Miniatur Dusun Ampera dalam Pertunjukan Bertajuk Pagelaran Seni Malam Berinai
Sebelumnya, acara dibuka oleh Bupati Langkat Syah Afandin yang hadir bersama jajarannya, di antaranya, Asisten 1 Rudi Kinandung, Kadis Kominfo,
TRIBUN-MEDAN.com – STABAT - Berbicara tetang asal muasal wilayah Langkat, maka tak dapat dilepaskan dari eksistensi sebuah perkambungan yang dilabeli dengan Dusun Ampera. Pintu gerbangnya persis di sebelah kanan (dari Arah Medan) setelah Jembatan Sungai Wampu Kota Stabat.
Di dusun ini pula terdapat pusara Raja Langkat, Tuanku Wan Sopan, yang sekaligus menjadi saksi bisu cikal bakal berkembangnya wilayah langkat hingga berkembang pesat seperti saat ini. Pertanda lain akan adanya sebuah kesejarahan di wilayah ini adalah deretan rumah kayu panggung yang masih mendominasi. Sebagian besar berwarna natural hitam cokelat dengan ornamen khas Suku Melayu.
Di tempat eksotis inilah sebuah event digelar, namanya Festival Seni Budaya Kampung Ampera, yang digagas Yayasan Ujung Tanjung Langkat dan dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatera Utara, Senin (15/12/2025).
Permukiman warga ini menjadi semakin istimewa, karena sebagian besar penduduk di permukiman ini merupakan penggiat budaya Melayu. Mereka menguasai seni berbalas pantun, menari, pencak silat, meronggeng, marhaban, memainkan musik, hingga bersenandung.
Baca juga: Lebah Begantong Luncurkan Dokumentasi Karya Budaya
Ada banyak pertunjukan kesenian yang digelar, namun seluruh rangkaiannya dipersatukan dalam satu tema yakni ‘Pagelaran Seni Malam Berinai’. Diawali dengan calon pengantin yang didudukkan di sebuah panggung, selanjutnya disambut dengan nyanyian Marhaban, sebagai sebuah pengharapan, puja-puji, doa keselamatan dan kebaikan Allah, Sang Pencitpa. Dilanjutkan tepung tawar oleh orangtua dan keluarga dekat.
Acara semakin menarik karena dirangkaikan dengan seni berbalas pantun, dagelan-dagelan, serta disisipi narasi yang menjelaskan sejarah, potensi, sumber daya, kelemahan, kendala-kendala serta keterbatasan infrastruktur yang terdapat di Dusun Ampera.
Pemandu acara juga menjelaskan secara detail setiap pertunjukan yang ditampilkan. Seluruh rangkaian acara menjadi memiliki makna yang dalam.
Sehingga, kendati seperti melihat sebuah pertunjukan yang menghibur, namun sesungguhnya penyelenggara sedang menanamkan pengetahuan dan pemahaman kepada penonton, dengan cara yang amat sangat halus tanpa menggurui.
Misalnya saja ketika penampilan Tari Dulang. Di sela pagelaran pemandu menyampaikan asal muasal Tari Dulang termasuk statusnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), serta menguraikan filosofi yang ditampilkan dalam setiap gerak Tari Dulang. Demikian pula ketika tarian Melayu Serampang Duabelas ditampilkan dengan penjelasan terkait kesenian tersebut.
Kegiatan seni budaya ini semakin bernas, dengan program Dialog Kebudayaan yang menampilkan empat narasumber yakni Camat Wampu, Ahmad Fitria, akademisi dan pemain musik Tengku Ryo, serta dua orang penggiat seni Nazmi dan M Joni Arifin.
Dalam kesempatan tersebut, Camat Wampu mengaku bangga dengan kekayaan seni dan budaya yang dimiliki oleh masyarakat Melayu Langkat. Ia bersama jajarannya telah melakukan berbagai upaya untuk memajukan budaya Langkat. Diakuiya, ada hal-hal yang menjadi harapan masyarakt namun belum bisa direalisasikan hingga saat ini.
Sementara Tengku Ryo menyampaikan berbagai peluang yang bisa dilakukan untuk upaya pelestarian kebudayaan melalui program pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kebudayaan dan pemerintah daerah. Apalagi pelestarian budaya ini juga sudah termaktub dalam regulasi terbaru sehingga akses dukungan menjadi semakin terbuka.
Ia juga menyampaikan tantangan global yang akan menggerus kebudayaan dan kearifan lokal yang telah diwariskan leluhur pada masa-masa mendatang. Bahwa pada masanya nanti, tak ada lagi batas teritorial politik yang bernama negara, sehingga perlu kiranya bagi kita untuk mempertahankan budaya dan tradisi sebagai bagian dari identitas diri kita.
Sementara dua penggiat seni, Nazmi dan Joni menyampaikan harapannya, kiranya ke depan ada program-program dari pemerintah yang mendukung kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan masyarakat Melayu. Keduanya juga berharap, dengan potesi yang dimiliki, kiranya Dusun Ampera bisa menjadi sebuah Dusun Kebudayaan, yang akan memperkuat eksistensi dusun tersebut sebagai bagian dari sejarah Langkat.
Sebelumnya, acara dibuka oleh Bupati Langkat Syah Afandin yang hadir bersama jajarannya, di antaranya, Asisten 1 Rudi Kinandung, Kadis Kominfo, Kadis Pariwisata dan Kebudayaan, Camat Wampu, kepala desa, dan lainnya.
Hadir juga dalam acara tersebut pihak Kejeruan Stabat, Tengku Riza, Sekretaris Jenderal Indonesia Diaspora SME Export Empowerment and Development yang juga tokoh Melayu Sumut, Tengku Irham Kelana, musisi dan akademisi Tengku Ryo, serta Tengku Yans Fauzie dari Yayasan Ujung Tanjung sekaligus Ketua Panitia.
| Terdampak Banjir, Bupati Ondim Janjikan Perbaikan Jalan di Dusun Ampera Stabat |
|
|---|
| Lebah Begantong Luncurkan Dokumentasi Karya Budaya |
|
|---|
| Jelajah Warisan Budaya Ajak Anak Muda Mengenal Cagar Budaya Kota Medan |
|
|---|
| Pameran Foto dan Lukis Hidupkan Jejak Candi Kuno, Disambut Antusias Anak Muda |
|
|---|
| Sukronedi, Sarjana F-MIPA yang Fokus pada Pelestarian Kebudayaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Bupati-Kejeruan.jpg)