Elektrifikasi di Kebun Naga dan Sawah: Dukung Transisi Energi, Kerja Petani Kini Lebih Efisien
Elektrifikasi pertanian mendukung transisi energi untuk masa depan berkelanjutan dari bahan bakar fosil ke energi listrik yang lebih hijau.
Penulis: Truly Okto Hasudungan Purba | Editor: Truly Okto Hasudungan Purba
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN – Langit sore di Desa Tiga Pancur, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo terlihat mendung, seolah menahan hujan yang tak jadi turun. Udara lembap dan angin dingin yang berhembus dari lereng Gunung Sinabung perlahan turun menelusuri kebun-kebun warga di desa tersebut, Selasa (2/12/2025). Di tengah barisan tanaman buah naga yang tertata rapi, Terminal Sitepu (49) berjalan mendekati dinding bagian depan rumahnya yang bersebelahan dengan kebun buah naga miliknya. Tangannya meraih saklar dan menekannya ke posisi bawah hingga terdengar suara ‘klik’
Seketika, ratusan cahaya putih kekuningan memancar serentak. Lampu-lampu kecil yang bergantung di kabel pun menyala dan menerangi sekitar 500 pohon buah naga yang tumbuh di atas lahan seluas sekitar setengah hektare. Cahaya yang memantul di sekeliling batang berwana hijau seolah memberi kesan kalau kebun naga telah menjadi menjadi hamparan lentera yang begitu meneduhkan.
Terminal memandangi sejenak kebunnya. Ia memastikan tak ada satu pun lampu yang tidak menyala. “Kalau ada lampu yang tidak menyala, pertumbuhan buahnya tidak maksimal,” kata Terminal kepada Tribun-Medan.com, Selasa (2/12/2025).
Berjarak ratusan kilometer dari Kabupaten Karo, tepatnya di Desa Dalu X, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deliserdang, matahari belum begitu terik ketika Budianto (65) menepuk-nepuk pompa air besar yang terpasang di dekat saluran irigasi, Rabu (3/12/2025) pagi. Kepada dua rekannya sesama petani, Budianto meminta agar aliran listrik dari rumah pompa irigasi dinyalakan. Tak lama kemudian, suara mesin berderu dan air pun mengalir deras ke saluran irigasi yang mengaliri sawah seluas sekitar 27 hektare milik 70 anggota Kelompok Tani Makmur II
Saat ini, para petani akan memasuki musim tanam kedua dalam satu tahun. Seiring dengan musim tanam ini, Budianto yang merupakan Ketua Kelompok Tani Makmur II bersama anggota kelompok lain mulai sibuk memeriksa pompa air dan saluran irigasi. Mereka memastikan sistem irigasi bisa mengalirkan air dengan baik dan merata.
"Tiga hari sebelumnya, anggota kelompok urunan uang untuk membeli token listrik. Totalnya satu juta. Dengan token listrik satu juta ini, sudah bisa mengoperasikan pompa air untuk memompa air dari sungai ke saluran irigasi selama dua minggu,” kata Budianto kepada Tribun-Medan.com, Rabu (3/12/2025).
Dari cahaya lampu di hamparan kebun buah naga petani di Kabupaten Karo hingga deru pompa air yang mengalirkan air ke hamparan sawah di Kabupaten Deliserdang, terdapat satu benang merah yang menghubungkan keduanya: listrik telah mengubah cara kerja petani di Sumatra Utara. Melalui penerapan elektrifikasi pertanian (electrifying agriculture), para petani mampu memanfaatkan energi listrik dengan baik sehingga pekerjaan yang dilakukan lebih efisien dari sisi biaya operasional dan hasil panen.
Terminal memaparkan, cahaya lampu dibutuhkan untuk membantu merangsang pertumbuhan bunga (calon buah) setelah satu tahun ditanam. Cahaya lampu ini menjadi pengganti sinar ultraviolet dari sinar matahari. Karena intensitas cahaya matahari di daerah pegunungan sangat terbatas karena sering turun hujan dan awan berkabut, maka digunakanlah cahaya lampu selama tujuh hingga 10 jam. Proses pembungaan ini berlangsung selama 30 hingga 45 hari. Lampu biasanya dinyalakan setiap hari mulai pukul 18.00 WIB hingga pukul 02.00 WIB keesokan harinya.
Ketika bunga sudah muncul, lampu tidak perlu dinyalakan lagi. Untuk menjadi buah yang siap dipanen, petani menunggu selama tiga hingga empat bulan. Sekitar satu hingga dua minggu setelah panen, pembungaan dapat dilakukan kembali dengan menyalakan lampu. Saat ini, Terminal memiliki satu hektare lahan di dua lokasi yang ditanami sekitar 1.500 pohon buah naga. Dari jumlah tersebut, sekitar 500 pohon diantaranya sedang dalam proses pembungaan buah.
Penerapan elektrifikasi pertanian, kata Terminal membuat para petani buah naga tak perlu menyalakan genset berbahan bakar minyak (BBM) untuk menyalakan lampu. Petani juga tak khawatir kalau mesin genset tiba-tiba mati karena kehabisan bahan bakar. “Dengan menggunakan listrik, pekerjaan petani kini lebih efisien. Kami cukup menyalakan satu stop kontak, maka ratusan lampu akan menyala sekaligus,” kata Terminal.
Dari sisi biaya operasional listrik, Terminal menyebut, ia merasakan efisiensi yang cukup besar. Untuk pemasangan lampu, Terminal merogoh kocek Rp 50 ribu per satu lampu, sudah termasuk instalasi dan pembelian lampu khusus dengan daya 9 watt. Untuk 500 pohon, Terminal mengeluarkan uang Rp 25 juta. Setelah lampu terpasang, Terminal cukup membeli token listrik untuk menghidupkan lampu. Hitungannya, satu lampu hanya membutuhkan biaya Rp 200. Jika lampu perlu menyala selama 30 hari untuk merangsang pembungaan, maka biaya listrik yang dibutuhkan 500 pohon mencapai Rp 3 juta setiap bulan atau Rp 100 ribu per hari.
“Biaya pembelian token tiga juta ini jauh lebih efisien dibandingkan harus membeli BBM untuk menyalakan genset. Tak cukup Rp 100 ribu untuk membeli BBM genset setiap hari. Memang biaya awal untuk membeli lampu dan instalasi cukup besar, tapi hanya sekali saja. Setelah itu, cukup beli token dan mengganti beberapa lampu yang rusak. Saya sendiri sudah lima tahun menerapkan listrik dan instalasinya belum berganti,” kata Terminal.
Efisiensi yang sama juga dirasakan Budianto dan para petani di Kelompok Tani Makmur II. Sejak beralih menerapkan elektrifikasi pertanian pada Januari 2025 lalu, pompa air listrik mampu mengalirkan air ke saluran irigasi dengan lancar. “Kami dapat melakukan penanaman dan panen bulan Agustus lalu,” katanya.
Keberadaan pompa air listrik, kata Budianto, mampu mengefisienkan biaya rutin operasional pompa air hingga 60 persen dibandingkan jika menggunakan BBM. Saat masih menggunakan pompa air BBM, petani mengeluarkan biaya hingga Rp 20 juta untuk sekali musim tanam. Kini, dengan pompa air listrik, mereka cukup mengisi token sekitar Rp 6 juta untuk satu kali musim tanam di lahan 27 hektar. “Kami patungan Rp 50 ribu per keluarga. Kami mengisi token Rp 1 juta per dua minggu mulai dari musim tanam hingga panen. Efisiensi biayanya sangat terasa dibandingkan BBM,” katanya.
“Selain itu, debit air yang dihasilkan pompa air lisrik jauh lebih besar dibanding pompa air BBM. Pekerjaan kami benar-benar semakin efisien. Air bisa dialirkan kapan saja, tenaga untuk mengangkat jerigen BBM tak diperlukan lagi, dan butuh waktu singkat untuk mengairi sawah seluas 27 hektare,” lanjutnya.
| PLN Dominasi PROPER 2025: Dirut Darmawan Prasodjo Raih Green Leadership dan 11 Emas KLH |
|
|---|
| Resmi Berlaku Mulai April Tarif Listrik PLN, Rumah Tangga dan Bisnis, Berikut Rincian Besaran Tarif |
|
|---|
| Air Mata Haru di Langkat, PLN Wujudkan Rumah Layak dan Harapan Baru untuk Keluarga Prasejahtera |
|
|---|
| Kampanye Mudik Mobil Listrik Dongkrak SPKLU, PLN UID Sumut Catat Kinerja Positif Lebaran 2026 |
|
|---|
| PLN UID Sumatera Utara Resmikan DRC & HSSE Center untuk Percepatan dan Keselamatan Kerja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Listrik-Pertanian2.jpg)