Kabar Terkini Eropa dan Asia Tenggara di Ambang Perang, Wilayah Mana Difokuskan Amerika Serikat?
Rusia telah mengirim pasukan militernya menuju perbatasan timur Ukraina dan ke Semenanjung Krimea (daratan besar antara Ukraina dan Rusia).
Eropa di Ambang Perang Dunia III, Selain Kirim Lebih 80.000 Tentara ke Perbatasan Rusia-Ukraina, Vladimir Putin Juga Kerahkan Tank hingga 10 Kapal Perang. Sedangkan Asia Tenggara Juga Semakin Memanas di Tengah Agresif China di Laut China Selatan.
TRIBUN-MEDAN.COM - Rusia telah mengirim pasukan militernya menuju perbatasan timur Ukraina dan ke Semenanjung Krimea (daratan besar antara Ukraina dan Rusia).
Tapi Kremlin belum memberikan rincian tentang unit-unit militer mana saja yang terlibat.
Sementara juru bicara Presiden Vladimir Putin Dmitry Peskov mengatakan memindahkan pasukan itu sebagai urusan internal yang seharusnya tidak menjadi perhatian siapa pun.
Tapi faktanya situasi memanas di perbatasan.
Sumber intelijen Ukraina mengatakan kepada BBC bahwa pasukan tambahan yang hadir membentuk 16 kelompok taktis batalion, yang berarti ada hingga 14.000 tentara Rusia.
Dilansir dari express.co.uk pada Rabu (13/4/2021), total Rusia sekarang memiliki sekitar 40.000 tentara di perbatasan timur Ukraina dan 40.000 lainnya di Krimea.
Ini menurut kepresidenan Ukraina.
Melihat konflik dua negara semakin panas, ada kekhawatiran Benua Eropa akan terjerumus ke dalam perang besar lainnya.
Michael McFaul, duta besar Amerika Serikat (AS) untuk Rusia antara 2012 dan 2014 ketika Rusia mencaplok Krimea, mengatakan bahwa Ukraina tidak akan ragu untuk menanggapi jika serangan diluncurkan.
“Jika itu terjadi, pemerintah Ukraina dan tentara Ukraina akan menanggapinya," kata Dubes AS McFaul.
"Jika terjadi, maka kita harus bersiap ada perang di Eropa antara dua tentara yang sangat tangguh."
Amerika Serikat tidak akan membiarkan Rusia menyerang Ukraina. Sejumlah alat tempur telah dikirim ke Semenanjung Krimea.
Ketegangan makin memanas ketika presenter berita Rusia Dmitry K tepatnyaov mengatakan bahwa negaranya satu langkah untuk memulai perang.
Bahkan K tepatnyaov juga mencap Ukraina sebagai negara 'Nazi'.
Selain 80.000 tentara yang ditempatkan Rusia di perbatasan Ukraina dan Krimea, mereka juga telah mengirim tank, artileri, kendaraan pengangkut lapis baja, dan kendaraan pendukung.
Ini adalah pertama kalinya Rusia meningkatkan kehadirannya secara drastis sejak mencaplok Krimea tujuh tahun lalu.
Berbagai laporan lokal dan internasional yang muncul selama beberapa hari terakhir menunjukkan bahwa Presiden Putin telah mengerahkan brigade udara dari perbatasan Estonia dan mengirim 10 kapal angkatan laut untuk memperkuat armada Laut Hitam.
Sebagai tanggapan, AS telah mengumumkan akan mengirim dua kapal perang ke Laut Hitam.
Ketegangan itu adalah yang paling tinggi sejak 2015, pada saat aneksasi Krimea.
Kondisi ini langsung membuat negara Uni Eropa (UE) panik.
Kanselir Jerman Angela Merkel bahkan langsung meminta dukungan militer untuk berjaga-jaga.
Sementara Menteri Luar Negeri Dominic Raab mentweet bahwa Inggris setuju dengan sikap AS.
Dia juga meminta Rusia untuk menarik pasukannya.
Walau begitu, Kremlin meyakinkan negara lain bahwa pemerintah Rusia tidak merencanakan perang habis-habisan dengan Ukraina.
"Rusia tidak berencana untuk bergerak ke arah perang dan tidak ada juga yang menerima kemungkinan perang saudara di Ukraina," kata Juru bicara Peskov.
Akan tetapi Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky tidak mempercayainya. Demikian yang dilansir dari Intisari yang berjudul:Eropa di Ambang Perang Dunia III, Selain Kirim Lebih 80.000 Tentara ke Perbatasan Rusia-Ukraina, Vladimir Putin Juga Kerahkan Tank hingga 10 Kapal Perang untuk Kepung Wilayah Ini
Asia Tenggara di Ambang Perang Gegara Sengketa Laut China Selatan, Menhan AS Telepon Menhan Prabowo
Sama halnya dengan di Asia Tenggara semakin memanas. Angkatan bersenjata Filipina sedang menyelidiki laporan yang menyebut bahwa kapal militer China mengejar kapal sipil yang membawa wartawan Filipina di Laut China Selatan.
Hal itu diungkapkan militer Filipina pada Jumat (9/4/2021) sebagaimana dilansir AFP.
Awalnya, seorang awak media ABS-CBN Filipina sedang melakukan perjalanan ke Second Thomas Shoal di Kepulauan Spratly yang diperebutkan pada Kamis (8/4/2021).
Tiba-tiba, kapal yang ditumpangi jurnalis tersebut dikejar oleh sebuah kapal Penjaga Pantai China dan dua kapal tempur cepat milik angkatan laut China.
Ketegangan di peraiwan yang kaya sumber daya tersebut telah meningkat dalam beberapa pekan terakhir.
Pasalnya, ratusan kapal China terdeteksi di Whitsun Reef, yang juga berada di kepulauan Spratly.
China, yang mengeklaim hampir seluruh Laut China Selatan, berulangkali menolak permintaan Filina untuk menarik kapal-kapalnya dari sana.
Filipina beralasan, ratusan kapal China tersebut telah memasuki zona ekonomi eksklusif (ZEE) mereka secara tidak sah.
Juru Bicara Angkatan Bersenjata Filipina Mayor Jenderal Edgard Arevalo mengungkapkan keprihatiannya atas laporan mengenai pengejaran terhadap jurnalis tersebut.
"Melalui Komando Barat Angkatan Bersenjata Filipina, kami melakukan penyelidikan dan verifikasi untuk mengambil tindakan ke depan,” sambung Arevalo yang dilansir dari Kompas.com.
ABS-CBN mengatakan, kapal yang membawa krunya diminta oleh kapal Penjaga Pantai China untuk mengidentifikasi dirinya.
Setelah itu, kapal tersebut melambat dan berbalik. Namun, tiba-tiba muncul dua kapal yang bergerak sangat cepat dari cakrawala.
"Dalam beberapa menit, bentuk dan desain unik dari kapal tempur cepat Tipe 22 Houbei menjadi terlihat. Kedua kapal berkemampuan rudal tersebut melanjutkan pengejaran," lapor ABS-CBN.
Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin mengatakan bahwa laporan itu mengkhawatirkan.
Dalam percakapan telepon pada Jumat, Locsin dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken menyatakan keprihatinan atas kehadiran kapal-kapal China di Laut China Selatan.
Pada Rabu (7/4/2021), AS mengingatkan China bahwa Washington akan bergerak jika Beijing menyerang Filipina.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan pada Jumat bahwa AS harus berhenti menyebarkan perselisihan.
Lijian mengatakan, AS seharusnya mengizinkan negara-negara kawasan Laut China Selatan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Nelayan China memasuki Laut China Selatan dikawal kapal penjaga pantai China (afp)
Kapal-kapal berbendera China di Laut China Selatan. (Eksekutif Marinetime) (Eksekutif Marinetime)
Angkatan Laut China Dikabarkan Kejar Kapal Filipina
Sebelumnya diwartawakan, Kapal angkatan laut China mengejar sebuah kapal sipil yang membawa awak media Filipina.
Dilansir dari Bloomberg pada Jumat (9/4/2021), Penyiar lokal ABS-CBN mengklaim Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China mengerahkan dua kapal yang membawa rudal untuk mengusir kapal sipil Filipina saat melakukan perjalanan melintasi terumbu karang dan beting dekat dengan provinsi pulau Palawan.
Laporan tersebut menambahkan bahwa tindakan pengejaran antara kapal bersenjata dengan kapal sipil baru pertama kali terjadi.
Setelah itu, tentara China memberikan peringatan lewat radio lalu mengejar mereka selama satu jam.
“Kapal perang China nomor 5101 dengan dua kapal rudal kelas Houbei muncul semakin dekat sehingga terlihat dengan mata telanjang. Terkadang berlayar di samping kapal sipil Filipina," menurut laporan tersebut seperti dikutip, Jumat (9/4/2021) .
"Kami khawatir atas keselamatan warga sipil tak bersenjata di laut," kata juru bicara Departemen Pertahanan Nasional FIlipina Arsenio Andolong dalam sebuah pernyataan pada Jumat.
Filipina telah mengarahkan angkatan bersenjata untuk menyelidiki masalah tersebut.
Sebelumnya, dalam percakapan telepon antara Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken dan Menteri Luar Negeri Filipina Teodoro Locsin, membahas kekhawatiran tentang kemunculan milisi maritim China di perairan sengketa, termasuk Whitsun Reef.
Mereka mengulangi seruan agar China mematuhi putusan arbitrase 2016 yang dikeluarkan sesuai dengan Konvensi Hukum Laut. Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan kapal ikan yang disebut AS sebagai "milisi maritim" tidak benar. Dia mengatakan kapal itu normal dan sah.
Ketegangan antara China dan Filipina meningkat dimulai ketika ratusan kapal ikan China terlihat di Whitsun Reef sehingga memicu protes dari Manila.
AS menyebutnya sebagai tindakan yang mengintimidasi, memprovokasi, dan mengancam negara lain.
Sementara China berkilah mengatakan bahwa kapal-kapal itu hanya berlindung dari cuaca buruk di laut.

Sebelumnya, China - Singapura Gelar Latihan Perang Bersama di LCS
Dalam pewartaan sebelumnya, Angkatan laut China dan Singapura menggelar latihan bersama di Laut China Selatan yang disengketakan pada Rabu (24/2/2021) lalu.
Kementerian Pertahanan China mengumumkan latihan tersebut melalui sebuah pernyataan sebagaimana dilansir dari Anadolu Agency.
Juru Bicara Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China Gao Xiucheng mengatakan, latihan tersebut mempraktikkan latihan formasi, manuver, dan pemisahan armada kapal.
Selain itu, latihan tersebut juga mencakup komunikasi, pencarian, penyelamatan, dan operasi lainnya. “Latihan tersebut merupakan hasil dari konsensus yang dicapai oleh angkatan laut kedua negara,” ujar Gao.
Dia menambahkan, latihan tersebut bertujuan untuk meningkatkan rasa saling percaya, memperdalam persahabatan, dan mempromosikan kerja sama.
“Juga bersama-sama mempromosikan pembangunan komunitas maritim bersama di masa depan,” sambung Gao.
Latihan tersebut dilakukan ketika AS, bersama dengan sekutunya Australia, Jepang, Korsel, Filipina, Taiwan, dan India, melanjutkan upaya untuk mengekang pengaruh Beijing yang semakin meluas di wilayah tersebut. Sementara, China, Korut, Rusia dan Singapura terlibat dalam latihan perang bersama. Sementara, hubungan Malaysia dan Korea Utara, juga sedang memanas-manasnya.
Laut China Selatan meliputi area seluas sekitar 3,5 juta kilometer persegi dan Beijing mengeklaim kedaulatannya atas sekitar 90 persen dari perairan tersebut.
Beberapa negara seperti Brunei, Kamboja, China, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Taiwan, Thailand, dan Vietnam memiliki klaim teritorial yang tumpang tindih di wilayah tersebut.
Peneliti senior di PLA Naval Military Studies Research Institute Zhang Junshe mengatakan, Laut China Selatan adalah jalur pelayaran internasional yang penting dengan 100.000 kapal dari berbagai negara melewatinya setiap tahun. Baca juga: TERNYATA Laut China Selatan Bisa Hasilkan Rp 71.957 Triliun Per Tahun, Pantasan China Ngotot
Indonesia Bisa Jadi Penengah Ketegangan di Laut China Selatan, Menhan AS Telepon Menhan RI Prabowo
Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Lloyd Austin berbincang dengan Menteri Pertahanan Indonesia Prabowo Subianto melalui sambungan telepon.
Pembicaraan tersebut dilangsungkan untuk menegaskan kembali pentingnya hubungan pertahanan bilateral sebagaimana pers rilis dari Kementerian Pertahanan AS, Rabu (31/3/2021).
Dalam pembicaraan tersebut, kedua menteri pertahanan ini membicarakan beberapa hal termasuk membahas isu keamanan regional.
Isu keamanan yang dimaksud meliputi situasi yang menantang di Laut China Selatan sreta kerja sama pertahanan bilateral.
Sekretaris Pers Kementerian Pertahanan AS John Kurby mengatakan, Austin menekankan pentingnya mengembangkan hubungan pertahanan antara Jakarta dan Washington.
Austin juga menyoroti pentingnya latuhan antar-angkatan darat, Garuda Shield, yang dijadwalkan berlangsung pada Agustus.
“(Latihan Garuda Shield) sebagai kesempatan untuk membangun interoperabilitas yang lebih besar antara angkatan bersenjata,” kata Kirby.
Melalui akun Twitter-nya, Austin mengetwit bahwa dia dan Prabowo melakukan percakapan yang hangat.
“Kami membahas keamanan maritim di kawasan dan peluang untuk meningkatkan kerja sama pertahanan bilateral kami,” tulis Austin di Twitter.
Dalam kesempatan itu pula, Kirby menuturkan bahwa Prabowo mengucapkan selamat kepada Austin karena menduduki jabatan sebagai Menteri Pertahanan AS yang baru.
Di satu sisi, Austin juga mengungkapkan belasungkawa atas aksi terorisme baru-baru ini di Makassar dan Jakarta.
Diberitakan sebelumnya, Filipina menuduh China telah mengerahkan ratusan kapal “milisi” di Laut China Selatan.
Korps Penjaga pantai Filipina mendeteksi kapal-kapal itu dalam formasi barisan di Whitsun Reef yang berbentuk bumerang, sekitar 320 kilometer sebelah barat Pulau Palawan pada 7 Maret.
"Ini tindakan provokatif yang jelas untuk memiliterisasi wilayah tersebut. Ini wilayah dalam Zona Ekonomi Eksklusif Filipina," kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana dikutip dari AFP.
(*/tribunmedan.id/ Kompas.com)
Baca juga: Taiwan Nyatakan Siap Perang dengan China, Filipina Siap Siaga, Kapal Induk AS Merapat
Baca juga: Amerika Kirim Kapal Induk, Peringatkan China Jangan Macam-macam Terhadap Filipina dan Taiwan
Baca juga: China Semakin Merajalela Menguasai Laut China Selatan, Bangun Pulau Kota Terbesar di Dunia, AS Marah
Baca juga: Tak Terelakkan Lagi, Cepat atau Lambat Indonesia Akan Hadapi China di Laut China Selatan
Baca juga: China Bunyikan Lonceng Peringatan Perang di Laut China Selatan, Amerika dan Sekutunya Siap Siaga
Baca juga: Saat AS dan Sekutunya Kepung Laut China Selatan, China Kontak Vietnam, Rusia dan Afrika Selatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/presiden-china-xi-jinping-dan-presiden-rusia-vladimir-putin.jpg)