Berita Medan

Kuliner Khas Puasa di Medan: Rico Waas Paling Suka Kue-Kue Melayu dan Bubur Pedas

Wali Kota Medan Rico Waas sebut menu kesukaan saat bulan puasa, mulai dari Kue-Kue Melayu hingga Bubur Pedas.

Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Tria Rizki

Khas Puasa di Medan, Wali Kota Rico Waas : Paling Suka Kue-Kue Melayu dan Bubur Pedas

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ramadan di Medan selalu punya cerita. Bukan hanya tentang lampu-lampu temaram di sudut masjid, gema azan magrib yang dinanti, atau pasar tumpah yang menjajakan aneka takjil, tetapi juga tentang rasa-rasa syukur, rasa kebersamaan, dan tentu saja rasa dari hidangan tradisional yang hanya benar-benar terasa istimewa saat bulan suci tiba.

Tahun 2026, Muhammadiyah lebih awal sehari menjalani ibadah puasa pada 18 Februari 2026. Sedangkan Pemerintah Republik Indonesia menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah pada 19 Februari 2026.

Wali Kota Medan mengaku, ada satu momen yang paling ia nantikan setiap Ramadan, saat berbuka puasa dengan kue-kue Melayu dan bubur pedas tradisional.

“Yang penting puasanya kita diberi ridho, sehat dimudahkan mendekatkan diri pada Allah. Kita berdoa Kota Medan makin baik, makin maju,” ujarnya, usai memantau hilal di lantai 7 Observatorium Ilmu Falak (OIF) UMSU Medan. 

Sembari tersenyum mengenang hidangan masa kecilnya. Bagi orang nomor satu di Kota Medan itu, Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah, melainkan ruang perenungan. 

Di sela kesibukan memimpin kota, bulan puasa menjadi momen untuk kembali pada nilai-nilai sederhana, kebersamaan keluarga, doa-doa yang dipanjatkan dengan khusyuk, dan makanan tradisional yang sarat kenangan.

“Kalau makan tradisional yang paling dinanti itu kue-kue Melayu, bubur-bubur pedas tradisional. Pas bulan puasa itu salah satu yang dinantikan. Kalau kalian apa?” tuturnya.

Rico Waas menekankan bahwa potensi perbedaan waktu mulainya awal puasa tidak boleh menjadi pemicu debat. Sebaliknya, justru harus dipandang sebagai kekayaan perspektif dalam beragama.

"Kita sudah berpuluh-puluh tahun hidup dalam saling pengertian. Mau mulainya barengan atau berbeda kita tetap saling menghormati sebagai satu bangsa Indonesia yang saling menyayangi dan menguatkan," kata Rico Waas.


Aroma Pasar Takjil dan Jejak Tradisi

Di berbagai sudut Kota Medan, terutama menjelang magrib, suasana berubah menjadi lebih hidup. Pedagang berderet menjajakan penganan khas, dari yang manis hingga gurih, dari yang legit hingga pedas berempah.

Ramadan di Medan tak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya Melayu dan ragam etnis di Sumatera Utara. Setiap hidangan bukan sekadar makanan, melainkan jejak sejarah dan percampuran tradisi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved