Terbongkar Niat Busuk Perang Senjata Biologi, Muncul Tudingan China Curi Data Laut Indonesia
China yang dituduh menyiapkan virus corona sebagai senjata dalam perang biologi terus diselidiki
Misi ini akan membuat China bisa "mempelajari peta geografi militer kemaritiman di kawasan itu sekaligus memperluas kerja sama internasional dan pengaruh mereka dalam hal misi penyelamatan," kata pakar tersebut.
Selat Lombok disukai oleh kapal selam bersenjata nuklir karena daerah itu punya perairan cukup dalam dan tidak seramai Selat Malaka.
Selain itu kapal di sana tidak diharuskan memperlihatkan bendera ketika sedang melintas. Perairan itu juga sering dipakai lalu lintas barang oleh Australia.
Australia memahami AS juga menawarkan bantuan tapi mereka tidak mau secara cuma-cuma.
Sejumlah ahli memperkirakan biaya pengangkatan kapal selam itu bisa mencapai USD 200 juta atau setara Rp 2,8 triliun mengingat lokasi kapal selam itu tenggelam cukup dalam.
Pengamat keamanan kawasan Malcolm Cook mengatakan kepada The Australian, ini kali pertama China--yang bukan negara dengan tradisi maritim membantu operasi penyelamatan semacam ini--tidak seperti AS, Australia, dan Jepang--"akan memberikan bantuan kepada Indonesia di tengah situasi semacam ini."
"Kalau Anda ingin membeberkan cara bagaimana meningkatkan kekuatan diplomasi China di Indonesia, maka saya tidak tahu cara lain yang lebih baik dari ini," kata Cook.
"Selat Lombok adalah kawasan yang sangat penting bagi lalu lintas kapal selam dan itu menjadi kegiatan yang sensitif dan sulit dilacak.
"Jika mereka bisa memetakan daerah itu maka mereka bisa punya informasi yang lebih baik tentang kondisi terkini dasar laut dan arus di Selat Lombok dan itu bisa menguntungkan bagi kapal selam China.
Jika mereka juga bisa memasang alat sensor di selat itu maka mereka bisa melacak siapa saja yang melintasi kawasan itu dan itu bisa merugikan."
(*/ Tribun-Medan.com)
Sumber: Fotokita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/a-chinalautjpg-20210509021946.jpg)