Nilai Tukar Rupiah

Sejarah Baru Pelemahan Rupiah 15 Mei 2026, Tembus Rp 17.600 per Dollar AS

Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menjadi sejarah baru tembus Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026) pagi.

Tayang:
Editor: Juang Naibaho
TRIBUNNEWS.COM/HERUDIN
Ilustrasi uang. Nilai tukar rupiah kembali melemah dan menjadi sejarah baru tembus Rp 17.600 per dollar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026) pagi. 

Kondisi ini membuat harga energi dan transportasi udara menjadi dua sektor yang paling sensitif terhadap gejolak kurs. 

Tekanan terhadap harga BBM tidak hanya berasal dari kenaikan harga minyak dunia, tetapi juga dari depresiasi rupiah. 

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Yusuf Rendy Manilet mengatakan, lonjakan harga minyak dunia secara langsung memperbesar beban subsidi energi. 

Pada saat yang sama, pelemahan rupiah membuat biaya impor BBM meningkat dalam denominasi rupiah. 

“Jadi dampaknya itu saling memperkuat, bukan berdiri sendiri,” ujar Yusuf, dikutip dari Kontan.co.id. 

Menurut dia, kondisi tersebut membuat ruang fiskal pemerintah semakin terbatas, terutama apabila harga minyak dunia terus naik dan rupiah melemah lebih dalam.

Indonesia sendiri masih mengandalkan impor energi dalam jumlah besar. Kebutuhan minyak Indonesia mencapai sekitar 2,1 juta barrel per hari (bph), sementara produksi domestik belum mencukupi sehingga impor mencapai sekitar 1,5 juta bph. 

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kondisi tersebut membuat pemerintah harus menyiapkan anggaran lebih besar untuk impor energi. 

“Artinya pemerintah harus menyiapkan anggaran yang jauh lebih besar untuk impor energi, apalagi ada kendala distribusi akibat ketegangan di Selat Hormuz,” ujar Ibrahim kepada Kontan.co.id.

Baca juga: Megawati Resmi Perkuat Hyundai Hillstate Misi Raih Juara Liga Voli Korea, Kontrak Mega Fantastis

Tekanan kurs yang semakin dalam mulai menjadi perhatian pemerintah. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengakui masih mengkaji dampak pelemahan rupiah terhadap skema subsidi energi. 

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pelemahan rupiah kini menjadi perhatian jajaran menteri ekonomi Kabinet Merah Putih. 

“Itu kebetulan Pak Menteri (ESDM) sama jajaran menteri-menteri sedang merapatkan hal tersebut ya. Jadi kita tunggu aja,” ujar Laode saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta. 

Meski demikian, pemerintah belum memutuskan adanya penyesuaian harga BBM subsidi. Sebelumnya, pemerintah memastikan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026 meski harga energi dunia berfluktuasi akibat konflik geopolitik.

Pengusaha Penghematan dan Tahan Ekspansi

Kalangan pengusaha menyiapkan langkah antisipasi untuk menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah . Salah satunya dengan menahan ekspansi dan penghematan.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengatakan, pelemahan rupiah yang terus menciptakan sejarah baru menjadi perhatian serius dunia usaha karena memberikan tekanan terhadap struktur biaya dan arus kas perusahaan. 

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved