MTU Gelar Seminar “One Vision One Team”, Satukan Energi Menuju Masa Depan Mahkota Tricom Unggul

MTU Gelar Seminar “One Vision One Team”, Satukan Energi Menuju Masa Depan Mahkota Tricom Unggul

Editor: Aisyah Sumardi
TRIBUN MEDAN
Pembicara internasional, Suresh Govind foto bersama dengan Ketua Yayasan Pendidikan Universitas Mahkota Tricom, Usli Sarsi, Rektor Universitas MTU, Dompak Pasaribu dan seluruh sivitas akademika Universitas MTU setelah seminar Seminar “One Vision, One Team: Menyatukan Energi untuk Masa Depan Universitas Mahkota Tricom Unggul” di Kampus MTU Gedung Grand Jati Junction Lt. 24 Jalan Perintis Kemerdekan No. 3A Medan, Sabtu 7 Maret 2026. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Universitas Mahkota Tricom Unggul (MTU) menyelenggarakan seminar inspiratif bertajuk “One Vision, One Team: Menyatukan Energi untuk Masa Depan Universitas Mahkota Tricom Unggul.” di Kampus MTU Gedung Grand Jati Junction Lt. 24 Jalan Perintis Kemerdekan No. 3A Medan, Sabtu 7 Maret 2026.

Seminar ini menghadirkan pembicara internasional, Suresh Govind, yang merupakan profesor dari University of Malaya serta Advisor di Asia Pacific Sathya Sai Institute for Human Values Education, Singapura.

“Seminar ini bertujuan untuk memperkuat kesamaan visi dan kolaborasi seluruh sivitas akademika dalam menghadapi perubahan dan tantangan global yang semakin kompleks,” ungkap Rektor Universitas MTU, Dr. Dompak Pasaribu, S.E., M.Si., CPA., CACP.

MTU Gelar Seminar “One Vision One Team”
Rektor Universitas MTU, Dompak Pasaribu didampingi Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Dekan Fakultas Sain dan Teknologi menyerahkan cinderamata kepada Suresh Govind setelah acara seminar Seminar “One Vision, One Team: Menyatukan Energi untuk Masa Depan Universitas Mahkota Tricom Unggul, di Kampus MTU Gedung Grand Jati Junction Lt. 24 Jalan Perintis Kemerdekan No. 3A Medan, Sabtu 7 Maret 2026.

Melalui seminar ini, Universitas MTU berharap seluruh sivitas akademika dapat memiliki satu visi dan satu semangat kebersamaan dalam membangun masa depan universitas. Dengan menyatukan energi dan memperkuat kolaborasi, universitas diharapkan mampu menciptakan ekosistem pendidikan yang adaptif, humanis, dan relevan dengan tantangan global di masa depan.

 

Sedangkan pembicara Prof. Suresh Govind dalam paparannya menyoroti lima pengganggu global utama yang saat ini memengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan tinggi. Kelima faktor tersebut meliputi perkembangan teknologi, keterlibatan tenaga kerja dan restrukturisasi bakat, konsumerisme, pergeseran geopolitik, serta perubahan iklim.

Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi, khususnya kecerdasan buatan seperti ChatGPT, membawa dampak besar terhadap cara manusia belajar, berpikir, dan bekerja.

 

Prof. Suresh juga mengutip sebuah penelitian dari Massachusetts Institute of Technology yang dirilis pada 23 Juni 2025. Penelitian tersebut melibatkan 54 responden berusia 18–39 tahun yang diminta menulis esai menggunakan tiga metode berbeda: dengan bantuan ChatGPT, menggunakan mesin pencari Google, dan tanpa bantuan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok pengguna ChatGPT memiliki tingkat keterlibatan otak paling rendah. Fenomena ini kemudian dikenal dengan istilah “demensia digital,” yaitu kondisi penurunan kemampuan kognitif akibat ketergantungan pada chatbot berbasis AI.

 

Selain tantangan teknologi, Prof. Suresh juga membahas krisis akademik global yang tengah dihadapi oleh banyak universitas. Ia menyoroti adanya ketidaksesuaian antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dengan keterampilan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Banyak pemberi kerja melaporkan bahwa lulusan baru masih kurang memiliki keterampilan dasar seperti menulis email secara jelas, mengelola proyek, bekerja secara kolaboratif, serta disiplin dalam manajemen waktu.

 

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Suresh juga mengutip pemikiran dari George Bernard Shaw yang menyatakan bahwa “mereka yang tidak dapat mengubah pikirannya tidak dapat mengubah apa pun.” Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya perubahan pola pikir dalam menghadapi tantangan masa depan.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa keberhasilan mencapai tujuan tidak hanya bergantung pada niat sadar, tetapi juga dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar yang memiliki kekuatan lebih besar. Otak manusia secara alami cenderung mencari kenyamanan, keamanan, otomatisitas, dan efisiensi, sehingga proses perubahan sering kali dianggap sebagai ancaman. Oleh karena itu, dibutuhkan kesadaran kepemimpinan serta komitmen kuat untuk terus beradaptasi dan berkembang.

 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved