Kuliner Minang yang Bikin Rindu Kampung Halaman saat Ramadan

Di sudut-sudut kawasan seperti Jalan Amaliun hingga Kampung Aur, aroma santan, rempah, dan makanan bakar menyeruak

Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Husna Fadilla Tarigan
KUE KHAS MINANG - Asap mengepul dari tungku pembakaran tradisional saat pedagang menyiapkan bika bakar khas Minang di kawasan Jalan Amaliun, Medan, menjelang waktu berbuka puasa, Kamis (19/2/2026). Kue bika yang dijual seharga Rp 2.000 per buah ini tetap dimasak menggunakan sabut kelapa untuk menghasilkan aroma smoky khas yang menjadi favorit warga selama Ramadan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Bulan suci Ramadan di Kota Medan selalu menghadirkan potret multikulturalisme yang terasa hangat, terutama melalui ragam kuliner berbuka puasa.

Di antara hiruk-pikuk warga berburu takjil, masakan khas Minangkabau justru menjadi salah satu magnet utama yang tak pernah sepi peminat.

Di sudut-sudut kawasan seperti Jalan Amaliun hingga Kampung Aur, aroma santan, rempah, dan makanan bakar menyeruak menjelang azan magrib.

Kehadiran kuliner Minang bukan sekadar pelengkap pasar Ramadan, melainkan menjadi pengobat rasa rindu kampung halaman bagi masyarakat Minang yang merantau di Kota Medan. Bagi para perantau, rasa sering kali menjadi pengingat paling kuat tentang rumah.

Salah satunya dirasakan Ita (61), warga keturunan Minang yang telah lama menetap di Medan. Ia mengaku setiap Ramadan selalu mencari menu-menu khas kampungnya karena mengingatkan masa kecil saat berbuka puasa bersama keluarga.

“Dulu waktu kecil, makanan seperti ini selalu jadi favorit saat berbuka,” ujarnya sambil mengenang.

Baca juga: Kuliner Khas Puasa di Medan: Rico Waas Paling Suka Kue-Kue Melayu dan Bubur Pedas

Ita bercerita, sala bulek menjadi makanan kesukaannya sejak kecil. Gorengan gurih khas Pariaman itu hampir selalu hadir di meja berbuka keluarga. Namun, ada satu menu yang menurutnya paling sarat kenangan bika bakar.

Menurutnya, bika bakar adalah hidangan wajib yang selalu ada di rumah, bukan hanya untuk konsumsi keluarga, tetapi juga dibuat untuk dijual. Ia masih mengingat jelas bagaimana proses pembuatannya dilakukan secara tradisional.

“Dulu tepung berasnya digiling manual. Capek memang, tapi dari situ rasanya beda, lebih gurih dan otentik,” kenangnya.

Kisah Ita menjadi gambaran bagaimana kuliner Minang di Medan tidak sekadar soal rasa, tetapi juga tentang identitas dan ingatan kolektif para perantau.

Demikian pula Ida (46) yang juga seorang perantau di Medan. Ia merasakan bagaimana kerinduan soal kuliner khas berbuka puasa tetap dapat dinikmati di Medan.

“Kalau makanan khas minang biasanya beli di Amaliun,” ungkapnya.

Beberapa makanan khas Minang yang biasa jadi menu berbuka puasa dan dapat ditemui di Medan diantaranya lamang tapai yang memiliki filosofi kebersamaan dalam bambu. Lamang tapai tetap menjadi primadona di pasar takjil kawasan Jalan Amaliun dan Kampung Aur. Di Medan, satu paket lamang tapai dijual sekitar Rp 20.000 hingga Rp 35.000.

Berbeda dari takjil manis, Lontong Gulai Pakis menghadirkan rasa gurih rempah yang kuat. Hidangan ini identik dengan Kampung Aur, kawasan tepian Sungai Deli yang banyak dihuni masyarakat Minang.

Di Jalan Amaliun, aroma asap dari tungku arang menjadi penanda hadirnya bika bakar khas Minang. Penganan berbahan tepung beras, kelapa parut, gula, dan garam ini memiliki karakter berbeda dari bika lainnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved