Kunjungan Jokowi ke Sumut

Bersama Luhut, Franc Bernhard Tumanggor Turut Menyambut Presiden Jokowi di Humbang Hasundutan

Franc Bernhard Tumanggor, Bupati Pakpak Bharat Nonaktif turut menyambut kehadiran rombongan RI, H Joko Widodo di Kabupaten Humbang Hasundutan.

|
Editor: AbdiTumanggor
HO
Bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, Bupati Pakpak Bharat Nonaktif, Franc Bernhard Tumanggor (kanan), turut menyambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Rabu (16/10/2024). (HO) 

TRIBUN-MEDAN.COM - Bersama Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan, Bupati Pakpak Bharat Nonaktif, Franc Bernhard Tumanggor, turut menyambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Rabu (16/10/2024).

Terlihat juga Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, Pj Gubernur Sumut Agus Fatoni, dan Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor.

Ada juga Pangdam I Bukit Barusan Mayjen TNI Mochammad Hasan, dan Kapolda Sumut Irjen Pol Whisnu Hermawan F.

Jokowi dan Franc Bernhard di Humbahas
Franc Bernhard Tumanggor, turut menyambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Rabu (16/10/2024). (HO)

Diketahui, Presiden Jokowi melakukan kunjungan kerja di wilayah Sumut pada tanggal 15-16 Oktober, di antaranya ke Kabupaten Humbang Hasundutan.

Di Kabupaten Humbang Hasundutan, Presiden Jokowi meresmikan Pusat Riset Genomik Pertanian.

Presiden Jokowi menekankan pentingnya peningkatan produksi pangan di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata.

Kepala Negara juga mengatakan, perubahan iklim sekarang ini semakin nyata dirasakan dan dampaknya tidak hanya berkaitan dengan udara panas, tetapi juga produksi pangan dunia menjadi turun.

“Panasnya berapa bulan, hujannya berapa bulan, sulit sekarang ini diprediksi dan dihitung, sehingga menyebabkan produksi pangan, hampir di semua negara turun. Dan ketakutan dunia adalah nantinya terjadi krisis pangan,” kata Presiden Jokowi.

Setelah mendengar sambutan dan arahan Presiden Jokowi, Franc Bernhard Tumanggor sangat berharap, dengan adanya Pusat Riset Genomik ini bisa membantu pertanian di Kabupaten Pakpak Bharat, yang bertetangga dengan Kabupaten Humbang Hasundutan.

"Mungkin dengan penyediaan bibit unggul, membantu penelitian tanah dan sebagainya. Untuk jangka panjangnya akan segera kita persiapkan,"ujar Franc Bernhard.

Sebagaimana diketahui, di Kabupaten Pakpak Bharat sendiri, dalam dua tahun ini telah menggenjot produksi pertanian. Di antaranya sedang mengembangkan Food Estate yang setidaknya sudah mengelola sekitar 55 hektar. Begitu juga halnya dengan pemberdayaan kelompok-kelompok tani akan semakin dioptimalkan.

Luhut Jokowi dan Franc Bernhard
Bersama Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan, Bupati Pakpak Bharat Nonaktif, Franc Bernhard Tumanggor, turut menyambut Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Rabu (16/10/2024). (HO)

Baca juga: Seabrek Program Berkelanjutan di Pakpak Bharat Telah Dikerjakan FRANC BERNHARD - MUTSYUHITO SOLIN

Apresiasi Pusat Riset Genomik Pertanian Humbang Hasundutan

Sebagaimana diberitakan, Presiden Joko Widodo meresmikan Pusat Riset Genomik Pertanian di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumut, Rabu (16/10/2024).

Dalam sambutannya, Presiden Jokowi mengapresiasi peresmian tersebut sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas pertanian nasional di tengah tantangan perubahan iklim global yang semakin nyata. 

"Saya sangat mengapresiasi, sangat menghargai dibukanya Pusat Riset Genomik Pertanian ini agar produksi kita per hektare baik itu kemenyan, baik itu kopi, baik itu padi, baik itu kentang, baik itu bawang merah, bawang putih semuanya per hektare harus naik karena kita telah memiliki pusat riset yang sangat baik di Humbang Hasundutan ini," ujar Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengatakan bahwa saat ini dampak perubahan iklim terhadap produksi pangan dunia semakin sulit diprediksi, serta ancaman krisis pangan yang mengintai banyak negara. Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian cuaca, seperti sulitnya memprediksi periode panas dan hujan, menyebabkan penurunan produksi pangan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved