Sumut Terkini

Hujan Guyur Kota Balige Setelah Dua Bulan Musim Kemarau, Warga Gembira

Selain kemarau, angin kencang juga terjadi. Hal ini juga diperparah dengan terjadinya Karhutla yang mencapai ratusan hektar.

Penulis: Maurits Pardosi | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN MEDAN/MAURITS
Kota Balige diguyur hujan, Senin (4/8/2025). 

TRIBUN-MEDAN.com, BALIGE- Musim kemarau panjang terjadi di Kota Balige.

Diperkirakan, musim kemarau terjadi hingga dua bulan.

Dengan demikian, sejumlah areal pertanian menjadi kering.

Selain kemarau, angin kencang juga terjadi. Hal ini juga diperparah dengan terjadinya Karhutla yang mencapai ratusan hektar.

Hari ini, Senin (4/8/2025), warga sekitar bergembira karena hujan deras terjadi. Seorang warga Balige, Jaya Napitupulu (54) berharap hujan deras seperti saat ini terjadi beberapakali lagi. Pasalnya, pertaniannya terganggu.

"Kalau bisa, hujan ini datang lagilah. Pertanian masyarakat pasti terganggu. Hampir dua bulan kemarau terjadi. Dan, karhutla juga terjadi," ujar Jaya Napitupulu (54), Senin (4/8/2025).

"Lahan jadi kering. Anak-anak juga sakit gara-gara asap yang kemarin itu. Seratusan hektar karhutla di Toba. Beberapa bukit yang terdampak tak jauh dari rumah kita ini," sambungnya.

Soal karhutla, kemarin, Minggu (3/8/3025) terjadi pada dua titik; Dolok Tolong dan Tangga Batu Barat.

"Kemarin itu, Dolok Tolong dipenuhi asap hitam. Lalu, ada juga karhutla di daerah Tangga Batu," sambungnya.

Menurutnya, turunnya hujan mampu memadamkan titik-titik api yang ada di kawasan hutan tersebut.

"Kalau sudah seperti ini hujannya, titik api yang masih bertahan di lokasi karhutla bisa padam betul," terangnya.

Sebelumnya, Dinkes Toba juga telah mencatat dampak musim kemarau dan angin kencang yang terjadi di Toba.

Ia mengatakan, musim kemarau panjang dan karhutla mengakibatkan kesehatan masyarakat sekitar terganggu.

Ia terangkan, hampir seluruh puskesmas di Toba mendapat pasien pengidap batuk dan influenza setiap harinya. 

"Ini kan sudah mulai hujan. Beberapa hari atau bahkan dua bulan ini terjadi kemarau panjang. Ditambah lagi terjadinya karhutla. Inilah yang mengakibatkan keluhan masyarakat yakni soal munculnya penyakit," ujar dr Freddi Sibarani beberapa waktu lalu.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved