Breaking News

Berita Medan

Dessert Club Medan Bangkit Lagi Setelah Vakum, Kini Kembali Eksis di Lidah Warga Medan

Nico, menuturkan bahwa mereka baru satu tahun menetap di Medan setelah sebelumnya menjalankan usaha di Brastagi.

Penulis: Joy Silvana Aritonang | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/JOY SILVANA ARITONANG
Sansan membuat adonan brownies alpukat, yang merupakan menu paling banyak diminati oleh pelanggan. Produk Dessert Club Medan juga tersedia di berbagai platform daring seperti GrabFood, GoFood, ShopeeFood, serta di beberapa gerai seperti K3 Mart Sun Plaza, Merdeka Walk, dan Cemara Asri. 

TRIBUN-MEDAN, MEDAN- Setelah sempat vakum selama satu setengah tahun, Dessert Club Medan kembali hadir memanjakan pencinta dessert di Kota Medan.

Berlokasi di Jalan Terong, Petisah Hulu, Kecamatan Medan Baru, usaha yang kini dikelola oleh pasangan suami istri ini perlahan bangkit dan kembali menemukan momentumnya.

Nico, menuturkan bahwa mereka baru satu tahun menetap di Medan setelah sebelumnya menjalankan usaha di Brastagi.

Ia mengatakan bahwa Dessert Club Medan sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 2019.

“Kita baru satu tahun di Medan, awalnya itu kita di Brastagi, kak. Tapi untuk Dessert Club Medan, udah dari tahun 2019,” ujarnya.

Nico menceritakan bahwa usaha mereka sempat berjaya sebelum akhirnya harus berhenti sementara karena berbagai kendala. Ia mengibaratkan proses membangun kembali bisnisnya seperti menaiki roller coaster tanpa sabuk pengaman, penuh tantangan dan risiko.

“Dulunya Dessert Club Medan ini sempat berjaya, terus vakum 1,5 tahun. Jadi kita ngulang lagi dari awal,” ungkapnya.

“Rasanya itu kayak kita main roller coaster, tapi nggak pakai sabuk pengaman. Merintis ulang itu nggak semudah yang kita bayangkan, walaupun dulunya udah punya nama besar,” tambahnya.

Menurutnya, masa-masa awal membangun kembali usaha tersebut sangat berat. Pesanan kadang hanya datang satu dalam sehari, bahkan pernah tiga hari tanpa ada pesanan sama sekali.

“Kadang orderan cuma satu, kadang udah tiga hari pun orderan nggak ada,” kenangnya.

Nico bahkan bercerita bahwa mereka sempat harus menjual oven listrik untuk membayar tagihan listrik.

“Bahkan lebih serunya lagi, dulu kita punya oven listrik, tapi harus dijual untuk bayar tagihan listrik,” katanya sambil tertawa kecil.

Namun kini, usaha mereka mulai menunjukkan hasil yang manis. Nico mengakui bahwa kegiatan Car Free Day (CFD) di Medan menjadi titik balik bagi bisnis mereka. Ia menyebut CFD sebagai “tulang punggung” Dessert Club Medan karena dari sanalah mereka mulai mendapatkan banyak pelanggan.

“Sekarang alhamdulillah, kita terbantu sama Car Free Day Medan. Jadi, CFD ini seperti tulang punggung kita,” ujarnya.

Meski begitu, perjuangan di CFD tidak selalu mudah. Nico mengisahkan bahwa mereka dulunya harus datang sejak subuh untuk berebut tempat, dan tidak jarang lapaknya tertutup mobil Samsat atau bahkan diusir oleh Satpol PP.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved