TRIBUNWIKI
SOSOK Didrikus Kelana, Pengelola Tip Top Restaurant, Pertahankan Orisinal Rasa dan Nuansa
Begitupun dengan ice cream, Kus tetap menggunakan sebuah alat dan metode yang dari dulu digunakan.
Penulis: Angel aginta sembiring | Editor: Ayu Prasandi
Kus juga menyebutkan cerita lainnya ia dengar melalui temannya dari Amerika, ketika berkujung ke Tip-Top, Kus pun menghidangkan ice cream, lalu temannya mengatakan bahwa rasa ice cream nya seperti cita rasa Perang Dunia KeII.
"Cerita-cerita seperti itulah kita tetap pertahankan, karena banyak sekali orang-orang ingin bernostalgia. Saya rasa, saya harus jaga itu, " tuturnya.
Baca juga: Bika Bakar Kuliner Khas Minang, Banyak Diburu Pembeli untuk Berbuka Puasa
Masih Gunakan Batu dan Kayu Untuk Hidangan
Hingga saat ini, Tip-Top dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang mungkin tidak lama lagi akan dihancurkan. Keadaan berubah cepat, tetapi restaurant ini tetap konsisten akan keberadaannya.
Barang-barang lama seperti bangunan, mesin, meja dan kursi serta piano masih tetap digunakan.
Uniknya juga, Tip-Top hingga saat ini masih menggunakan tunku kayu bakar jaman Belanda sejak tahun 1934.
Tungku ini menggunakan kayu bakar berkualitas baik sehingga menghasilkan kue dengan aroma yang harum dan cita rasa yang enak.
Kue-kue istimewa seperti specolaas, saucijsebrood, moorkop, horen dihasilkan dari tungku kayu bakar ini.
Waktu terus berlalu, tetapi restaurant ini tetap konsep, tradisi serta resep-resel lama yang tetap dipertahankan.
Setiap orang dapat melihat sejarah yang tepampang di dinding restaurant tua ini.
Kuh juga mengatakan, Tip-Top tidak hanya dikenal dengan makanan dan kue yang enak, tetapi juga merupakan bagian dari sejarah dimana Tip-Top juga merupakan salah satu restaurant tertua di Indonesia.
(cr9/Tribun-Medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pengelola-Tip-Top-Restaurant-Didrikus-Kelana.jpg)