingga tahun 2020 ia mengetahui jika surat rumahnya sudah berpindah tangan ke salah satu agen properti yang diketahui mitra dari bank tersebut.
Hingga singkat cerita, permasalahan surat rumahnya berakhir adanya pengerusakan dan permintaan ia angkat kaki dari rumahnya.
(mns/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Medan Masuk Nominasi Penghargaan Kemendagri, Rico Waas Paparkan Strategi Creative Finance |
|
|---|
| Remaja 16 Tahun Terseret Arus Sungai Belawan Ditemukan Mengapung di Bawah Jembatan |
|
|---|
| Dari Hobi Jadi Usaha, Cerita Fauziah Lubis Bangun Bisnis Donat Kentang Master |
|
|---|
| Paripurna HUT ke-78 Sumut, Wali Kota Medan Harapkan Pembangunan Merata |
|
|---|
| Kapal Nelayan Belawan Alami Kerusakan Mesin, Terombang-ambing 5 Hari di Laut, ABK Dievakuasi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/RUMAH-DIRUSAK-Syelvia-Aprilla-tak-kuasa-membendung-air.jpg)