Ternyata Begini Bedanya Gejala Covid-19 Varian Omicron dengan Varian Delta

Varian baru, Omicron, telah digambarkan "sangat ringan" oleh dokter Afrika Selatan yang memperingatkan dunia tentang varian ini.

Editor: AbdiTumanggor
Ist
Varian baru Omicron masuk Eropa 

Diperlukan beberapa waktu untuk benar-benar memahami apa gejala spesifik, jika ada, yang berperan bagi varian Omicron dalam skala lebih luas.

Gejala Covid-19 telah berubah sejak virus muncul di China akhir 2019, menurut pakar yang melacak penyakit ini.

Varian Alpha dan Delta yang pertama kali ditemukan di Inggris dan India, terbukti menimbulkan gejala berbeda.

Contohnya adalah varian Delta memberi gejala lebih sering pusing, hidung meler dan demam.

CDC Amerika Serikat (AS) menggarisbawahi variasi gejala Covid-19 yang telah dilaporkan, mencatat jika "siapapun bisa memiliki gejala ringan sampai parah" yang akan tampak 2-14 hari setelah paparan virus.

Daftar gejala dalam daftar CDC termasuk demam atau menggigil, batuk, pusing, napas pendek atau sulit bernapas, nyeri tubuh atau nyeri otot, sakit kepala, kehilangan indra pembau atau perasa, sakit tenggorokan, hidung meler, mual atau muntah dan diare.

Sejumlah negara kini secara sementara melarang izin bepergian dari beberapa negara-negara Afrika bagian selatan di mana varian telah ditemukan, gerakan yang disebut "spontan dan kejam" oleh menteri kesehatan Afrika Selatan Jumat kemarin.

Ditanya oleh Andrew Marr dari BBC apakah negara-negara seperti Inggris, AS, Israel dan Uni Eropa "panik tanpa dasar," Coetzee menekankan jika varian omicron telah kemungkinan menyebar ke negara-negara tersebut.

"Kurasa Anda sudah memilikinya di sana di negara Anda tanpa Anda ketahui sehingga untuk sekarang saya akan mengatakan, pasti. Dua minggu berikutnya, mungkin kami akan mengatakan hal berbeda," tambahnya.

Margaret Harris, juru bicara bagi WHO, mengatakan kepada CNBC Monday jika "kita harus berterima kasih kepada Afrika Selatan" yang telah menekan tombol alarm mengenai varian baru, yang telah ditemukan di Inggris, Perancis, Israel, Belgia, Belanda, Jerman, Italia, Australia, Kanada, dan Hong Kong, tapi tidak di AS.

Harris mengatakan WHO tidak senang melihat larangan bepergian tapi memahami jika negara-negara itu memerlukan langkah berhati-hati berdasarkan situasi epidemiologi mereka dan analisis berdasarkan risiko dari data yang ada.

Lembaga kesehatan milik PBB tersebut mengatakan Senin ini jika varian Delta masih bertanggungjawab atas sebagian besar infeksi yang terjadi saat ini secara global dan masih menjadi kekhawatiran terbesar.

"Lebih dari 99% kasus di seluruh dunia disebabkan oleh varian Delta dan lebih banyak kematian terjadi bagi pasien yang belum divaksin," ujar Kepala Ilmuwan WHO Soumya Swaminathan kepada CNBC.

"Kurasa itulah prioritas kami sementara kami menunggu melihat lebih dari varian Omicron."

Baca juga: Inilah 6 Fakta Varian Baru Virus Corona Omicron Bikin Dunia Waspada, Dapat Picu Gelombang Ketiga

Baca juga: Berikut 7 Fakta Siswi SMA di Salatiga Ribuan Kali Berhubungan Badan dengan Papanya Selama 12 Tahun

(*/Tribunmedan/ Intisari)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved