Cimpa, Panganan Manis Khas Suku Karo, Terdiri dari 3 Jenis

Cimpa sendiri, merupakan salah satu menu atau panganan penting di setiap kali pelaksanaan kegiatan acara adat masyarakat suku Karo.

Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
HO
Cimpa Tuang, Pancake Lezat Ala Suku Karo 

TRIBUN-MEDAN.com, KARO - Setiap daerah di Indonesia, memiliki berbagai budayanya masing-masing yang kaya.

Selain budaya adat istiadat, semua daerah juga memiliki ciri khasnya masing-masing melalui kuliner asli daerah itu sendiri.

Seperti halnya di Kabupaten Karo, di kabupaten yang juga disebut dengan Bumi Turang ini memiliki banyak panganan khas yang menjadi andalan, salah satunya adalah cimpa.

Baca juga: Manfaat Buah Naga untuk Kecantikan, Meremajakan Kulit hingga Menjaga Keindahan Rambut

Cimpa sendiri, merupakan salah satu menu atau panganan penting di setiap kali pelaksanaan kegiatan acara adat masyarakat suku Karo.

Cimpa merupakan makanan berupa camilan yang terbuat dari bahan dasar beras ketan, merah atau putih.

Di dalam adonan beras ketan ini, dimasukkan adonan lainnya berupa kelapa parut yang telah dicampur dengan gula merah.

Sehingga, saat dinikmati cimpa ini sendiri memiliki rasa khas yang dominan manis. Cimpa ini, biasanya dimasak dengan menggunakan teknik dikukus.

Baca juga: PPKM Level 4 di Medan Diperpanjang, Wali Kota Bobby Bolehkan Makan di Tempat Bagi Pedagang UMKM

Berdasarkan informasi yang didapat, cimpa sendiri terdiri dari tiga jenis.

Yaitu cimpa unung, cimpa tuang, dan cimpa matah. Perbedaan yang paling jelas dari ketiga jenis penanganan ini, ialah bagaimana cara cimpa tersebut dimasak.

Untuk cimpa unung sendiri, terbuat dari adonan beras ketan yang diisi dengan bahan berupa adonan kelapa parut yang dicampur dengan gula merah. Nah untuk cimpa unung ini, proses memasaknya adonan yang telah dibungkus menggunakan daun ini, dilakukan dengan cara dikukus selama 20 hingga 30 menit.

Jenis cimpa ini adalah yang paling lazim digunakan dalam acara-acara adat Karo. Dalam acara merdang merdem, cimpa unung adalah salah satu makanan utama yang harus disediakan.

Kemudian, untuk jenis cimpa yang kedua yaitu cimpa tuang memiliki teknis memasak yang berbeda dari cimpa sebelumnya.

Untuk cimpa tuang, semua bahan seperti beras ketan, sagu, telur, kelapa, dan gula merah dicampur menjadi satu adonan.

Setelah itu, adonan tersebut digoreng diatas panci yang sudah diolesi daging lemak sapi.

Baca juga: Kenapa Minions Tetap Juara Grup Walau Kalah di Pertandingan Terakhir

Jenis cimpa ini biasanya disediakan sebagai bekal atau oleh-oleh. Pembuatannya lebih mudah dan penyajiannya tidak serumit cimpa unung.

Selanjutnya, untuk cimpa ketiga yaitu cimpa matah proses pembuatanya lebih jauh berbeda dari dua jenis cimpa sebelumnya.

Dalam pembuatana cimpa matah, beras ketan, kelapa, gula merah ditumbuk jadi satu. Hasilnya disediakan dalam bentuk bubuk dan disediakan di atas piring. Biasanya cimpa ini dimakan untuk acara harian saja.

Menurut masyarakat, cimpa merupakan salah satu makanan yang sangat penting bagi suku Karo terlebih saat pelaksanaan kegiatan adat.

Cimpa harus dihadirkan saat berlangsungnya acara pesta adat pernikahan, kerja tahun atau merdang merdem, dan kematian.

Baca juga: Niat Ingin Bersihkan Kamar Putranya, Wanita Ini Kaget Temukan Hal tak Terduga di Kolong Tempat Tidur

Jika dalam salah satu acara adat tersebut tidak dihadirkan cimpa, maka acara tersebut dianggap kurang dan tidak sempurna.

Pada awalnya, cimpa dihadirkan hanya pada saat acara kerja tahun atau merdang merdem suatu desa saja.

Pembuatan cimpa tersebut dilakukan pada hari ke enam, pada saat kerja tahun atau merdang merdem. Cimpa disediakan di setiap rumah, di suatu kampung yang sedang melaksanakan kerja tahun.

(cr4/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved